Di malam keempat setelah pemakaman, Seno duduk di balkon kecil penginapannya. Cangkir teh yang tak lagi hangat dibiarkan begitu saja. Raisa telah tidur. Dan di langit, kabut tipis merayap perlahan, menyelimuti bulan yang enggan menampakkan wajahnya. Angin membawa aroma bunga yang tak pernah tumbuh di tanah Amsterdam. Bunga itu hanya tumbuh di ingatan: melati, dan sedikit anyelir.
Tiba-tiba ada ketukan pelan di pintu. Bukan keras, bukan tergesa, seperti sentuhan seseorang yang tahu kapan harus tiba dan kapan harus pergi.
Seno membukanya. Tapi tak ada siapa pun. Hanya angin. Hanya malam.
Namun di bawah pintu, terselip secarik kertas tua. Warna kuningnya seperti kulit waktu yang telah menua. Dengan tangan gemetar, Seno membukanya.
"Ik wacht op je bij de boom waar we voor het eerst onze namen schreven."
(Aku menunggumu di pohon tempat pertama kali kita menulis nama kita.)
Jantungnya berdetak tak seperti biasanya. Ia mengenal tulisan itu. Meskipun dunia bisa memalsukan banyak hal, ia tahu, tulisan itu milik Annalise. Tinta kenangan tak pernah benar-benar pudar.
Esok harinya, ia berjalan ke taman kecil di pinggiran Amsterdam. Ada satu pohon tua di sana, dikelilingi bangku tua yang berderit bila diduduki. Di batang pohon itu, samar, ada dua inisial: S dan A. Seno masih ingat, mereka pernah mengukirnya di pohon yang serupa di Surabaya. Tapi pohon itu telah tumbang dalam kerusuhan bertahun silam.
Ketika ia duduk di bawahnya, angin berhenti. Dan di seberang jalan, berdiri seorang perempuan mengenakan gaun krem seperti yang Annalise kenakan malam terakhir mereka bercumbu di Pegirian. Wajahnya tak sepenuhnya terlihat, namun aura itu... tak pernah ia lupakan.
Ia ingin berteriak, ingin berlari... namun langkahnya berat, seperti ditahan oleh bumi yang tahu bahwa yang datang bukan dari dunia yang sama lagi.
Perempuan itu tersenyum. Bibirnya bergerak pelan.
"Ik ben nooit echt weggegaan."
(Aku tak pernah benar-benar pergi.)
Kemudian ia menghilang, tidak seperti hantu, tapi seperti kabut yang kembali menyatu dengan udara.
Seno terduduk. Air matanya bukan duka, tapi pelepasan. Untuk pertama kalinya sejak tahun 1922, ia merasa bebas dari waktu.
Raisa menemukan ayahnya keesokan paginya, duduk tenang di bawah pohon itu, dengan senyum yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Di pangkuan Seno, ada lukisan kecil, siluet Annalise, tapi kali ini, wajahnya tak lagi diselimuti kabut.
Di pojok lukisan itu, tertera tulisan kecil:
"Kita akan bertemu lagi, di waktu yang tak memiliki jam."
Dan Raisa tahu... cinta mereka belum selesai. Hanya beralih ke dimensi lain, tempat waktu tak bisa memisahkan, tempat dendam tak bisa hidup, tempat di mana kabut hanyalah selimut lembut, bukan lagi tirai perpisahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Annalise
Short StoryAnnalise Dwight Rossevelt hadir seperti senja yang tak pernah benar-benar selesai, berdiri di antara cahaya dan gelap dengan tubuh tinggi semampai dan mata biru yang menyimpan kedalaman tak terjamah. Rambutnya mengalir seperti bunga matahari yang di...
