Deel Twaalf

47 3 1
                                        

Kasih dan kisah yang takkan berujung, kepadatan molekul air menjadi bongkahan es juga mendefinisikan bagaimana suatu peristiwa dapat berubah, berjalan, dan berdiri di kaki sendiri. Ada makna yang terselip dari proses tersebut bergantung bagaimana cara kita melihat, dari kiri atau dari kanan, atau bahkan dari tengah, mungkin dari atas, mungkin juga dari bawah, semua bergantung pembaca. Annalise perempuan keturunan Belanda yang mulai masuk kehidupanku dari dua tahun lalu, beberapa kali dia masuk ke dalam mimpi, beberapa kali juga dia nampak pada maujud sempurna seorang perempuan. Dari mataku dia hanya perempuan yang ingin menempati posisi utama dalam kehidupan, terlepas dari ketegasan keluarganya dan saudaranya. Annalise merupakan perwujudan rasa cinta yang dinistakan oleh nafsu, dia beranjak menelusuri akar yang tertanam di bawah jalan setapak nan curam, dia tidak bisa kembali dari pergulatan sosial, batin, adat, keluarga, asmara, bahkan rana politik.

Annalise perempuan berusia 19 pada 14 Desember tahun 1924, dia melihat dunia ketika senandika beranjak pergi dan gelap telah menyelimuti seluruh penjuru negeri. Sementara Annalise sudah tidak bersekolah lagi, dia hanya diperbudak oleh kebangsatan dan keserakahan laki-laki terkait dengan tugas perempuan sebagai pemuas birahi, tapi Ann menolak paham yang ditanamkan oleh saudaranya Robert. Ann, berkecamuk dengan batinnya bahwa dia harus melawan. Sekeras apapun Robert harus dilawan, bagaimanapun caranya, bagaimanapun keadaannya, bagaimanapun kondisinya, tekad Ann sudah bulat, semangatnya berkobar, dendamnya sudah menghitam. Dari sini Ann menyusun strategi untuk melukis darah-darah di dinding, dengan tujuan teror kepada Robert.

Setelah rencana yang dipikirkannya usai, Ann bergegas mencari sebilah belati dan mencari seekor ayam untuk ditumbalkan pada dinding rumah yang menjadi saksi bisu keterpurukan Annalise. Dia menemukan seekor ayam di belakang rumahnya, ditangkap lalu dibawa ke kamar pengantin yang sudah lusuh dan langsung saja digorok leher itu menuntuskan darah-darah segar yang dia cari, dan langsung ditumpahkan begitu saja dilantai. Ann menulis dengan telapak tangannya di dinding, "De dood wacht. (Kematian sudah menanti)"

*1
Seno bergegas menuju ke sekolah, dengan berbagai kalangan Seno tetap bisa menikmati keindahan sosial yang nampak dari perwujudannya eksistensinya di sekolah tersebut. Seno tetap optimis seperti sediakala dengan senyum yang khas dari pribumi lesung pipi diwajahnya selalu menghiasi ketika berbicara, tertawa, tersenyum, menangis, bahkan saat dia marah. Bagaimana tidak, Seno merupakan salah satu pribumi yang bisa bersekolah dengan bantuan jabatan fungsional bapaknya. Dengan begitu semua kebutuhan Seno terpenuhi, baik dari perlengkapan sekolah, buku, kanvas, cat, dll.

Seno masih melakukan aktivitas dengan baik, tanpa ada hambatan sedikitpun. Ketika suasana hati Seno sedang buruk, dia mengingat beberapa momen saat bersama Ann. Terkadang senyum itu berkumandang, terkadang cacian yang dilontarkan. Bergantung Seno dia menganggap Ann bagaimana, karena Seno sudah diabaikan lebih dari satu tahun dan sejak saat itu Annalise tidak pernah terlihat sekalipun dan di tempat biasanya mereka memertemukan rindu tetap tidak ada maujud yang dicari-cari itu.

*2
Ratna Tri Rahayu, teman masa kecil Seno yang sudah mengetahui bagaimana dan mengapa Seno hancur lebur di beberapa malam semenjak hari itu, tepatnya empat ratus tiga puluh tujuh malam Ratna mendengar ocehan Seno tentang Annalise seorang perempuan yang meleburkan diri dengan bumi. Bagaimana tidak, Ratna dengan sabarnya mendengarkan berbagai cerita tentang Annalise dengan versi yang berbeda dari Seno. Bagaimana tidak hancur, Annalise tidak mengucapkan apapun dan tidak merespon ketika Seno menghampiri rumahnya. Sungguh tragis kisah dan kasih Seno dan Annalise. Ratna pun tidak ingin kalah untuk mendapatkan hati Seno, jiwa dan raga siap dipertaruhkan demi Seno, pikiran Ratna yang terlalu sempit untuk memiliki seorang laki-laki bernama Seno.

Setiap hari Ratna menawarkan tubuhnya kepada Seno, terkadang ada respon dari Seno lalu mereka bercumbu dengan penuh isi, terkadang juga tidak ada respon dari Seno yang mencampakkan Ratna yang sudah menelanjangi tubuh bagian atas. Ahhh sudahlah, permasalahan hati tidak akan ada habisnya.

#intermeso

Suatu ketika Ann pernah mengunjungi Seno ditempat mereka pernah kencan dan bercumbu di sana. Ada yang tahu di mana? Ya di dekat kali Pegirian ada penginapan untuk turis asing saat itu, mereka menyewa untuk satu malam, dan percakapan apa yang terjadi? Ada yang tahu?

"Gaan we verder met Seno? (Apakah kita akan terus bersama Seno?)" Dengan wajah penuh harap bahwa waktu bisa mereka genggam.

Sembari tersenyum dan menyibak rambut Annalise, "Ik zal bij je blijven, zelfs als de wereld wordt vernietigd. (Aku akan bersamamu walau dunia hancur sekalipun)"

Mendengar jawaban itu Annalise mengecup bibir Seno dan berkata, "Neem me in je ribben zodat ik je kan vergezellen zolang we nog staan ​​en ademen in dit land. (Bawa aku ke dalam tulang rusukmu agar aku bisa menemanimu selama kita masih berpijak dan bernafas di negeri ini.)

Selayang Pandang
Semua terukur dan terukir
Bagaimana tidak mereka hanya manusia yang egois
Dengan dahli bersama, apakah itu bisa disebut selamanya?

Gurau, canda, tawa, tangis, caci dan maki, sebuah pelukan, pertemuan, kecupan, asmara, bahkan birahi. Bersatu padu di setiap hubungan, entitas tersebut yang diperinci oleh tindakan dan permasalahan yang kompleks.

Dari hilir ke hulu, setelah berenang kalian akan kelelahan maka istirahat adalah jalan untuk melepas bagaimana lelah bisa ditaklukkan dan bagaimana amarah bisa dikendalikan dengan menenangkan pikiran.

Sekarang bagaimana cara kalian bertaut dengan detak jantung setiap orang di sisi kalian dan bagaimana cara kalian mengisi hal yang rumpang di akar pikiran kalian, lalu jangan lupa bersorai untuk janji-janji di masa depan yang sudah direncanakan dan akan dilaksanakan untuk proses kalian beranjak dewasa dan ketika masalah itu datang menghampiri jangan lupa taruh, perjalanan jauh itu seperti takdir yang kalian tulis dalam bentuk kebebasan ingatan. Adakalanya kalian menangis di jalan pulang tapi bukan untuk menunjukkan tarian yang tak kunjung selesai tapi permasalahan kalian yang dirujuk untuk pulih, jangan terbawa emosi untuk memutuskan hubungan kalian dan, selesai.

Selamat jalan, kupergi duluan.
Kau kan menyusulkan?
Jangan lama-lama.
(dan, selesai. Nadin Amizah)

Bunga Edelweis pun layu sebelum waktunya, di telaga warna Surabaya, 21 Juli 2022.

AnnaliseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang