Malam Terakhir, Amsterdam

11 3 0
                                        

Malam itu, hujan turun seperti kesedihan yang tak bisa dicegah. Di sebuah rumah tua berhalaman kecil di Surabaya, Annalise berdiri menatap jendela yang basah. Di belakangnya, bayangan Robert membayang, seperti kutukan masa lalu yang menolak pergi. Ia bukan lagi tamu, bukan pula kekasih, melainkan penjaga sel yang memegang kunci atas hidupnya.

Seno belum pulang dari pameran lukisan di Malang. Ia tak tahu bahwa sejak dua pekan lalu, Annalise telah dijebak. Robert muncul dengan senyum basa-basi dan surat-surat tua bertanda tangan kompeni. Dengan cara yang licik, ia menjerat keluarga Van Linde dalam jerat hukum kolonial: surat perjanjian tanah, kesepakatan dagang, dan catatan hutang masa lampau. Semua itu bisa saja diserahkan ke pengadilan, dan kehormatan keluarga akan runtuh. Kecuali… Annalise setuju untuk “menemani” Robert selama ia di Hindia.

Annalise mengiyakan demi menyelamatkan keluarganya. Tapi tubuh yang dipaksa tak bisa mencintai, dan jiwanya mulai retak. Malam demi malam ia harus memuaskan seorang lelaki yang tak pernah benar-benar ia kehendaki. Dan setiap kali Robert selesai dengan buasnya, Annalise bergegas mandi, mencuci tubuhnya dengan sabun hingga berdarah, berharap bisa menghapus dosa yang bukan berasal darinya.

Ratna, teman masa kecil Seno, satu-satunya yang tahu derita Annalise, pernah bertanya dengan suara rendah, “Mengapa kau diam?”

Dan Annalise menjawab, “Karena diam adalah satu-satunya ruang yang tak dijaga.”

Robert bukan hanya ingin tubuh, tapi juga pengaruh. Ia tahu, perempuan secerdas Annalise bisa jadi alat diplomatik. Maka saat surat dari Amsterdam datang—berisi perintah dari keluarga Van Linde untuk memulangkan Annalise—Robert mengubahnya menjadi tekanan. Ia memaksa Annalise kembali ke Amsterdam, membawa serta warisan sejarah, nama baik, dan luka yang tak bisa dibagi.

Seno tak tahu apa-apa. Ketika ia kembali, rumah itu kosong. Tak ada catatan, tak ada salam, hanya satu helai syal biru yang tertinggal di gantungan. Ratna mencoba mengejar ke pelabuhan, tapi kapal sudah berangkat. Seno mencari bertahun-tahun, mengirim surat ke Belanda, ke Batavia, ke manapun, tapi tak pernah menerima balasan.

Sementara itu, di Amsterdam, Annalise memulai hidup baru yang penuh luka. Ia menyewa kamar kecil di daerah Jordaan, menulis puisi di malam hari, dan menangis setiap kali mendengar orkes yang memainkan lagu dari tanah Jawa. Di tengah kesunyiannya, ia bertemu dengan sekelompok pelajar dan sastrawan muda yang juga muak pada represi. Mereka ingin bicara tentang kebebasan, tentang tanah jajahan, tentang cinta yang tak bisa didefinisikan oleh agama dan bangsa.

Dari pertemuan-pertemuan kecil itu, lahirlah "Vrije Woord"—kata yang berarti “Kata yang Bebas.” Mereka berkumpul diam-diam di ruang bawah tanah sebuah toko buku tua, membaca puisi, mendeklamasikan teks-teks terlarang, dan menulis risalah yang mereka sebarkan secara sembunyi.

Annalise menjadi jantung kelompok itu. Meski tubuhnya masih lemah akibat trauma, jiwanya terbakar oleh api yang tak bisa padam. Ia menulis dengan nama samaran: A Van Eclips. Karyanya menyebar cepat, menyelinap lewat kapal dagang, menyusup ke Hindia, ke perpustakaan-perpustakaan rahasia di Batavia, bahkan sampai ke tangan Ratna.

Di suatu malam yang dingin, Annalise menulis surat panjang untuk Seno. Tapi ia tak pernah kirimkan. Ia tahu, beberapa luka lebih aman dibiarkan terbuka, daripada dijahit paksa dan berakhir infeksi. Ia simpan surat itu di kotak kayu kecil, di antara tumpukan puisinya. Di halaman terakhir, ia menulis:

"Aku bukan perempuan yang kau kenal. Tapi aku masih mencintaimu seperti udara mencintai paru-paru: tanpa suara, tanpa syarat."

Dan malam pun berlalu, menyisakan bayang-bayang yang akan bertahun-tahun kemudian kembali dalam bentuk surat misterius di bawah pintu penginapan, di Amsterdam yang sama, di malam yang sama, di kota yang tak pernah benar-benar melupakan siapa Annalise Van Linde.

AnnaliseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang