Malam itu, angin laut Surabaya membawa aroma garam dan kenangan yang membara. Seno duduk di depan jendela studionya, memandangi kanvas kosong, ketika langkah kaki pelan terdengar di tangga kayu tua. Ia menoleh, dan di ambang pintu berdirilah Annalise—lebih dewasa, wajahnya teduh namun menyimpan rahasia yang menunggu untuk diungkap.
Tatapan mereka bersentuh dalam hening yang penuh gelombang. Annalise mengenakan gaun sutra lembayung, pudar oleh waktu, namun memancarkan getar yang sama seperti dua tahun lalu. Seno merasa nadinya berhenti sesaat, lalu berdebar dua kali lipat.
“Je suis revenue, Seno.”
“Aku telah kembali, Seno.”
Suaranya lembut, seperti desir kabut di pagi buta. Namun di balik kelembutan itu, ada kecemasan yang terselip—seolah ia membawa beban lebih berat dari jarak ribuan mil yang telah ditempuhnya.
Seno berdiri, menahan keinginan untuk memeluknya. Ia takut, takut ini hanya bayang yang dirajut rindu. Namun jari-jarinya meraih bahu Annalise, dan ia merasakan kehangatan yang nyata.
Ratna muncul di belakang Annalise, wajahnya pucat. Matanya merah, bibirnya retak menahan tangis. “Seno,” bisiknya, “ada seseorang yang ingin kau temui.”
“Seno, ada seseorang yang ingin kau temui.”
Annalise memalingkan muka, menatap Ratna dengan lirih. “Laisse-la entrer, Ratna.”
“Biarkan dia masuk, Ratna.”
Ratna mundur, dan di belakangnya berdiri seorang anak perempuan kecil, rambutnya coklat keemasan, mata biru besarnya menatap Seno dengan keheranan. Ia memegang lukisan kecil—potret siluet Annalise di tengah kabut, sama seperti yang dulu Seno buat, namun lebih ringkas, lebih polos.
Annalise melangkah maju, membisikkan pada Seno, “Elle est à nous.”
“Dia milik kita.”
Seno menatap anak itu, hatinya mencelos. “Comment t’appelles-tu?”
“Siapa namamu?”
“Raisa,” jawab anak itu. “Bu Ratna bilang kau akan mengajariku melukis.”
Air mata Seno mengalir tanpa suara. Raisa, anak Ratna dan… apakah ia juga milik Annalise? Persis ketika ia ingin bertanya lebih jauh, Annalise menyentuh tangan Raisa dan berkata lirih:
“Elle est la vie née de notre deuil.”
“Dia adalah kehidupan yang lahir dari dukacita kita.”
Rasa bersalah memburu Seno. Ia membayangkan Ratna, teman yang pernah ia tolak, kini menjadi ibu dari anaknya. Ia menoleh pada Annalise, mencari jawaban di mata perempuan itu. Annalise menunduk, lalu menatapnya penuh penyesalan.
“Pardonne-moi, Seno. Je n’ai su qu’aujourd’hui son existence.”
“Minta maaf, Seno. Aku baru tahu tentang keberadaannya hari ini.”
Raisa memeluk kaki Seno, seperti mengerti bahwa ia mencari tempat untuk pulang. Seno mengangkatnya, mendekap tubuh mungil itu ke dadanya. Bau melati dan kapur lukis menyatu, mengaduk rindu dan duka.
Ratna duduk di sudut ruangan, menatap kanvas besar di dinding. Wajahnya terlihat letih, namun matanya menyala—ada harapan, ada penyesalan, ada cinta yang masih menunggu penebusan.
Annalise melangkah ke lukisan siluet di kanvas. Ia menyentuh garis-garis kabur itu, lalu berkata pelan: “C’est moi, et pourtant pas vraiment moi.”
“Inilah aku, namun bukan sepenuhnya aku.”
Seno menatapnya, hatinya meremas. “Reviens à moi pleinement, Ann.”
“Kembalilah seutuhnya, Ann.”
Annalise menutup mata, seolah mencoba merajut ingatan yang terpecah. “J’ai peur, Seno. J’ai peur que cette vie ne soit qu’un portrait que tu as créé.”
“Aku takut, Seno. Aku takut hidup ini hanyalah potret yang kau ciptakan.”
Raisa menoleh, bertanya dengan polos, “Papa, est-ce qu’Annalise est ton amie ?”
“Ayah, apa Annalise temanmu?”
Seno tersenyum getir. “Plus qu’une amie, Raisa. Elle est mon premier amour.”
“Lebih dari teman, Raisa. Dia cinta pertamaku.”
Ratna berdiri, menghampiri mereka. Ia menyentuh bahu Seno, lalu bahu Annalise, lalu bahu Raisa, seolah menghubungkan tiga jiwa yang terpisah oleh waktu dan luka.
“Nous avons une promesse à tenir.”
“Ada janji yang harus kita tepati.”
Annalise menghela napas panjang. “Les blessures peuvent-elles devenir de nouveaux tableaux ?”
“Apakah luka bisa menjadi lukisan baru?”
Seno mengangguk, memandang Raisa yang tertidur di lengannya. “Nous peindrons cette vie ensemble. Chaque trait est une rédemption.”
“Kita akan lukis hidup ini bersama. Setiap goresan adalah penebusan.”
Annalise menitikkan air mata. “Je veux rentrer.”
“Aku ingin pulang.”
Ratna menggenggam tangan Annalise. “Nous rentrerons ensemble.”
“Kita pulang bersama.”
Di sudut studio, kanvas kosong menanti. Tiga sosok berdiri di depannya: ayah, ibu, dan anak. Seno meraih kuas, mencelupkannya ke cat lembayung dan abu-abu muda.
“Seigneur,” bisiknya, “donne-nous la force de peindre un avenir que nous n’avons jamais imaginé.”
“Tuhan, berikan kami kekuatan untuk melukis masa depan yang belum pernah kita bayangkan.”
Dan kuas pertama menyentuh kanvas. Garis-garis baru terukir, membawa serta cinta, penyesalan, dan harapan. Kabut masa lalu menghilang perlahan, memberi ruang pada cahaya pagi yang lembut.
Annalise menatap lukisan yang tumbuh. “C’est notre maison.”
“Inilah rumah kita.”
Raisa tersenyum dalam tidurnya, seolah merasakan getaran cinta yang mengalir di antara garis-garis cat. Seno menatap Annalise, lalu Raisa, lalu kanvas. Hatinya tenang, karena kali ini, ia tidak melukis sendiri.
Di luar, langit mulai memerah, menandai fajar yang baru. Tiga bayangan terpantul di jendela studio—sebuah keluarga yang terlahir dari luka, namun menari dalam harapan.
Dan di pojok kiri kanvas, Seno menulis dengan lembut:
“Voor ons, die eindelijk heel zijn.”
“Untuk kita, yang akhirnya utuh.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Annalise
Short StoryAnnalise Dwight Rossevelt seorang perempuan tinggi semampai, bermata biru, berambut menyerupai bunga matahari, dan anting merah delima yang selalu ia kenakan menjadi saksi di pelipis matamu senja itu berlabuh.
