Hai, manusia-manusia yang sedang mencari jalan untuk mencapai tujuan, jangan lupa jalan pulang agar tidak tersesat di hutan bersama hujan yang sedang mengguyur untuk dibuatkan minuman. Annalise akan kembali pada jadwal yang belum ditentukan ya, sampai saat itu terjadi mohon bersabar karena author sedang jumpalitan.
Lama tak merajuk, layaknya kita akan berjauhan dalam waktu ini akan ada rindu yang terbayarkan. Mohon menanti penantian panjang yang sedang disiapkan, setidaknya cukup untuk melepas kepenatan dan ketidaknormalan yang terjadi akhir-akhir ini.
Dalam seling kali ini, mungkin ada baiknya kita bercengkrama dalam nuansa tenang dan nyaman. Tepatnya tanggal sepuluh Desember dua ribu dua puluh empat, lebih dari setahun atau dua tahun mungkin Annalise tidak tersesat dan tak tahu arah pulang. Sampai detik inipun, Annalise tak kunjung datang, oleh karenanya cerita ini tertunda dan mungkin tertimbun oleh bacaan yang lain.
Ada baiknya Aku menanyakan kabar kalian, apakah sehat? Semoga dalam lindungan Tuhan. Bagaimana hari-hari yang menyenangkan ini? Apakah sudah kamu singgahi hati yang sungguh ini? Atau mungkin ada orang lain yang sedang mengumpat di dalam diary kecil itu? Atau, atau kamu yang menjadi orang yang bersembunyi itu? Dasaaaaarrrrrrr...
Kita seperti manusia yang baru bertemu setelah sekian purnama, sampai lupa cara bertegur sapa. Akupun hampir lupa bagaimana cara menulis yang baik dan benar, sampai kegiatan yang dulunya kugemari malah kutinggalkan bagai catatan waktu yang mengubah sejarah diingatanku. Dulu mawar merah yang kukejar, sekarang menjadi mawar biru yang ingin ku pandang. Dulu hujan hinggap dalam nuansa yang tak tergantikan, sekarang menjadi abu yang sedang gugur kau bakar. Dulu puisi itu terasa manis ketika diucapkan, sekarang menjadi obat penawar yang akan ku simpan dalam genggaman.
Apakah dunia ini berputar atau hanya bergeser mengikuti lorong yang menuntun kita menuju tempat paling romantis? Atau hanya sekedar memberikan kita siang dan malam untuk dinikmati semua orang? Banyak sekali pertanyaan yang kuajukan karena sedang memikirkan kehadiranmu yang tak kunjung berlalu lalang. Sampai detik inipun, Aku tak tahu apa yang ingin kutulis? Seakan ide itu hilang ditelan matahari yang terik, bahkan bulan tak sanggup untuk menemuinya.
Apakah pertanyaan, "Annalise apa kabar?" Itu masih ada? Kalau masih ada semoga ke depannya kita akan sering bercinta lewat kata-kata yang telah kurangkai ini. Semoga kalian tidak kecewa dengan keputusan yang telah kubulatkan. Semoga kita lebih sering bertemu dalam hal-hal baik. Sementara Aku pamit dulu, untuk melepas pelukan hangat kepada Annalise yang telah menunggu kepulanganku di penghujung jalan itu, kita berpisah untuk jangka waktu tertentu.
Diiringi oleh beberapa kerabat jauh yang sedang berlatih musik dalam keheningan malam, sepuluh Desember dua ribu dua puluh empat di Al Farabi kita akan berjumpa dalam keadaan paling baik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Annalise
Short StoryAnnalise Dwight Rossevelt seorang perempuan tinggi semampai, bermata biru, berambut menyerupai bunga matahari, dan anting merah delima yang selalu ia kenakan menjadi saksi di pelipis matamu senja itu berlabuh.
