Pada suatu senja yang dingin di musim gugur tahun 1932, Annalise menyusuri lorong sempit di belakang Nieuwmarkt. Di tangannya, selembar selebaran tipis yang akan dibagikan malam itu. Di dalamnya, sajak tentang tanah-tanah yang tak diberi nama, tentang tubuh-tubuh yang dianggap rendahan oleh penjajah, tentang kemerdekaan yang hanya bisa hidup dalam mimpi. Nama pena yang kini ia gunakan adalah: A. Van Nachtlicht—cahaya malam, seolah membisikkan bahwa bahkan dalam gelap, kata-kata bisa menjadi nyala.
Vrije Woord kian berkembang, bukan hanya sebagai ruang menulis, tapi juga menjadi forum para pemikir yang ingin membebaskan tanah jajahan, termasuk Hindia. Mereka menyamarkan kegiatan sebagai diskusi filsafat. Dalam ruang bawah tanah gereja tua, mereka membaca Spinoza, memaknai Nietzsche, dan mengutip Raden Ajeng Kartini dengan air mata yang digenggam dalam diam.
Annalise menjadi pusat dari badai sunyi itu. Ia tak hanya menulis, tapi menghidupkan harapan lewat narasi. Ia tahu, selama pena masih bergerak, selama puisi bisa menembus tembok, maka meski tubuhnya tak kembali ke Surabaya, suaranya akan pulang.
Namun Robert bukan bayang-bayang yang mudah dilupakan. Ia mencium aroma pemberontakan dalam bait-bait puisi. Ia membayar mata-mata, menyusupkan pengkhianat. Satu malam, salah satu anggota Vrije Woord, Willem, tak pernah kembali dari tugasnya membagikan selebaran di Haarlem. Namanya dibungkam dalam berita, tubuhnya ditemukan membeku di pinggir kanal.
Annalise terguncang, namun tidak patah. Ia menulis malam itu, bukan dengan pena, tapi dengan darah yang hampir mengering di ujung jarinya:
"Kami bukan hanya nama dalam daftar pengawasan. Kami adalah bayangan yang terus menulis meski lampu padam."
Sajak itu menjadi simbol. Disalin ulang puluhan kali, dibisikkan dalam stasiun, dilukis diam-diam di dinding rumah, menjadi lagu di sekolah-sekolah gelap. Vrije Woord menjelma menjadi gerakan yang tak lagi bisa dikurung.
Namun ancaman datang dari dalam. Seorang pemuda baru bernama Tobias, yang tampaknya terlalu tahu banyak, menjadi perantara antara Vrije Woord dan dunia luar. Annalise mencurigainya, tapi belum ada bukti. Tobias manis dalam kata, namun matanya tak pernah benar-benar bersinar. Dalam salah satu pertemuan rahasia, Annalise sengaja menyisipkan bait fiktif dalam naskah. Dua hari kemudian, bait itu muncul dalam laporan intelijen kolonial.
Itu konfirmasi yang ia butuhkan.
Ia menulis surat pendek:
"Kegelapan tak pernah buta. Ia hanya memilih diam sebelum menyambar."
Surat itu tak ditujukan pada Tobias, melainkan kepada seluruh anggota Vrije Woord, sebagai isyarat untuk bergerak diam-diam. Dalam minggu berikutnya, lokasi pertemuan dipindahkan, peran disusun ulang, dan Annalise menuliskan semua ini dalam buku kecil bersampul hitam yang ia sembunyikan di balik tumpukan buku-buku teologi milik ayah baptisnya.
Malam-malam di Amsterdam tak lagi tenang. Di balik gemerlap lampu gas, ada paranoia yang mengendap. Annalise bermimpi buruk hampir tiap malam—mimpi tentang Willem, tentang anak-anak kecil yang dibungkam sejak lahir, tentang Robert yang mengusap wajahnya dengan tangan berlumur tinta.
Namun dalam satu mimpi, ia melihat seorang gadis—bermata seperti Seno, bibir seperti miliknya—menulis di bawah pohon flamboyan yang tak pernah tumbuh di Eropa. Gadis itu tersenyum padanya, dan dalam mimpinya, Annalise merasa damai untuk pertama kali dalam bertahun-tahun.
Ia tak tahu mengapa gadis itu hadir. Tapi sejak malam itu, ia mulai menulis dengan semangat yang baru. Ia mulai merancang sesuatu yang lebih besar: bukan sekadar sajak atau pamflet, tapi sebuah antologi puisi dan prosa pendek yang mengisahkan pergulatan manusia dalam bayang penjajahan, ditulis oleh banyak suara, bukan hanya miliknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Annalise
General FictionAnnalise Dwight Rossevelt hadir seperti senja yang tak pernah benar-benar selesai, berdiri di antara cahaya dan gelap dengan tubuh tinggi semampai dan mata biru yang menyimpan kedalaman tak terjamah. Rambutnya mengalir seperti bunga matahari yang di...
