Langit Amsterdam masih kelabu ketika mereka mengemasi barang. Di luar, kabut masih melingkar di batang-batang pohon musim gugur, seperti enggan berpisah dengan langkah kaki yang sudah menetap terlalu lama. Seno menutup koper terakhir, menatap Annalise yang membungkus lukisan Raisa dengan kain linen tua, seolah takut waktu akan menggerus warnanya. Mereka tidak banyak bicara pagi itu. Hanya mata mereka yang saling menandaskan maksud: bahwa kepulangan bukanlah bentuk menyerah, melainkan panggilan yang tak bisa ditolak oleh darah.
Kapal laut membawa mereka menyeberang samudra. Raisa, kecil dan senyap, lebih banyak tidur di dek, berselimut mantel ibunya. Annalise menulis setiap hari di buku kulit tipis, puisi-puisi pendek dalam bahasa Belanda yang tidak pernah ia bacakan. Seno tahu, puisi itu bukan untuk dunia, melainkan untuk dirinya sendiri—sejenis mantra agar ia tetap utuh ketika kembali ke tempat yang pernah membekukannya hidup-hidup.
Tanjung Perak menyambut mereka dengan peluh dan bau asin yang tidak berubah sejak terakhir Seno pergi. Tapi kini, tanah yang sama memikul beban yang berbeda. Langkah Seno terasa asing, meski jalannya masih sama. Jalanan Surabaya penuh kenangan yang belum sembuh, dan di sanalah keluarga menanti—bukan dengan peluk, tapi dengan tuding dan tanya.
Rumah tua tempat ia dibesarkan masih berdiri, tapi catnya mengelupas dan suara-suara di dalamnya lebih tajam dari derit engsel pintu. Ibunya memandang Raisa dengan mata yang tak bisa menamai, antara rindu dan malu. Ayahnya duduk di kursi rotan, membaca koran tanpa menyapa, seakan ingin memberi ruang bagi waktu untuk menjelaskan segalanya.
“Dia bukan anak kita,” bisik sang ibu malam itu. “Dia anak dari perempuan yang tak pernah menjadi istrimu.”
“Ze is mijn kind, en zij is een deel van mij,” jawab Seno lirih. (Dia anakku, dan dia bagian dariku.)
Kehadiran Annalise menjadi badai yang tak bisa disangkal. Wajahnya yang bule, bahasanya yang kaku saat berbicara Melayu, serta tatapan perempuan yang tak mau tunduk—semua itu menjadi ancaman bagi keluarga yang ingin segalanya tampak wajar di mata tetangga.
Kabar tentang kedatangan mereka cepat tersebar. Surabaya tak pernah kehabisan lidah untuk mengunyah nama orang lain. Ratna mendengar kabar itu lewat seorang penjaga sekolah tempat ia mengajar. Ia hanya menunduk, menggenggam tali tas lebih kencang, dan berjalan tanpa menoleh.
Malam berikutnya, sekelompok pria dari pihak keluarga Annalise datang membawa surat—tegas dan dingin. Mereka menuduh Seno “menculik kehormatan” dan “mencemarkan darah keturunan.” Seno membakar surat itu tanpa membacanya habis.
“Honour is not owned by letters,” katanya dalam hati. “Kehormatan dibangun dari keberanian, bukan dari ancaman.”
Raisa mulai gelisah. Ia tak mengerti mengapa anak-anak tak mau bermain dengannya, mengapa orang-orang menatap ibunya seperti hantu yang lupa mati.
“Mama, waarom lachen ze niet naar mij?” tanya Raisa. (Mama, kenapa mereka tidak tersenyum padaku?)
“Ze weten nog niet wie je bent, schat,” jawab Annalise. (Mereka belum tahu siapa dirimu, sayang.)
Seno mencoba membuka ruang. Ia menggelar pameran kecil di Balai Pemuda, menampilkan lukisan-lukisan yang ia buat di Amsterdam. Di salah satu sudut, ia menggantung potret Raisa dengan latar cahaya keemasan. Tapi tak banyak yang datang. Lukisan tak cukup untuk mengubah pikiran orang yang matanya telah dibutakan oleh aturan adat dan garis darah.
Ratna akhirnya datang, berdiri diam di antara pengunjung yang hanya sekilas menoleh. Ia menatap lukisan Raisa lama sekali, lalu berbalik tanpa sepatah kata. Seno mengejarnya, tapi Ratna menghentikan langkah.
“Dia anakmu, aku tahu. Tapi kau juga pernah janji padaku bahwa luka ini akan kita tanggung bersama.”
“Je had gelijk,” bisik Seno. (Kau benar.)
Hari-hari menjadi lambat. Annalise mulai jarang keluar rumah, hanya menulis dan merawat Raisa. Di bawah pohon mangga tua, ia kadang menatap langit seperti mencari sesuatu yang tak kembali. Seno semakin sibuk mencoba menyulam kepercayaan yang koyak, tapi tangan manusia tak sekuat waktu.
Suatu siang, Raisa dipukul anak tetangga. Ia pulang dengan darah mengering di pelipis. Seno marah, Annalise menangis. Tapi tangisan itu tak menggugah siapa pun.
“Mereka bilang aku bukan anak sini,” ucap Raisa sambil memeluk lutut.
“Jij bent een kind van liefde,” kata Annalise. (Kau adalah anak dari cinta.)
Annalise tak tahan. Ia menulis surat panjang pada Seno malam itu, lalu pergi ke pelabuhan dengan Raisa. Tapi Seno sempat mengejar, memeluk mereka di dermaga.
“Jangan pergi,” katanya. “Kalau kita menyerah sekarang, kita akan kehilangan makna dari semua luka ini.”
Akhirnya mereka kembali ke rumah. Tapi kali ini bukan untuk diterima, melainkan untuk bertahan.
Annalise mulai mengajar anak-anak miskin di kampung, mengajari mereka menulis dan melukis. Raisa menjadi guru kecil bagi anak-anak yang tadinya mencibirnya. Perlahan, warna masuk ke kampung itu. Tidak mencolok, tapi cukup untuk membangun ulang rumah di hati orang-orang.
Tapi masa lalu belum selesai. Salah satu saudara laki-laki Annalise muncul dengan tuntutan hukum. Ia menyewa pengacara Belanda dan mengklaim hak asuh atas Raisa karena “dilahirkan dalam darah Belanda.”
Seno dan Annalise harus memilih: bertarung di meja hukum atau menyerahkan Raisa dan kehilangan bagian dari diri mereka sendiri.
Dan sekali lagi, hidup menggantungkan mereka di tepi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Annalise
Storie breviAnnalise Dwight Rossevelt hadir seperti senja yang tak pernah benar-benar selesai, berdiri di antara cahaya dan gelap dengan tubuh tinggi semampai dan mata biru yang menyimpan kedalaman tak terjamah. Rambutnya mengalir seperti bunga matahari yang di...
