Deel Dertien (Een portret dat nooit heeft geleefd)

16 3 0
                                        

Kasih dan kisah tak pernah berujung pada satu simpul pasti. Mereka hanya datang untuk tinggal sementara, menuntun rasa pada jalan-jalan sepi yang tak mampu dijelaskan oleh logika. Aku, Seno, hanyalah satu dari sekian ribu tubuh yang patah oleh bayangan. Bukan karena kehilangan, tapi karena tak pernah benar-benar memeluk sesuatu yang nyata.

Annalise datang seperti air yang membeku perlahan, mengeras oleh waktu, menjelma batu dalam diriku. Aku masih ingat, ia muncul pertama kali dua tahun lalu—dalam mimpi, dalam senyap yang panjang. Rambutnya pirang, matanya menyimpan bahasa yang tak kutahu, dan langkahnya... seperti puisi yang berjalan di atas bumi.

“Ben je echt? Of ben je gewoon mijn verlangen?” tanyaku kala itu. (Apakah kau nyata? Atau hanya hasratku semata?)

Ia hanya menatap, lalu memelukku erat. Tak ada jawaban yang bisa meredam guncangan batinku.

Annalise adalah kisah yang tak tertulis. Ia menyebut nama saudaranya, Robert, sebagai belati dalam hidupnya—perampas masa depan, penjaga penjara patriarki. Ia dipaksa tunduk, dijadikan alat pemuas, namun ia menolak. Dengan mata merah ia berkata:

“Hij is geen broer, hij is de duivel. Ik zal hem laten bloeden.” (Dia bukan saudara, dia iblis. Aku akan membuatnya berdarah.)

Dan malam itu, ia pergi ke kamar pengantin tua. Membawa sebilah belati, seekor ayam hitam, dan darah. Ia menuliskan pesan di dinding dengan telapak tangannya:
“De dood wacht.”
(Kematian menanti.)

Namun yang aneh, semua itu hanya aku yang tahu. Tak ada yang pernah melihat Annalise. Bahkan Ratna—teman masa kecilku yang setia mendengar cerita—tak pernah sekalipun menjumpainya. Ia selalu menatapku iba setiap kali aku menyebut nama itu. Bahkan ketika aku menyebut bahwa aku dan Annalise pernah bermalam di Pegirian, bercumbu di balik tirai malam, ia hanya menunduk.

“Ben je zeker dat ze echt was, Seno?” tanyanya pelan. (Apa kau yakin dia benar-benar ada, Seno?)

Aku tak menjawab. Aku tahu apa yang kulihat, apa yang kurasa, apa yang kucinta.

Ratna diam-diam menaruh tubuhnya untukku. Berkali-kali ia datang, membuka bajunya, berharap tubuhnya bisa menggantikan ruang kosong yang ditinggalkan Annalise. Tapi setiap kali bibirku menyebut, “Ann...”, ia menangis dan pergi. Aku tak mengerti, apa salahku jika cinta ini memilih yang tak terlihat?

Lalu suatu malam aku mendengar suara di bawah pintu. Sebuah surat, tipis dan harum. Aku membukanya dengan tangan gemetar, namun yang kudapati hanya sobekan kertas, setengah tulisan, setengah luka. Surat itu ditulis tangan Annalise. Namun belum selesai kubaca, Ratna datang dan menyobeknya.

“Aku hanya ingin kau mencintaiku, Seno! Dia tidak nyata, dia hanya ciptaan kesepianmu!” teriaknya.

Aku terduduk, mataku panas. Tapi suara Annalise bergema di kepalaku:

> “Als ik kon schreeuwen door de muren, zou ik zeggen: ik hou van je. Maar zij heeft mij het zwijgen opgelegd.”
(Andai aku bisa berteriak lewat dinding, aku akan berkata: aku mencintaimu. Tapi dia telah membungkamku.)

Hari-hari berikutnya, aku melukis wajahnya. Setiap malam kuusap kanvas, kuukir alisnya, kutelusuri garis bibirnya dengan kuas yang gemetar. Ratna datang lagi, duduk diam, memandangku seperti menanti seseorang bangun dari koma panjang.

“Kau akan tetap mencintainya walau ia tak pernah ada?” tanyanya.

Aku menjawab pelan, “Ze is alles wat ik nooit had, maar altijd voelde.”
(Dia adalah segalanya yang tak pernah kumiliki, tapi selalu kurasa.)

Dan malam itu, lukisan itu selesai. Di bawahnya kutulis:

“Annalise: de waarheid in mijn waan.”
(Annalise: kebenaran dalam delusiku.)

Ratna memandang lukisan itu, lalu padaku, lalu langit yang muram. Ia tahu, aku tak akan pulih. Dan mungkin, ia tak pernah benar-benar memiliki aku sejak awal.

Kini, aku tinggal di antara warna dan bayang. Di antara nyata dan ilusi. Aku tak tahu apakah ini hidup atau sekadar sisa dari mimpi yang tak mau pergi. Tapi yang kutahu, cintaku masih tinggal di sana—di balik dinding rumah tua yang pernah basah oleh darah dan nama. Sembilan April dua ribu dua puluh lima aku persembahkan padamu Ann.

AnnaliseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang