Pameran telah usai. Orang-orang pulang membawa secarik perasaan yang tak terjelaskan. Galeri kosong. Cahaya lampu minyak mulai meredup. Tapi di sudut ruangan, dua sosok tetap tinggal: Raisa dan Annalise. Seperti dua musim yang berbeda, keduanya hadir dalam wujud yang bertolak, namun saling melengkapi luka-luka Seno.
Raisa duduk di lantai kayu yang berderak pelan, menatap lukisannya sendiri. Bukan dengan tatapan anak-anak biasa, tapi seperti menyimak rahasia yang tak sempat diucapkan oleh warna-warna yang belum mengering. Mata gadis itu adalah mata Annalise—gelap, tajam, dan seperti menyimpan keberanian yang belum selesai dibentuk.
Annalise berdiri di sampingnya, membelai rambut anak itu perlahan, seolah takut sentuhannya akan membuatnya lenyap. Ia tidak bicara banyak malam itu, hanya sesekali menoleh ke arah Seno, yang berdiri di ambang pintu galeri, seakan tak berani melangkah lebih dekat. Ada jarak yang tak diukur oleh langkah kaki, tapi oleh kenangan-kenangan yang tak sempat diberi kata.
"Ze lijkt op jou, maar praat zoals ik," bisik Annalise.
(Dia mirip kau, tapi berbicara sepertiku.)
Seno hanya menatap, masih tak bisa mengurai simpul antara masa lalu yang menggantung dan masa kini yang belum bisa ia rangkul sepenuhnya.
Raisa bangkit, lalu berjalan ke arah Seno. Ia menggenggam tangannya, kecil tapi hangat, dan berkata,
"Papa, ben je blij dat ik bestaan?"
(Ayah, apakah kau bahagia aku ada?)
Pertanyaan itu menghantam Seno lebih dalam dari hujan musim gugur yang menusuk tulang. Ia berlutut, menatap wajah anak itu, dan menjawab dengan suara yang hampir patah,
"Ja, heel erg blij."
(Iya, sangat bahagia.)
Satu kalimat yang menebus tahun-tahun sunyi, satu kalimat yang menghidupkan kembali bagian dari dirinya yang sudah lama ia kubur di bawah warna-warna sepi.
Malam itu mereka berjalan pulang tanpa kata, hanya ada suara langkah yang menyatu dengan angin Amsterdam yang merintik. Ratna tidak ikut, memilih menginap di rumah seorang kenalan lama, memberi jarak, barangkali untuk menyusun kembali perasaannya sendiri.
Pagi tiba tanpa peringatan. Matahari Amsterdam menyapa dengan sinar yang tak terlalu hangat, tapi cukup untuk mengeringkan embun dari jendela kayu tua.
Di meja sarapan kecil, Raisa menggambar. Bukan dengan kuas, hanya pensil sederhana. Ia menggambar tiga orang: dirinya, Annalise, dan Seno. Tapi Ratna tidak ada di sana.
Annalise hanya menatap gambar itu sebentar, lalu berkata kepada Seno,
"Ze heeft gekozen, nog voor we mochten kiezen."
(Dia sudah memilih, bahkan sebelum kita diberi pilihan.)
Seno diam. Mungkin karena kalimat itu terlalu benar untuk dibantah, atau terlalu pahit untuk disangkal.
Kini hidup mereka bertiga seperti potongan-potongan kain yang dijahit kembali—tidak rapi, tidak sempurna, tapi cukup untuk menjadi pakaian sehari-hari yang bisa dikenakan dengan jujur.
Tapi apakah itu akhir dari kisah mereka?
Belum. Karena hidup bukan lukisan yang bisa dikeringkan dan digantung. Hidup terus menetes. Dan dari tetes-tetes itu, pilihan lahir kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Annalise
Short StoryAnnalise Dwight Rossevelt seorang perempuan tinggi semampai, bermata biru, berambut menyerupai bunga matahari, dan anting merah delima yang selalu ia kenakan menjadi saksi di pelipis matamu senja itu berlabuh.
