4🥀

1K 113 25
                                        

Warning Typo📌
































Rapat yang dihadiri anggota osis dan mesis selesai pada jam istirahat kedua, tenang saja mereka sudah mendapat izin dari pihak sekolah. Dengan ditemani satu botol kecil air mineral mereka nampak fokus dengan topik yang mereka bahas.

Rapat akan dilaksanakan lagi beberapa hari kedepan, agar persiapan semakin mantap
"loe udah makan kan el?" suara Natha membuat Farel yang berjalan disampingnya mengangguk, memang benar kan Farel sudah makan walau hanya satu suap

"Farel Gibran!" pemuda yang dipanggil membuang nafas panjang, sedangkan Natha sudah membalikkan tubuh dan menatap tak suka pada ketiga pemuda lainnya

"loe sengaja banget yah! Liat soal yang loe kerjain salah satu, gue gagal dapet nilai sempurna!" Raffa berucap dengan penuh amarah

Sedangkan Natha sudah terbahak tak karuan, "loe emang nggak akan pernah dapat nilai sempurna!"

Farel mencoba mengambil buku yang sempat Raffa lempar, mencoba meneliti dimana letak kesalahannya, benar ada tinta merah melingkar, disitu letak kesalahannya.
"gue minta maaf Raf, gue kurang teliti"
Mungkin semalam terlalu melelahkan bagi Farel hingga tak sengaja melakukan hal itu.

"maaf loe bilang! Enak aja, loe ikut gue sekarang!"

Natha akan mengucapkan ketidak setujuannya, namun dengan cepat Farel menggeleng, meminta Natha agar tetap stay ditempatnya.

.
.
.

"el?" bunda Alana berucap lirih, matanya penuh dengan kesedihan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"el?" bunda Alana berucap lirih, matanya penuh dengan kesedihan

Perlahan, Faza merangkul bahu sang bunda dan menaruh kepalanya bersender kepundak Alana, "kamu menamai Caffe ini el?"

Alnafaza mengangguk perlahan, "bun, mungkin adek sudah tidak ada bersama kita lagi, tapi sampai kapanpun adek adalah adek bungsu Faza" satu buliran bening itu menetes begitu saja dipipi bunda

"nanti kalau Caffe ini sudah besar, nama adek yang akan diucapkan oleh banyak orang, dan situ Faza tidak akan pernah lupa dengan adek, meski adek sudah menghilang bersama sang rembulan"

Alana terisak pelan, Faza mendengar itu dengan jelas, telapak tangannya mengusap pelan punggung sang bunda yang semakin bergetar.

"bunda rindu adek, tapi kenapa adek memilih pergi dari semesta kak? Bunda harus bagaimana untuk melampiaskan rindu ini? Pada siapa bunda mengobati lara ini? Kenapa adek jahat kak hiks..."

"adek baik bun, adek hiks adek adalah anak yang baik, hiks dia tidak jahat"

.
.
.

Satu pukulan Farel dapatkan tepat dibagian perutnya, rasanya nyeri apalagi dia belum makan siang, sayangnya Raffa tidak perduli akan hal itu.

AlfarezelCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang