Warning Typo📌
📍Males ngetik😴
Prakk
Sebuah benda pipih dilempar kencang-kencang ke tembok kamar, membuat benda berbentuk persegi panjang itu hancur berserakan, tak bisa di kembalikan seperti semula.
Mata itu menatap tajam pada sesosok pemuda yang kini tengah menangis. Ini benar-benar diluar dugaannya, hari itu, anaknya datang dan menangis, mengadu kalau dirinya telah mendapat kekerasan oleh teman sekelasnya.
"Apa maksudnya itu Raffa!!"
Ibu Hanum berteriak emosi, dia biarkan handphonenya tergeletak remuk di pinggir tembok. Raffa tak berani menjawab, dia hanya bisa menangis.
"Ibu kira kau anak yang baik, tapi ternyata..." ibu Hanum tak sanggup melanjutkan kalimatnya, dadanya dia pukul kuat-kuat untuk meredakan sesak yang datang
"Kau!! Ibu tak pernah mengajarkanmu menjadi brandal!! Mau jadi apa kamu hah!!"
Dia benar-benar kecewa pada anaknya, putranya yang dia kira anak baik dan penurut nyatanya adalah seorang pembully.
"Keluar dari rumah ibu!! Mulai detik ini kau bukan putraku!!"
Raffa benar-benar terkejut, tak menyangka sang ibu akan sangat emosi seperti ini, bahkan sampai mengusirnya dari rumah.
Raffa segera bangkit dan memeluk kaki ibunya dengan penuh sesal, jika dia diusir, kemana Raffa akan pergi.
"Bu, maafkan Raffa"
"Ibu malu Raffa, ibu malu punya anak sepertimu!"
Ibu Hanum ingin seorang putra yang menurut, bisa membuatnya bangga, bukan malah membuat namanya tercoreng.
"Pergi dari sini, dan jangan pernah kembali"
Teriakan anaknya dari belakang sana tak ibu Hanum hiraukan, wanita itu terus melangkah meninggalkan putranya yang menangis sesenggukan, meminta agar tetap diberikan rumah.
.
.
.
Syukurlah, kue yang dijual bang Dev dan Farel hampir semuanya habis, meski kaki mereka rasanya ingin patah karena terus berjalan kesana kemari, menawarkan orang-orang untuk membeli dagangan mereka.
"Dek, istirahat dulu yuk" ajak bang Devan
Keduanya kemudian duduk di kursi kayu yang ada di taman, bang Devan mengambil botol berisi air putih yang dia bawa dari rumah. Membuka tutup botol tersebut dan menyodorkan botolnya pada Farel.
"Minum dek" ujar bang Devan, Farel menerima botol itu dan meneguknya, "makasih bang" ucapnya kemudian mengembalikan botol pada bang Devan yang isinya langsung diminum oleh abang
"Mama keren ya bang, bisa bikin kue yang enak kaya gini, banyak orang yang muji tadi"
Meski mama Dinda tak begitu jago dalam hal memasak, tapi kue hasil buatannya itu cukup enak, terbukti dengan banyaknya kue yang terjual hari ini.
"Adek sayang mama" ucap Farel, "sayang abang juga" lanjutnya sambil melempar peluk pada sang kakak yang langsung dibalas
.
.
.
"Birru bicara yang jelas! Dimana keberadaan adikmu!"
Brakk
Bunda Alana dengan manik yang melebar, masuk tergesa ke ruangan kerja ayah, tatapannya penuh dengan berbagai pertanyaan, ayah yang mendengar keributan di belakang tubuhnya memutar badan, menemukan sang istri disana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alfarezel
Fanfiction📍END Tentang Alfarezel Gloire Arsyanendra yang menjalani hidup sebagai Farel Gibran. (Senin, 08/08/2022) #6 taehyung dari 60,2 Rb cerita #3 penggemar dari 2,4 Rb cerita (01/08/2022) #Draf Sampul #pinterest
