30🥀

959 131 73
                                        

Warning Typo📌

📍Maaf baru update
Chapternya nggak jelas banget, mungkin kalian bakal ngerasa geli atau semacamnya.





































"el hiks" bunda meluruh, menangis hebat di atas karpet ruang tamu, "maafkan bunda sayang maaf hiks" ratapan penuh penyesalan bunda membuat kak Faza tak tega, gadis itu mendekat dan mendekap tubuh bunda

"kak Birru!"

Kak Birru menoleh, ada ayah juga kak Daffi yang berjalab ke arahnya, "dimana Alfarezel, dimana adik bungsumu itu kak?" Ayah bertanya tak sabaran

"anak buahku sedang mencari keberadaannya, sebentar lagi pasti mereka datang"

Tak lama setelah kak Birru mengatakan itu, dua orang lelaki dengan pakaian serba hitamnya masuk ke dalam rumah Arsyanendra, anak buah kak Birru itu pun memberi salam hormat.

"bagaimana?"

"kami sudah menemukannya tuan" jawab satu diantara keduanya dengan yakin, kak Birru mengulas senyumnya, "kita kesana"

"kalian, yang ingin menemui Alfarezel maka ikutlah denganku, terserah menggunakan mobil yang mana"

Anggota keluarga Arsyanendra pun mulai pergi dari rumah mereka, meninggalkan Raffa yang masih menahan perih, di pipi dan di hatinya.

.

.

.

Temaram lampu di sudut teras rumah menemani mama Dinda yang tengah berdiri sambil menatap pada lelehan awan yang tengah membasahi bumi, udaranya cukup kencang malam ini namun tak membuat wanita itu mundur dari posisinya, bukannya bersembunyi dari derasnya hujan, mama Dinda malah seolah-olah menyambut peristiwa alam itu.

Wanita cantik dengan rambut hitam panjang itu berulang kali menggosokkan kedua telapak tangannya, menciptakan hangat yang hanya dia saja penikmatnya.

Malam sudah larut, tapi kedua putranya belum kunjung pulang, manik cantiknya berulang kali menatap gumpalan hitam di atas sana, meminta agar berhenti menjatuhkan bulirnya, biarkan anaknya pulang terlebih dahulu, baru setelah itu lelehan awan boleh kembali mengguyur kota.

"kalian dimana nak?"

Malam yang semestinya tenang tak mama Dinda dapatkan, perasaannya gundah gulana, putranya belum terlihat sejak pagi tadi saat mereka keluar mencari selembar rupiah. Mama Dinda menatap tetes lelehan awan yang meluncur melalui genting, mungkin kedua putranya tengah menunggu hujan reda. Maka dengan hembusan nafas panjang, mama Dinda berbalik, masuk ke dalam rumah dan hendak menutup pintu sebelum tiga mobil mewah terparkir di depan rumah kecilnya.

Mama Dinda membawa tubuhnya keluar, dahinya berkerut memandang mobil-mobil mewah itu. Orang-orang yang ada di mobil itu keluar, membuat mama Dinda langsung waspada, mereka keluarga Arsyanendra, yang telah menghancurkan hidupnya dan anak-anaknya.

"mau apa kalian?!" mama Dinda maju, melontar pertanyaan dengan nada sarkas, tidak ada nada ramah meski di hadapannya kini adalah keluarga Arsyanendra

"dimana putraku?" bunda Alana yang menjawab, wanita yang berdiri di samping sang suami menatap mama Dinda, "dimana putraku?!" tanya nya kembali dengan sedikit sentakan

"putramu? Siapa? Disini tidak ada putramu, nyonya" mama Dinda menjelaskan, lagian dia juga tidak merasa menyembunyikan salah satu anak dari bunda Alana

"Farel, dia adikku, dia keluarga Arsyanendra"

Perkataan dari kak Birru barusan membuat bunda Alana melempar tatapan tajam ke arahnya, "Apa?! Apa yang kamu bilang?" bunda Alana tergagap, nafasnya berderu tak karuan, telinganya tak salah dengar kan?

AlfarezelCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang