Author: EH. KAYANYA DI AUTHOR'S NOTE THERAKHIR YG "I had warn ya.." SALAH DEH. AHAHAHA *awkward laughs* SORI YA MATA KALIAN SAKIT AHAHA.
++++++
Di suatu tempat...
Tempat itu merupakan tempat terburuk yang pernah ada. Samar samar dikupingnya, terdengar jeritan menyedihkan yang dipenuhi penderitaan. Tapi meh, apa pedulinya? Hal itu wajar di tempat ini.
Dia sedang berlutut dengan salah satu tinjunya di tanah yang membara itu dan tangan yang satunya lagi di istirahatkan pada kaki satunya yang hanya ditekukan, tidak dalam posisi berlutut, sementara kepalanya menunduk patuh pada orang yang duduk di singgasana yang mewah itu dengan angkuhnya. Akhirnya orang yang sedang duduk itu membuka mulutnya.
"Kamu belum melaksanakan perintahku." ucapnya dengan dingin dan penuh otoritas, juga percikan tak senang karena permintaannya tak kunjung dilaksanakan.
Orang didepannya yang sedang berlutut itu makin menunduk saja "Maafkan hamba, Tuanku. Hamba menerima hukuman dalam bentuk apapun" ucapnya dengan tegas dan bertanggung jawab atas entah apapun yang sudah dilakukannya, tapi orang yang sedang duduk di singgasana itu mendengar ketakutan dari setiap kata yang meluncur dari mulutnya.
Orang yang duduk di singgasana itu membalasnya dengan dingin "Bukan tugas seorang raja untuk menghukum hambanya" ucapnya "Apa yang bisa kamu lakukan untuk memperbaiki kesalahanmu ini?"
"Teknisnya, hamba belum melakukan kesalahan, Tuan" ucapnya cepat-cepat. Spontan, raja itu mendelik marah "Belum" orang yang berlutut itu menekankan kata itu lagi "Tapi, hamba ingin meminta sesuatu untuk memperbaikinya, Tuanku."
"Dan apakah itu?"
"Waktu, Tuanku. Waktu. Hamba membutuhkan banyak waktu untuk membuat Aria Pierré-- Mar Erïa du vel Homunium et Fann menyetujui kontrak dengan Tuan, dia bukan hal yang bisa saya tarik sesuka hati."
Raja itu termenung sebentar untuk menyetujui orang yang disebutnya hamba didepannya "Baiklah. Aku, Satan, memberimu roh rendahan dari bumi, waktu untuk melaksanakan misi terhormat ini. Dengan jiwamu sebagai taruhannya, kalau kamu berani-beraninya gagal." Tatapan tajam raja beralih dari orang yang berlutut itu ke raja lain yang duduk berjejeran di sampingnya, namun singgasana mereka lebih sederhana dari singgasana Satan. Wajar saja, Satan merupakan raja terkuat dari mereka berempat "Bagaimana?" tanya Satan kepada mereka.
"Boleh saja, dia milikmu, Satan." Sahut Beelzebub santai.
"Sebuah kehormatan untuk menerima hadiah dari Satan, kau tahu? Jangan sia-siakan." Imbuh Astaroth.
"Bukan urusanku." Azazel memalingkan wajahnya dengan sikap acuh tak acuh.
Dengan begitulah, roh tadi menghilang dari hadapan keempat raja Neraka itu, kembali ke bumi, tempatnya berasal.
******
Aria Pierré.
"King Solomon." Amel menjawab dengan tegang, dan aku yakin, wajahnya memucat. Semenit lalu aku menanyakan arti lambang tersebut, tentu saja aku tak menunjukan medali yang kutemukan padanya, kalau artinya buruk, Amel bisa kena serangan jantung.
Dan kurasa itu berarti sangat buruk.
"King Salmon? Gabungan dari Burger King sama Salmon, gitu? Kalo mereka bikin burger dari salmon, gw bakal bakar toko mereka!"
"King Solomon, tolol!" Amel menggeplak kepalaku yang malang dengan kencang. "Gue juga tau kaleee sewot bener--" Kata-kataku terhenti taktakala melihat raut wajah serius Amel yang jarang ditunjukannya. Oke, aku makin was was saja, ada apa dengan King Solomon ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
The Hell Queen
AcakSang Ratu Neraka. Sejak kecil, tepatnya saat aku berumur lima tahun, aku sudah menyandang julukan menyebalkan tersebut. Ini semua karena bakat- atau kutukan?- ku. Entah bagaimana caranya, aku memiliki bakat ilmu pyrogenesis; dimana seseorang bisa me...
