(10). Latihan Gabungan

626 38 4
                                        

Masih dengan Gilang Pov.

Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.
07.43 WIB.

Mobilku memasuki pekarangan Halim dan kaca mobil yang aku buka setengah. Dua prajurit pria memberi hormat padaku. Aku lanjut menjalankan mobil dengan pelan agar bisa melihat aktivitas sekeliling. Mobil-mobil yang di parkiran juga sudah banyak, aku yang melihat tempat kosong pun langsung memarkirkan mobilku.

Aku keluar dari mobil dan pandangan ku melihat sekeliling mobil dari berbagai Matra. Mobil dari kesatuan Shila pun sudah ada di pojok sana. Itu berarti Shila sudah ada disini, hanya saja aku tidak melihatnya. Mungkin di lapangan. Setelah semuanya sudah ku bawa dan tidak ada lagi barang di mobil, aku bergegas untuk menuju ruangan Komandan. Aku berjalan sedikit lebih cepat ketika tim penerjun wanita gabungan itu melihatku dengan senyumannya. Lina memanggil-manggil namaku di antara barisan semua prajurit. Dengan cuek, aku tidak mempedulikannya.

Aku pun terus melangkahkan kaki ku menuju ruangan Komandan. Kaki ku mendadak berhenti ketika melihat wanita yang aku pikirkan sedang video call dengan ibunya. Aku nampak tertarik dengan obrolan Shila dan ibunya itu. Aku melangkahkan kaki ku sedikit lebih maju dan bersembunyi dibalik tembok agar bisa mendengar suara teleponnya dengan jelas.

"Ibu apa kabar?"

Suara Shila berubah menjadi lembut saat bertelepon dengan ibunya.

"Alhamdulillah ibu baik-baik aja teh. Teteh lagi ada dimana itu ?"

"Aku lagi ada di Halim Bu, sekarang itu aku latihan gabungan kaya tahun kemarin jadi tim penerjun"

"Hebat anak ibu. Semangat ya teh"

"Siap ibu komandan" Shila menyahuti sembari hormat "kalau gitu udah dulu ya teleponnya. Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam"

Shila memasukkan handphonenya ke dalam tas. Aku langsung melangkahkan kaki ku untuk keruangan komandan. Baru saja beberapa langkahan, Shila memanggil ku.

"Kapten" panggilnya sembari melambaikan tangannya.

Sudah kuduga pasti Shila akan memanggilku, aku pun menoleh pada wanita yang dihadapan ku saat ini.

"Hai Kapt." Lihat dia menyapaku dengan senyuman manisnya yang berlesung pipi.

Aku memperhatikan wajahnya yang putih pucat itu, sepertinya ia tidak berdandan hanya lipstik berwarna pink yang melekat di bibirnya. Ah, aku tidak peduli itu, intinya ia tetap cantik ditambah lagi dengan rambut yang dikepang dua. Membuat ia kelihatan lucu sekali. Aku ingin sekali mencubit kedua pipinya yang seperti kue bakpau itu, tetapi ku urungkan niatku.

"Kapten engga tidur ya semalam?" Shila perhatikan kedua mataku dengan wajah polosnya. Aku tersadar dengan pertanyaannya.

Aku menyahutinya dengan santai "Tidur" jawabku berbohong. Tidak mungkin aku berkata jujur, kalau semalam aku tidak bisa tidur karena memikirkan dirinya.

"Kapten bohong" Shila seperti nya membaca ekspresi ku yang berbohong.

"Ya sudah kalau kamu tidak percaya" pandanganku beralih ke tempat lain. Ya walaupun sesekali aku meliriknya yang tengah tersenyum itu padaku.

"Bercanda kapten" kali ini ia tertawa. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku padanya, mataku sensitif sekali.

Aku mulai berani bicara mengenai keadaannya "Bagaimana dengan kaki kamu? Sudah tidak sakit lagi?" Aku memerhatikan kaki Shila yang tertutup dengan sepatu PDLnya.

"Alhamdulillah udah engga sakit lagi Kapt" Shila menggoyang-goyangkan kakinya.

Hatiku merasa lega sekali ketika mendengar jawaban Shila.

Elang BiruCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang