"Touring? Kemana?" Tanya Ravindra.
"Nah itu dia kita gak tau," ucap Gio terkekeh. "Katakan dah lama banget gak touring selama semester akhir ini. Dan sekarang kita udah libur."
Ravindra hanya mengangguk kepalanya dengan pelan sambil berkata, "Gua setuju aja, terus kapan?"
"Kenapa lu kek orang sibuk aja nanya kapan. Lu bakal kerja di perusahaan Papa lo?" Tanya Vano.
"Ya gak lah, kan ada kakak gua, jadi ya ngapain gua," jelas Ravindra. "Soalnya gua ada urusan bulan akhir ini."
"Widih," ucap Wisnu sambil tertawa. "Berarti touring nya harus sekarang juga dong, kan sekarang itu tanggal...," ucapnya sambil berpikir.
"Delapan belas," sambung Jordi.
"Nah itu " ucap Wisnu sambil tersenyum. "Jadi kapan bisanya, ini bisa-bisa jadi touring mendadak namanya."
"Gini aja deh, kan Papa gua ada Villa baru yang kalo kita pakai motor sekitar 3 jam baru sampe. Di sana di belakangnya juga ada pantai, ya yang bisa di bilang masih polos banget pantai nya, karena itu tempat baru dan belum buka," jelas Ravindra.
"Nah boleh tuh, daripada kita gaada tempat lain," ucap Gio yang setuju dengan saran Ravindra.
"Iya bener-bener, udah itu aja, jadi kapan kita pergi?" Tanya Vano yang tidak sabaran.
"Eh bentar-bentar, bawa pasangan gak nih?" Tanya Wisnu.
"Gak," ucap Vano yang jomblo akut. "Gua gausah pacar, gebetan aja gaada."
"Setuju sih gua," ucap Ravindra dengan santainya. "Lumayan juga."
"Gak-gak gak bisa, gua sama siapa?"
"Tenang aja, kita bisa bantu kok, masalah cewek mah kecil," ucap Wisnu. "Gua bisa dapetin dalam sekejap. Lu mau tipe yang gimana? Kecil? Imut? Tinggi? Cantik? Semuanya ada. Tinggal lu bilang aja mau yang gimana."
"Beneran lu?" Tanya Vano dengan penuh semangat.
"Iya dong," ucap Wisnu. "Yang gimana? Lagi baik nih."
"Terserah lu dah yang penting cantik," ucap Vano sambil tersenyum.
"Beneran ada lu?" Tanya Gio. Perasaan lu gak deket sama cewe manapun."
"Lu mana tau," balas Wisnu sambil mengangkat kedua alisnya sambil tertawa. "Lo emang temen gua sih, gua boongin aja lu percaya," ucapnya sambil merangkul pundak Vano.
"Bangs*** lu," ucap Vano yang wajahnya langsung berubah.
"Eh Vindra, perasaan kan temen Fiora ada tuh dua, ajak aja, biar rame," saran Gio.
"Iya nanti gua tanyain," balas Ravindra.
"Sekarang aja, biar enak cari cewek 2 orang lagi, atau enggak kita ajak geng Tigers, ya gak," ucap Gio sambil tertawa. "Silahturahmi ceritanya."
"Boleh tuh, pas pertandingan kemaren juga dia bilang mau damai kan?" Sambung Gio.
"Sebenarnya gua oke-oke aja, cuma kalo kita bawa cewe ada mereka—"
"Udah santai aja, Fiora gak mungkin di ambil kok," ucap Wisnu sambil tertawa kecil yang langsung di beri tatapan tajam oleh Ravindra.
"Sorry-sorry," ucap Wisnu yang takut.
Tiba-tiba handphone Ravindra berbunyi. Ia dengan segera mengambil handphonenya di meja dan mengangkatnya. Seketika mereka yang tadi asik berbicara langsung terdiam untuk mendengarkan pembicaraan Ravindra dan Fiora.
"Halo kenapa?"
"Iya bentar lagi aku ke sana, bye," ucap Ravindra sambil menutup telponnya.
"Gua pergi dulu ya. Ada urusan," ucap Ravindra sambil berdiri.
"Anjay orang sibuk," ucap Wisnu. "Touring nya jadi gimana? Lu telantarin gitu?"
"Nanti deh gua kasih info," ucap Ravindra lalu pergi meninggalkan mereka.
"Kayaknya gua juga ada urusan, dah lama juga di sini, gua duluan ya," ucap Jordi.
"Yah, kalo gini gua juga ikut," ucap Gio.
"Yakali gua sama si Wisnu," ucap Vano.
"Lah?" Ucap Wisnu sambil tertawa. "Yaudah ayok pulang, udah di bayar kan nih?"
"Paling udah di bayar sama si Vindra," ucap Gio.
"Tanya sana dulu," suruh Vano.
Gio hanya menghela nafasnya dan pergi ke tempat kasir untuk menanyakan pesanan mereka. Ternyata bener dugaan Gio. Pesanan itu sudah di bayar oleh Ravindra.
"Udah gua bilang, udah di bayar pasti, ayok balik," ajak Gio.
"Mastiin Gio," ucap Vano.
Mereka lalu segera pergi dari cafe itu dan masing-masing dengan urusannya.
.⋆。⋆☂˚。⋆。˚☽˚。⋆.
"Kok cepet banget kamu sampainya? Kamu ngebut ya? Kan dah aku bilang jangan ngebut sayang," ucap Fiora yang langsung saja memarahi Ravindra tanpa mendengarkan ucapannya.
"Dengerin dulu sayang," ucap Ravindra sambil mengelus pipi Fiora dengan lembut. "Tadi aku abis dari cafe sama mereka, cafe nya gak jauh dari sini."
"Beneran?" Tanya Fiora.
"Iya, ayok naik," ucap Ravindra. "Owh iya kamu udah makan?"
"Belom, kan abis dari sekolah langsung ke rumah temen ngerjain tugas. Mana sempat. Baju aku aja masih gini," ucap Fiora.
"Iya juga sih," ucap Ravindra yang terkekeh.
"Jadi? Mau langsung pulang?"
"Iyalah, kan aku malu kalo keluar jadi gembel kek gini," ucap Fiora.
"Gembel apanya sih? Kamu tetap cantik kok," ucap Ravindra sambil tertawa jahil.
"Tuh gak ah kamu boong, udah ayok anterin pulang," ucap Fiora lalu naik ke motor Ravindra.
Sesampainya saat di depan rumah Fiora. Ravindra langsung menghentikan langkah Fiora untuk masuk ke rumahnya.
"Kenapa?"
"Ada yang mau aku omongin."
KAMU SEDANG MEMBACA
FIORAVINDRA
JugendliteraturFiora Latasha Quenza. Ia adalah seorang gadis cantik dengan rambut panjang dan mempunyai mata yang indah. Ia dipanggil dengan sebutan Fiora. Fiora bisa dibilang adalah anak yang sangat dekat dengan Ibunya. Tapi sayangnya Ibunya sudah pergi meningga...
