"Jadi gini, yang namanya makhluk hidup yang bernama cowok, laki-laki, dia itu gak bakal bisa temenan sama cewek. Kecuali dia itu suka sama cewek itu."
"Enggak tuh contohnya si Akbar," kekang Naya.
"Ya lu mana tau Nay," balas Keisha.
"Terus gimana supaya kita tau?" Tanya Naya.
"Em kita buat rencana aja," saran Fiora.
"Saran apaan?" Tanya Naya lagi.
"Gatau sih," ucap Fiora sambil tertawa kecil.
"Yee parah lu Ra," balas Naya dan Keisha yang kesal. Padahal mereka sudah serius ingin mendengarkan rencana Fiora.
"Dah ah besok aja lagi, pikiran aja dulu rencananya. Pak Beni udah keluar ruang guru. Bye," ucap Keisha yang langsung berlari ke kelasnya.
"Ayok masuk, tuh si Bu Sri juga dah mau ke kelas," balas Naya sambil menunjukkan ruang guru.
.⋆。⋆☂˚。⋆。˚☽˚。⋆.
"Nay ke toilet yuk," ajak Fiora. "Gua kebelet nih."
"Lu tau kan kalo mau ke luar kelas harus ngapain dulu?" Bisik Naya.
"Ya kan tinggal kerjain di depan doang," balas Fiora dengan entengnya.
"Itu mah menurut lu aja, bagi gua enggak, nih ya biar pun sekalipun gua udah kebelet banget. Gua gak bakal mau ngerjain tuh soal," kekeh Naya.
"Yaudah deh, gua aja sendiri."
"Yakin lu? Di toilet ada penunggunya."
"Apaan sih Nay, ada-ada aja deh. Mana ada jam segini."
"Ya terserah lu."
Fiora hanya menghela nafasnya. "Ya sebenarnya gua juga takut. Tapi ya gimana. Udahlah," batin Fiora.
"Jadi gimana? Mau tetep ke toilet?"
"Bu," ucap Fiora sambil mengangkat tangannya.
"Iya kenapa Fiora?" Tanya Bu Sri.
"Saya mau izin ke toilet."
"Tau kan perjanjian kalo mau toilet saat jam pelajaran?"
"Tau Bu."
"Kenapa gak dari tadi sebelum saya masuk ke toilet nya?"
Fiora hanya tersenyum tipis karena tidak tau harus berbicara apa.
"Yasudah, maju ke depan dan kerjakan soal di depan."
"Keren Fiora," gumam Naya sambil memperhatikan Fiora.
Fiora lalu maju dan menyelesaikan soal itu dengan mudahnya. Ia lalu segera pergi ke toilet dengan terburu-buru.
"Lega juga," ucap Fiora yang baru keluar dari toilet. "Serem juga ya nih tempat," gumamnya sambil memperhatikan sekelilingnya.
Fiora lalu berkaca sambil membenarkan rambutnya. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuju Fiora.
"Itu setan apa manusia ya?" Batin Fiora sambil menghela nafas dengan pelan.
"Wih ada pacar Ravindra nih."
"Setan ternyata," batin Fiora sambil memperhatikan wajah Angel dan Elina.
"Seru banget ya. Baru pindah beberapa bulan aja udah dapet leader nya Osiris," ucap Angel.
Fiora hanya terdiam. Ia merasa tidak perlu menanggapi kedua manusia itu.
Fiora lalu segera ingin pergi dari sana. Namun tangan Angel mencegah hal itu.
"Eits, mau kemana? Sini aja dulu, takut ya?"
"Lepasin," ucap Fiora yang masih santai.
"Gua suka nih, ngelawan gitu ya gak Angel," ucap Elina sambil tertawa.
Fiora lalu menepis tangan Angel dengan pelan. "Kalo mau cari masalah sama gua pikir-pikir dulu. Akibatnya bakal fatal," bisik Fiora ke Angel lalu segera pergi meninggalkan mereka.
"Anj*** tuh orang," kesal Angel.
"Kenapa?" Tanya Elina dengan kesal.
"Dia siapa sih? Gua heran deh. Bisa-bisanya dia gak takut sama kita."
"Tenang aja, kita bakal kasih pelajaran buat dia," ucap Elina sambil tersenyum kecut.
"Lo emang sahabat gua yang terbaik El, kita liat aja dulu. Kita bakal cari momen yang tepat, buat ngerjain tuh orang," balas Angel sambil tersenyum tipis.
.⋆。⋆☂˚。⋆。˚☽˚。⋆.
"Nanti malam kamu kemana?" Tanya Ravindra sambil memperhatikan Fiora yang sedang melepaskan helm.
"Nanti malam?" Tanya Fiora. "Kenapa emangnya?"
"Sibuk atau gimana?" Tanya Ravindra lagi.
"Mau ngapain hayo," ucap Fiora sambil tertawa.
"Ya kita jalan."
"Kamu gak belajar gitu? Bentar lagi ujian loh," balas Fiora.
"Ya itu gampang."
"Gampang apanya. Mama kamu bilang aja kamu paling males belajar."
"Ya gak perlu belajar. Apa gunanya cap cip cup."
Fiora hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Gimana? Mau?"
"Enggak," balas Fiora sambil tersenyum. "Kamu harus belajar."
"Yaudah kamu ikut belajar. Kita belajar bareng," ucap Ravindra.
"Nggak ah yang ada gak fokus."
"Setidaknya kan belajar. Ya mau ya," ucap Ravindra dengan penuh harapan.
"Nanti deh aku pikirin."
"Yaudah aku gak balik nih, aku bakal disini sampai kamu mau," ancam Ravindra.
Bukannya merasa takut, Fiora malah tertawa melihat Ravindra yang mengancamnya bagaikan anak kecil.
"Gak guna lagi ancaman kek gitu. Gak berlaku lagi di tahun 2022. Jadi udah sana balik. Katanya kan nanti balik sekolah mau latihan basket."
"Ya gapapa, basket doang."
"Yaudah deh iya-iya," balas Fiora yang malas bertengkar.
"Gitu dong," ucap Ravindra sambil tersenyum mekar. "Yaudah, bye."
"Bye," ucap Fiora sambil melambaikan tangannya dan tersenyum.
.⋆。⋆☂˚。⋆。˚☽˚。⋆.
"Halo sayang," ucap Ravindra dengan antusias.
"Kenapa sayang nelpon?" Tanya Fiora sambil tersenyum malu-malu.
"Kamu udah siap? Biar aku jemput."
"Gausah, aku naik taksi aja."
"Kan aku ojek kamu. Ojek pribadi."
"Gausah, kamu pasti cape kan, pulang dari latihan basket. Balik ke rumah. Terus jemput aku lagi."
"Gapapa. Aku maksa. Dah bye aku tutup. Aku otw ke sana."
Tut...Tut...Tut...
"Yaelah malah di matiin," gumam Fiora.
KAMU SEDANG MEMBACA
FIORAVINDRA
Novela JuvenilFiora Latasha Quenza. Ia adalah seorang gadis cantik dengan rambut panjang dan mempunyai mata yang indah. Ia dipanggil dengan sebutan Fiora. Fiora bisa dibilang adalah anak yang sangat dekat dengan Ibunya. Tapi sayangnya Ibunya sudah pergi meningga...
