"Untung aja aku bawa buku, jadi bisa sambil belajar deh," ucap Fiora sambil membolak-balik halaman buku yang sedang ia pegang.
"Kalo cape tidur aja," balas Ravindra sambil tersenyum tipis melihat Fiora.
"Gak usah liat! Aku malu," ucapnya sambil tersipu dengan wajahnya yang memerah. "Jangan liat!" Sambil menutup wajahnya dengan buku itu. "Fokus nyetir, kasian loh anak orang kalo mati muda. Belom nikah juga."
"Iya-iya, pacar gua yang cantik banget," balas Ravindra lalu kembali fokus menyetir.
"Jadi gak sabar pengen cepet-cepet gede."
"Hm?"
"Ya biar bisa nikah sama lo," balas Fiora sambil tertawa kecil.
"Di mimpi?"
"Vindra!"
"Bodo ah mau ngambek!" Sambil mengalihkan pandangannya ke luar.
"Ngambek kok bilang-bilang sih," gumam Ravindra dengan pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Fiora.
Perjalanan yang begitu lama, membuat Fiora tanpa sadar ia sudah tertidur pulas. Ravindra yang menyadari itu lalu berhenti di tepi jalan. Ia menatap lekat wajah Fiora yang begitu cantik.
"Cantik," gumamnya sambil tersenyum dengan mata yang sangat sayu. Bola matanya seperti mengatakan kesedihan yang sangat sulit untuk di ucapkan.
Ia menghela nafasnya dan melepaskan jaketnya dan menaruhnya di badan Fiora agar tidak kedinginan dan tidur dengan nyenyak.
"Andai gua bisa menghentikan waktu," gumamnya sambil menghela nafasnya dan kembali menyetir.
.⋆。⋆☂˚。⋆。˚☽˚。⋆.
"Eh lu ngerasa gak sih ada yang aneh, tapi gaada," ucap Gio sambil memperhatikan jalan.
"Gak jelas lu Gio, nyetir lu yang bener!" Kesal Vano. "Gak usah mikir yang horor lu."
"Tapi bener loh," kekeh Gio.
"Udah ah tidur aja gua."
"Jangan woi, masa gua sendiri."
"Yaelah tuh depan mobil Ravindra, belakang Jordi. Lebay lu."
Gio hanya menatap tajam mata Vano dengan penuh kekesalan. Mungkin kalo membunuh itu tidak dosa. Bisa saja sudah lama ia melakukan hal itu.
Sedangkan di mobil Jordi, hanya ada kebisuan. Mereka bingung untuk berbicara apa, karena kurang akrab. Pada akhirnya mereka hanya saling melirik dan tertidur.
"Kalo lo cape, bilang aja, biar gantian," ucap Wisnu.
"Tidur aja lu," balas Jordi sambil tetap fokus menyetir agar tidak tertinggal dengan mereka yang di depan.
Tidak terasa waktu perjalanan mereka sudah berlalu. Mereka sudah datang di Vila Fiora.
"Cape banget gua," keluh Wisnu yang padahal sepanjang perjalanannya hanya tidur.
"Cape tidur?" Tanya Naya sambil tertawa kecil.
"Udah, ayok masuk," ajak Fiora. "Makanan keknya udah di siapin tuh."
"Asik makan," ucap Vano lalu segera masuk begitu saja dan diikuti oleh yang lainnya.
Sebelum makan mereka mereka membagi kamar, yang di mana ada tiga kamar di sana. Fiora, Naya, dan Keisha satu kamar, lalu Ravindra dan Jordi, kemudian Vano, Wisnu, dan Gio satu kamar.
"Yakin mau kayak gitu?" Tanya Naya sambil memperhatikan 3 laki-laki itu. "Gak gelud tuh ntar?"
"Biarin aja," balas Ravindra. "Paling ntar salah satu di antara mereka bakal tidur di luar.
Malam telah tiba. Suasana yang begitu hangat dengan di temani bulan dan bintang yang bertaburan di langit. Mereka semua berada di tepi pantai untuk pesta barbeque.
Mereka mengobrol dengan begitu menyenangkan. Berbicara tentang hal-hal yang mungkin bisa di bilang tidak penting. Hingga akhirnya mereka memperbincangkan tentang kuliah dan masa depan lainnya.
"Sumpah gua gak tau mau ngambil jurusan apa," keluh Vano.
"Sama, hahaha," tawa Gio sambil menepuk pundak Vano. "Kalian gimana?"
"Ikut orang tua," balas Jordi dengan singkat.
"Penurut amat lu jadi anak," kekeh Wisnu. "Lo gimana Vin?"
"Gua?" Tanya Ravindra yang bingung akan menjawabnya dengan apa. Fiora dan temannya hanya terdiam sambil mendengarkan obrolannya. Karena saat ini mereka masih kelas 11.
"Nah loh, Ravindra aja gatau, apalagi gua," ucap Vano. "Yakan Gio."
"Bener, setuju gua kali ini. Emang lu bakal kemana?"
"Gatau deh, gua males mau kuliah. Keknya gua kerja aja," balas Wisnu dengan santai.
"Apa gua kasih tau aja mereka sekarang ya?" Batin Ravindra sambil termenung dengan tatapan kosong.
"Vin," ucap Fiora. "Kamu kenapa?"
"Hah?" Tanya Ravindra yang masih belum tersadar. "Gapapa kok."
"Gua mencium aroma kebohongan," ucap Wisnu.
Fiora yang mendengar itu lalu mengangkat kedua alisnya. Ia bingung apa yang terjadi dengan Ravindra.
"Kalo ada masalah cerita. Ga usah di pendam. Aku gak suka kamu gitu Vin," ucap Fiora yang merasa sedih karena Ravindra menyembunyikan sesuatu darinya.
"Tau lu Vin," ucap Vano yang sedang mengunyah makanan.
Suasana di sana langsung terdiam begitu saja. Berharap Ravindra membuka suara. Tapi kenyataannya tidak begitu.
"Em, kita makan aja dulu, besok-besok kan bisa," ucap Naya yang berusaha agar suasana tidak menjadi kaku.
"Kan bisa sambil makan?" Balas Wisnu yang langsung bicara begitu saja. Jordi lalu langsung menatap mata Wisnu dengan tajam.
"Ah iya bener, gua laper banget," balas Wisnu yang baru mengerti keadaan.
"Tau ntar keburu dingin," balas Vano.
"Enak banget ini," ucap Naya. "Jarang-jarang makan di pantai kayak gini."
"Bener-bener," ucap Keisha yang setuju lalu sambil tersenyum dan menatap ke arah Jordi yang ada di depannya.
"Makan yang banyak," ucap Jordi yang tidak sadar dan mengambilkan barbeque itu ke piring Keisha.
Hal itu tentu saja membuat mereka semua tidak percaya dengan apa yang terjadi. Mereka menyorakinya yang membuat Jordi dan Keisha malu setengah mati.
Setelah beberapa menit kemudian. Mereka semua terdiam dan sibuk dengan makanannya. Hanya ada suara piring dan garpu yang terdengar.
Setelah mereka selesai makan. Mereka melanjutkan acara malam mereka dengan api unggun dan bermain truth or dare.
"Permainan yang gua tunggu-tunggu," ucap Wisnu sambil tersenyum. "Kalian pada tuh terlalu banyak sembunyikan sesuai dari gua."
"Bener-bener, jadi harus jujur," ucap Vano.
Mereka semua sangat antusias untuk bermain game itu dengan memutarkan botol dan jika botol itu berhenti di depan seseorang, maka ia wajib memilih truth or dare.
KAMU SEDANG MEMBACA
FIORAVINDRA
Genç KurguFiora Latasha Quenza. Ia adalah seorang gadis cantik dengan rambut panjang dan mempunyai mata yang indah. Ia dipanggil dengan sebutan Fiora. Fiora bisa dibilang adalah anak yang sangat dekat dengan Ibunya. Tapi sayangnya Ibunya sudah pergi meningga...
