Three.

85 23 5
                                        

Our First Lesson.

Lembah Duri senantiasa damai dan tenang. Tidak ada yang menjadi perhatian penting untuk Malleus belakangan ini. Sesuatu yang bersangkutan dengan gelarnya sebagai Raja sudah diselesaikan. Membaca selebaran yang ia dapat dari beberapa utusan, memberikan persetujuan atas pertimbangannya, memberi stempel untuk surat yang terbalas, semua sudah dikerjakan olehnya dengan baik. 

Yang dilakukan Malleus saat ini adalah mengikuti seorang bayi mungil yang masih merangkak. Tidak terdengar dengan jelas apa yang diocehkan bayi tersebut, tetapi Malleus masih mengikutinya tanpa suara. Sesekali Naleera terduduk memandang Malleus yang tak jauh di belakangnya dan melempar tawa lalu kembali merangkak.

Helaian coklatnya mulai tampak, sebenarnya Malleus ingin memperbanyak rambut itu menggunakan sihir. Namun Lilia melarangnya dengan alasan, 'Melatih kesabaranmu, Malleus.' Seperti itu.

Lantai batu tak menjadi masalah untuk Naleera merangkak, toh lantai ini juga halus dan tidak memiliki sesuatu yang cukup tajam untuk melukai kulit bayi yang puluhan kali lebih tipis dari kulit manusia dewasa.

"Ada apa?" tanya Malleus saat Naleera lagi-lagi berpaling untuk melihatnya. "Kau mau ke mana?"

Tentu Malleus tahu jika bayi itu belum bisa menimpali pertanyaannya. Namun siapa sangka Malleus akan rajin mengajaknya berbicara. Bertanya, atau mengajarinya mengeja walau ia sadar bahwa Naleera belum bisa mengikutinya. Dan Silver mengatakan kalau peri dalam Lembah Duri memiliki beberapa kesamaan aktivitas dengan manusia. Dan ini salah satu contohnya.

"Wow wow—"

"Hati-hati!"

Lilia nyaris menginjak jari-jari kecil Esme saat bayi itu sudah tiba pada salah satu belokan. Peri dengan tubuh mungil tersebut lantas tertawa mendengar seruan Malleus yang mengatakan hati-hati dengan begitu mantap. Seperti mengkhawatirkan sesuatu yang mungkin saja terjadi,

"Oho maafkan aku, gadis kecil." Segera lengannya membawa Naleera kecil dalam gendongannya. Lilia tanpa ragu membagi cumbana singkat pada pipi rona si kecil bermanik hijau serta beraroma bayi yang khas, "Malleus merawatmu dengan baik. Sayang sekali, suraimu belum tumbuh panjang." Tanpa sadar Lilia terkekeh dengan pernyataannya sendiri.

"Lilia habis dari mana?" koreksi Malleus yang segera menggugah Lilia dari aktivitasnya mengasihi Naleera,

"Aku? Hm... Iseng saja mampir ke toko pakaian. Membeli beberapa pasang gaun mungil untuknya."

Dahi Malleus mengernyit, "Beli? Aku tidak melihat barang bawaanmu."

"Langsung kucuci, dan kukeringkan. Semua sudah ada dalam kamar Esme." Lilia sama sekali tidak merasa terganggu dengan tangan kecil yang menelusuri wajahnya,

Malleus terkekeh, "Kurang kerjaan sekali orang tua ini."

"Memang tidak memiliki kerjaan saja, kan?" Lilia membalas jumawa, "Esme apa yang kau lakukan, hm? Sampai-sampai Malleus mengikutimu dari belakang?"

Sebuah senyum terpatri di bibir gelap sang Raja manakala Naleera hanya memberikan Lilia sebuah ciuman tanpa diminta, 

"Sudah. Aku ingin keliling hutan." Dengan tawa, ia kembali menurunkan Naleera di atas lantai, "Malleus, jika aku belum kembali sampai siang, pastikan kau dan Esme juga harus makan tepat waktu."

"Aku bukan anak kecil lagi, Lilia." Terdengar Malleus yang tampak sedikit terganggu dengan perlakuan Lilia yang masih terus menganggapnya sebagai anak kecil,

"Ini namanya naluri orang tua, Malleus. Haha."

Setelahnya, kunang-kunang berterbangan mengelilingi Esme yang membuat tangan-tangan kecilnya mencoba menangkap salah satu dari mereka. Perjalanan kembali dilanjutkan, Malleus masih mengikutinya dari belakang.

Kegiatannya berhenti sampai pada bibir perpustakaan. Memandang Malleus tanpa suara, Naleera menatap Malleus dengan wajah penuh ingin tahu akan tempat yang membawanya. Kaki jenjang Malleus melangkah, lengannya kembali menggendong Naleera dengan penuh kehati-hatian,

"Perpustakaan? Beginikah caramu memintaku untuk masuk ke dalam sini?"

Bayi tersebut memamerkan tawa. Memperlihatkan isi dalam mulut yang masih kosong,

"Jangan tertawa seperti itu, aku tidak akan selalu luluh."

Percuma saja Malleus. Nyatanya kau pun menyayangi anak itu.

Berdiri pada rak buku yang biasa dibacakan oleh Lilia saat dirinya masih kecil, atau pada rak buku di mana Silver dan Sebek selalu menghabiskan waktu membacanya, Malleus belum menurunkan Esme dari gendongannya,

"Hm, buku apa yang cocok untukmu?"

Seakan mengerti perkataan Malleus, tangan kecilnya menunjuk-nunjuk sesuatu yang berada di dalam rak sambil mengocehkan sesuatu sepatah dua patah. Lagi, dahi Malleus mengernyit. Ia tidak mengerti bahasa bayi, tetapi hal tersebut lantas tidak membuatnya kebingungan. Justru sebaliknya, ia tertawa hingga empat taring runcingnya terlihat.

Baru saja Malleus hendak menjulurkan jari lentiknya untuk mengambil salah satu buku, Naleera menangis hebat. Tampaknya ia ketakutan dengan taring-taring yang ada di dalam mulut Malleus saat deretan gigi seputih kepingan salju miliknya terlihat jelas.

Iris hijaunya membelalak diikuti bibir yang terkatup. Baru pertama kalinya Malleus membuat anak manusia menangis.

"T—tunggu. Jangan menangis. Aku tidak akan menyakitimu, sungguh."

Ohh, sia-sia saja Malleus. Anak itu malah menangis lebih keras. Namun untungnya, sang Raja tidak kehabisan akal. Menggunakan satu tangan untuk menenangkan tangisan Naleera, tangan lainnya mengudara dan mengepal. Dari dalam kepalannya keluar kupu-kupu yang dibentuk menggunakan sinar kehijauan.

Belasan kupu-kupu hijau kecil itu mengelilingi Naleera hingga membuat tangisnya teralih oleh kekuatan magis yang saat ini terbias dalam iris hijau miliknya. Terdengar gelak tawa dari Esme yang membuat Malleus bernapas lega sebab tragedi yang mengejutkanknya itu tertunda.

"Kau mau lagi?"

"Baah...."

Ocehan itu kembali terdengar. Tanpa makna, tanpa hal yang jelas. Namun Malleus sama sekali tidak merasa terganggu dengan kehadiran anak ini. Yang ingin dilakukannya adalah melihat perkembangan dan pertumbuhannya secara langsung. Kalbu sang peri terasa memiliki sebuah teman untuk saat ini, tidak lagi terasa begitu kosong sebab hari-harinya kini diwarnai oleh sosok mungil yang kini diajaknya pada salah satu kursi dekat tepi jendela besar.

Memangku Naleera dengan kaki panjang menyilang di bawahnya, Malleus mulai membacakan sebuah buku cerita bergambar yang ditunjuk asal olehnya. Jika tidak salah ingat, buku tersebut sering dibacakan oleh Lilia pada Silver dan Sebek saat mereka masih begitu kecil.

"Benar." ucap Malleus manakala tangan kecil itu meraba pada halaman buku, "Orang itu merupakan kesatria yang berani. Kalau dipikir-pikir, kita juga memiliki kesatria yang serupa. Seorang manusia sepertimu."

Cerita kembali dilanjutkan oleh Malleus, sesekali menimpali ocehan yang terkesan tidak bermakna sampai-sampai Malleus merasa kagum dengan Lilia yang mampu membesarkan dirinya, Silver dan juga Sebek. Bahkan Naleera pun tidak segan-segan dibesarkan oleh dirinya kalau saja Malleus memberikannya kesempatan.

Merasa ada yang janggal pada halaman terakhir saat Malleus baru saja selesai membacakannya, sang peri memanggil sebuah nama hendak memastikan sesuatu,

"Naleera?"

Tidak ada ocehan seperti biasanya. Sebab terlalu fokus pada bacaan, Malleus tidak menyadari kalau setengah tubuh mungil Naleera sudah berpaling. Miring dan menggunakan perutnya sebagai sandaran. Kelopak mata tertutup dengan tangan kecil yang meremat sedikit jubah sewarna langit malam yang Malleus kenakan, seakan enggan untuk dilepaskan walau hanya tertidur untuk sesaat,

"Inikah caramu berterima kasih padaku?" kekeh Malleus menutup buku cerita. Selepasnya, satu perlengangan tangannya digunakan untuk memeluk Naleera dari belakang, untuk mencegahnya jatuh. Sementara satu tangan lainnya memangku wajah rupawannya,

"Pelajaran pertama untuk kita cukup sampai di sini, benar begitu Naleera?"

date of update: June 26, 2022,

Revision: August 12, 2022

by: aoiLilac.

EvenfallTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang