Let's call her..., Eve. Eve Draconia.
"Silver."
Malamnya di perpustakaan terasa begitu mengejutkan sebab presensi daripada sang raja yang sudah duduk di sisinya. Tanpa suara napas, Silver terlonjak begitu melihat senyum tulus Malleus untuknya hingga kesatria itu berdiri tanpa sadar,
"T—tuanku!!" Ia menundukkan kepala, "Selamat malam, tuanku. Aku terkejut melihatmu di sisiku. Sungguh, maafkan segala kelengahanku, tuan. Maafkanlah aku."
Malleus menggerakan sedikit kepala ke kiri ke kanan,
"Duduklah, saudaraku."
Saudaraku..., Malleus bilang.
Sudut hati kecil Silver merasa begitu senang karena Malleus menyebutnya demikian. Menghilangkan rasa terkejut, ia kembali duduk di tempat semula tepat di sisi sang Raja,
"Kau tahu, segala keinginan Naleera adalah perintah yang harus segera kulakukan."
Silver tertawa kecil mendengarnya,
"Tuanku begitu menyayanginya. Lantas, ada apa malam-malam seperti ini, tuanku?"
Malleus terkekeh selepas memastikan Silver ingin mendengar ceritanya,
"Kau tidak tidur?"
"Belum ingin." Jawab Silver sekenanya, "Ada apa, tuanku? Wajahmu begitu berseri-seri malam ini. Seperti rembulan yang terpantul di atas air."
"Terlihat?" Malleus meraba wajahnya sendiri. Memang benar wajah sang raja tampak berseri. Senyum yang tidak pernah Silver lihat itu kini terbentuk di bibir gelapnya. Irisnya berbinar senang, seperti ada kabar istimewa yang harus ia bagi pada si kesatria, "Perempuan."
Satu kalimat yang membuat Silver harus memiringkan kepala tanda tak paham dengan alis sedikit berkedut. Ia memohon tanpa suara untuk meminta Malleus menjelaskannya.
"Di dalam sana ada keturunan. Dipastikan perempuan siang tadi."
"Ah," Silver mengerti mengapa tuannya begitu senang malam ini, "Sepertinya aku akan memiliki keponakan yang cantik."
Malleus mengangguk,
"Naleera mengatakan kalau aku yang harus memberikan nama untuk anak itu." Bibir gelapnya kembali menyambung, "Kami merundingkannya. Lalu memutuskan satu hal yang cukup kami pertimbangkan dengan sangat baik."
Silver mendengarkan,
"Tolong pikirkan sebuah nama untuk anak perempuan, Silver."
Sang perak membulatkan mata terbelalak. Iris aurora miliknya tampak berkaca, memandang Malleus lurus-lurus hingga ia tak sadar bahwa Malleus telah meraih kedua tangannya. Sang Raja mempertemukan punggung tangan keriput itu pada keningnya sendiri. Hal tersebut membuat Silver menggeleng, ia tidak mampu membendung segala emosi di dalam dadanya.
"Tidak seperti ini, tuanku. Aku mohon."
Malleus memandangnya,
"Mengapa harus diriku, tuan? Apa Esme dan kau benar-benar sudah memikirkan hal ini dengan matang?"
"Esme tidak pernah meminta apapun dariku." Jawab sang Raja, "Ia tidak pernah menuntutku. Gadis naif itu selalu membuat pribadiku semakin baik setiap harinya. Ia adalah sosok yang membuatku menjadi diri sendiri, Silver. Dan aku tidak ingin mengecewakannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Evenfall
FanfictionEvenfall; the beginning of evening; twilight; dusk. "Mengapa kau memilihku sebagai pengantinmu? Aku hanya manusia beruntung yang diselamatkan olehmu, tuanku. Aku fana, tidaklah abadi seperti kalian." Diamnya Malleus merupakan penyangkalan. Dari tubu...
