Twenty Two.

58 21 14
                                        

Novaer, Ionneg.

Mungkin beberapa pihak mengenalnya sebagai kriminal perang sebab ketangguhannya pada perang terakhir yang menutupi buana dalam bayang dusta. Sosoknya yang tidak pernah ambruk, setangguh tumpukan karang layaknya sebuah benteng yang kokoh dibalik tubuh mungilnya.

Namun dibalik semua kekutaannya, ada satu yang tidak mampu ia taklukan dengan baik; emosi. Kentara sebuah nestapa yang bersemayam di balik daksa yang termenung di tepi kawah, memendam jeritan dalam sukma membiarkan derai terjun bebas membasahi dua belah pipinya dalam diam. Hatinya hancur, tiada asa yang tersisa. Hanya doa kepada gemintang yang senantiasa mengawasi pergerakannya, untuk membimbing, memberi cahaya pada seseorang yang berjalan sendirian di dalam gelap kelak.

Relung hati yang paling dalamnya tahu akan hal ini. Sesuatu di dalam dadanya jelas paham mengenai siklus kehidupan fana daripada seorang manusia. Salah satu komponen dalam proses kehidupan seorang manusia; kembali bertemu tanah.

Silver sudah menua.

Ia benar-benar sudah tidak mampu meninggalkan ranjangnya. Saban hari, tubuhnya kian melemah. Ia menolak untuk makan. Hanya minum air hangat saat ia menginginkannya. Sejak semalam, Lilia yang berada di sisinya tidak bisa menahan diri untuk tidak keluar dari lingkungan kerajaan sebab Silver tidak merespon apapun saat namanya dipanggil.

Suhu tubuhnya begitu hangat, tetapi bukan demam. Napasnya pelan dengan denyut nadi yang benar-benar lembut berkedut saat Lilia memegang dan merasakan dibalik kulitnya yang mulai berkeriput.

Semua memori tentang Silver kembali merakit potongan-potongan puzzle menjadi sebuah rangkaian film yang terputar di dalam benak. Dari hari di mana Lilia menemukannya, hingga merawat sosok itu menjadi pemuda yang begitu tenang seperti riak air di dalam telaga. Menyekolahkannya dalam kampus sihir ternama, sampai abdinya kepada Malleus. Lilia begitu menikmati waktunya hingga ia terlupa akan suatu hal mengenai siklus kehidupan manusia yang tidak abadi. Hingga ia sadar bahwa Silver sudah benar-benar menunjukkan penuaan yang tidak bisa dielak. Air matanya tak lantas mengering, walau ia tahu betul siapa yang menghapusnya dengan sapu tangan hitam dengan motif mawar putih buatan tangan,

"Mengapa kau bisa sampai ke mari, wahai Pangeran?"

Lantas bibir gelapnya mengukir sebuah senyum tipis menjawab pertanyaan ringan yang tertuju untuknya,

"Naneth memintaku untuk membawamu pulang."

Lilia tertawa kecil menanggapinya,

"Aku ketahuan."

"Tidak sulit menemukanmu." Suaranya begitu tipis dan tenang seperti Malleus, "Lagipula aku adalah anak Raja."

Iya, Eden adalah anak Raja. Darah Malleus mengalir dalam nadinya, tetapi sekali lagi, jiwa peri muda itu adalah milik ibunya. Ibunya akan terus hidup di dalam sana.

"Ayah dan adikmu bagaimana?" Lilia melanjutkan sembari menepuk sisi yang kosong, mengajak Eden untuk duduk di sisinya.

Tanpa penolakan, Eden mengikuti ajakan kakeknya. Dua ekor naga di belakang tubuhnya bergerak ke atas ke bawah menciptakan sedikit bunyi dari kulit yang keras bertemu dengan karang yang menjadi alas keduanya,

"Adar sepertinya tengah menenangkan tamu dari negeri Pasir Panas. Kudengar ia teman pamanku dulu, ya? Kulitnya gelap, surainya putih."

Sepertinya Lilia tahu siapa yang dimaksud oleh Eden,

"Lalu Thelig, ia masih menggengam tangan paman Silver. Naneth masih tidak berhenti menangis. Matanya mulai merah dan agak membengkak. Ayahku pun turut kesulitan untuk menghentikan tangisannya, jika ayahku tidak bisa, maka tidak akan ada yang bisa menghentikan air mata ibuku."

EvenfallTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang