Chapter 2 : Satu Kelas

149 27 12
                                        




Ini mah ketahuan banget dodolnya




"Nama gue Lee Jaehee. Salam kenal, semuanya."

Anak-anak kelas 11 IPA 2 bertepuk tangan buat perkenalan singkat dari Jaehee, anak baru di kelas mereka.

"Woo, bangun anjir. Akhirnya ada cecan di kelas kita."

PLAK!

"Heh! Lo pikir gue bukan cecan gitu?"

Haruto yang habis digeplak pakai buku catatan keuangan kelas sama bendahara, sebut aja Jihan, langsung meringis kesakitan.

"Lo jadi perempuan lembut dikit bisa kaga sih?"

"Kalau lo terkecuali. Nggak bisa."

Jeongwoo yang terusik atas perdebatan kedua temannya itu menoleh. Tapi nggak tertarik. Alhasil dia balik tidur lagi.

"Pasti masih cantikan tetangga gue, ehehe."

Sakau tambah teler nih anak kayaknya. Padahal orangnya sama.

"Betah-betah ya di sini, Jaehee. Kamu boleh duduk di belakang Haruto."

Haruto yang disebut sama gurunya langsung angkat tangan, "Gue Haruto!" Asyik belakang gue cecan. Jihan nggak dianggep, ya oke.

Sambil menunggu Jaehee duduk, sang guru juga duduk di kursi depan dan membuka laptopnya. "Sekarang kita ulangan bab enam. Soalnya 20 nomor pilihan ganda. Kalau udah belajar, pasti bisa. Khusus Jaehee, karena murid baru, Ibu kasih keringanan boleh open book."

"Terima kasih, Bu."

"Hai, Jaehee!"

Jaehee menoleh ke sampingnya begitu ada yang menyapanya. "Hai, na-"

"Jihan, kamu jangan nyontek dari Jaehee. Awas aja. Jaehee, kalau Jihan minta jangan dikasih."

Jaehee tersenyum. Sedangkan Jihan udah cemberut. Haruto mau ketawa keras lihat Jihan ditegur sama gurunya. Jeongwoo masih molor.

"Nama gue Jihan. Lo udah denger kan dari gurunya?"

"Iya. Tenang aja, gue kasih jawabannya."

Mata Jihan terbelakak, "Serius?"

"Serius."

Ingin rasanya Jihan teriak tapi nanti gurunya makin curiga. Jadi teriak dalam hati aja.

Sementara di meja depan, meja Jeongwoo dan Haruto, masih ada di waktu membangunkan Jeongwoo sebelum Haruto kena amuk gurunya.

"Woo, bangun anjir. Masih pagi malah molor lagi. Ulangannya mau dimulai. Bangun nggak? Kalau kaga gue teriak nih ke gurunya."

"Hmm. Iya, Ma," Jeongwoo bangun dari posisi tidurnya dan mulai membiasakan matanya untuk menangkap cahaya.

"Ma mo ma mo, lo kata gue sasimo."

"Nggak, anjing. Biasa aja dong, beb."

"Najis, Park Jeongwoo."













"Psst! Jeongwoo."

"Noleh, woi! Ah elah."

"Apaan?" Jawab Jeongwoo, dirinya sudah membungkuk supaya tidak terlihat dan menoleh ke belakang.

"Ini dari Jaehee."

Jeongwoo menatap selembar kertas yang dilipat-lipat itu. "Kayak kenal," gumamnya ketika mendengar nama itu.

"Anak baru tadi namanya Jaehee."

Haruto peka banget.

Jeongwoo udah pasang muka 'Dih, ada gue nanya ke lo?'.









Hai, Jeongwoo. Gue Jaehee semoga lo masih inget sama gue. Gue tetangga kemarin yang baca novel di ayunan. Ini jawaban ulangannya. Lo boleh kasih ke Haruto. Harusnya jawabannya bener semua soalnya gue open book. Semangat ngerjainnya!

1. A

2. B

3. ...








Pemuda yang membaca tulisannya itu menjadi diam seribu kata, lebay. Nggak, Jeongwoo cuma bengong aja.

"Mampus. Kelihatan tololnya kan gue."

Jeongwoo mau nangis aja. 









Halo halo! Aku bawa chapter 2, nih. Semoga pada suka ya! Aku mau kasih tahu aja, kalau book ini bakal update setiap hari karena kalau dipikir-pikir lama juga upload satu chapter cuma buat seminggu doang. Aku bakal upload tapi nggak akan nentu jamnya, jadi tungguin yaa

Ini visualisasi (lagi) buat denah kelas 

Ini visualisasi (lagi) buat denah kelas 

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Neigh(boy)hoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang