Chapter 3 : Following

125 25 8
                                        




Dia bidadari bukan ya? Kalau bukan, berarti apa? Soalnya mirip banget




"Jihan, udah selesai?"

Jihan mengangguk, melihat seisi kelas. Udah sepi, hanya dirinya, Jaehee, dan satu bocah laki-laki di depan mereka, Haruto. "Huuuuh, untung lo kasih contekan. Coba kalau nggak, mati gue. Makasih ya, Hee."

"Iya, sama-sama," ucap Jaehee, dirinya duduk di tempat duduknya dan mengeluarkan bekalnya.

Oh iya, udah istirahat sekarang. Kebetulan tadi tiga jam pelajaran.

"Itu dari lo, Hee?" Tanya Haruto.

Jaehee mengangguk. "Kenapa? Ada yang salah ya?"

"MAKASIH YA JAEHEE! GUE BERSYUKUR BANGET DAPET KUNCI JAWABAN DARI LO! KALAU NGGAK, BISA-BISA NILAI GUE ANJ-"

"Makan nih makan," Jihan menyuapi Haruto sepotong roti yang menjadi bekalnya. Lebih ke menyumpal sih bukan menyuapi. "Terus lo mau bilang apa? Anjing?"

Haruto menatap Jihan julid tapi mulutnya mengunyah roti dengan selai cokelat itu. "Anjlok. Makanya orang ngomong itu didengerin dulu sampai selesai."

"Lo teriak-teriak. Berisik. Suara lo ngalahin suara guru musik. Melengking kayak lumba-lumba."

"WOI JIHAN! TUNGGU GUE! AWAS LO JANGAN KEMANA-MANA!"

"WLEE KEJAR GUE KALAU BISA!"

"BOCIL SINI NGGAK LO!"

Jaehee tertawa dan segera berlari menyusul mereka berdua yang udah lari-larian di koridor. Nggak lupa buat bawa kotak bekalnya.

Dia nggak nyadar ada orang yang baru aja mau masuk ke kelasnya bawa susu pisang dan senyum-senyum sendiri.

Bug

"Eh, sorry. Gue nggak lihat."

Jaehee tersenyum canggung. "Nggak apa-apa, gue juga salah main lari-lari aja. Mau ke mana?"

"Gue mau ngejar Jihan sama Haruto, Woo."

"Nggak usah dikejar. Nanti juga mereka balik sendiri, mending ikut gue. Yuk."

"Ke mana?"

"Lo kan anak baru jadi harus lihat-lihat sekolah. Gue jadi tour guide lo gimana?"

"Boleh. Ayo!"

Bukannya memimpin, Jeongwoo malah ngikutin Jaehee dari belakang. Sesekali mereka berhenti, bukan, Jaehee berhenti ya Jeongwoo tungguin buat lihat mading di sepanjang koridor.

"Ini ruang apa, Woo?"

Tuh kan, hampir lupa kalau Jeongwoo sebenernya mau kenalin seluk-beluk sekolahnya.

"Ini ruang latihan anak-anak teater. Sebelum mereka tampil, mereka biasanya latihan di sini. Tapi kadang mereka pakai aula juga kalau nggak dipakai anak paduan suara. Ruangan buat ekskul gue kenalin kapan-kapan. Ayo ke sana."

Perempuan itu mengangguk paham. Nggak hanya sesekali Jaehee bertanya, tapi anehnya Jeongwoo nggak capek buat jawabnya. Beda kisah kalau Jeongwoo jawab soal fisika di papan.

Sampailah mereka di tempat kesukaan murid sekolahnya buat kabur dari kelas, yaitu kantin belakang.

"Ayo, beli makan."

"Gue cari tempat duduk aja, Woo. Gue bawa bekal. Duluan ya. Nanti nyusul aja."

Belum menjawab pernyataan Jaehee, perempuan itu langsung meninggalkan Jeongwoo.

"Gagal deh." Jeongwoo terlihat 5L. Lemah, letih, lesu, lunglai, lemas.

"WOI! Melamun aja lo. Kesambet apa gila?"

Haruto dengan suara bass tapi melengkingnya itu merangkul pundak sahabatnya sampai Jeongwoo tergoncang ke depan karena nggak bisa nahan bobot badan Haruto.

"Bisa nggak sih lo kalau nyapa tuh yang sopan dikit?"

"Ngapain? Lo aja lebih muda daripada gue. Ogah banget gue."

Untuk dua kalinya, lawan bicara Jeongwoo meninggalkannya sebelum dia mengeluarkan satu patah kata pun.

"Orang-orang di dunia ini ngeselin kecuali Jaehee. Hehe."

Anaknya pun langsung lompat-lompat nggak jelas dan nggak lupa buat pesan mie ayam sebagai pengganjal perut.

"Halo, fans Jeongwoo. Udah pada nggak sabar banget nih nungguin gue."

Jihan menatap Jeongwoo sebal, "Apa sih? Nggak jelas lo hidup jadi manusia."

"Tenang dong mbaknya. Bercanda doang. To, lo apain tuh kelinci."

"Gue bukan kelinci ya, serigala!"

"Diem lo bocil!"

Jaehee hanya tertawa kecil, dia menyantap nasi goreng buatan mamanya sesekali dan merespon jika ditanya.

"Jaehee kalem banget. Nggak kayak lo, Han."

Jihan yang sedang melamun melihat ke arah Haruto, "Berisik lo, biawak. Tungguin aja. Lo juga gitu kan waktu satu minggu jadi kelas 10, sok alim."

"Sok iye banget lo."

"Halah, bener, nyet. Lo emang dulu sok alim. Najis gue lihatnya," timpal Jeongwoo. Setelahnya dia pergi untuk mengambil mie ayamnya yang udah jadi.

"Bener, To. Gue awalnya aja diem, nggak banyak omong. Lo lihat aja nanti ke depannya."

Jihan membuat wajah mengejek pada Haruto. "Tuh denger, dia sendiri yang ngomong."

"Lo mau gue kejar lagi nggak? Kebetulan tenaga gue masih ada. Atau mau berantem di tengah lapangan?"

"Nggak. Makasih tawarannya, gue mau lihat Jaehee makan aja."

Jaehee tersenyum begitu melihat Jihan benar-benar melihatnya.

Haruto berdiri dari tempat duduknya dan mengangkat tangan Jihan supaya dapat berdiri. Satu tarikan aja cukup. Jihan terlalu mungil.

"Mau apa lagi lo?!"

"Woo, minta uang dong."

Jeongwoo yang baru aja balik dari tukang mie ayam udah dipalak aja. Tanpa babibubebo, tangannya meraih selembar uang dua puluh ribu dan memberikannya kepada Haruto.

"Ambil aja kembaliannya."

"Ye, lo kata gue driver online food?"

"Kaga, lo jasa bersih-bersih rumah."

"Bodo amat. Yuk, Han. Kita jajan, ditraktir Jeongwoo."

Jihan berteriak kegirangan. "Jaehee nggak mau ikut?"

Jaehee menatap Jeongwoo yang sedang makan mie ayamnya dan menggeleng, "Kalian aja. Gue nungguin Jeongwoo makan. Kasihan baru beres dibuat makanannya."

Jeongwoo mengangkat wajahnya melihat Jaehee, mulutnya belum menutup karena masih ada mie yang mengayun belum siap dimakan, bengong.

Jaehee ini bidadari kah?

"Komuk lo bego!" Haruto mengusap muka Jeongwoo dengan kasar.

"ASEMMMMM! TANGAN LO ASEM, TO!"

"Dilanjut makannya, Woo."

Iya kalau sama ayang baru nurut. Bener kan, Woo? 









Komen kalian mood banget sumpah, love love pokoknya

Neigh(boy)hoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang