Waktu berlalu begitu lama, pagi ke pagi dimana hari-hari tampak tak menunjukkan perubahan, yang lebih parahnya terkadang malah hal buruk tiba-tiba hadir begitu saja tak mengindahkan hari-harinya.
Pagi ini Arum sudah kembali ke kost-kostannya, anak itu sudah pulang pergi bak jarak antara rumah dan kost-kostannya dekat saja, untungnya ia menggunakan motor sendiri jadi tak perlu takut dengan biaya ongkos karena bahan bakar motornya yang irit.
Sebagai kakak yang tertua Arum harus menjaga adik-adiknya, jadi jiwa kepeduliannya memang lebih tinggi dari pada kedua saudarinya, tak apa ia tak makan enak di kost-kostan asal keluarganya di rumah selalu berkecukupan.
Kala ini Soraya hendak pergi menuju taman bersama seseorang, Arsel tentunya. Mereka memang jarang sekali chatingan dan lebih suka langsung bertemu, kalau dipikir-pikir hubungan mereka juga hanya sebatas teman.
Tak berapa lama Soraya menunggu di teras rumahnya atas kehadiran Arsel, sesosok itu pun datang dengan mobil hitam ayahnya, ia keluar dari mobil itu lalu terlihat tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapih.
Arsel berjalan ke arah Soraya dengan sumringah. "Udah lama nunggunya?"
Soraya menggeleng sambil ikut tersenyum. Lalu Arsel membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Soraya masuk, Soraya sedikit tertegun karena perlakuan sederhana dan manis Arsel.
Di tengah perjalanan mereka tampak berbincang-bincang tentang hal random. "Kenapa milih ke taman, padahal nonton bioskop jauh lebih enak menurutku. Ada film bagus juga hari ini, judulnya kalo ga salah 'Ku Kira Kau Rumah'," protes Arsel.
Soraya melirik Arsel yang tengah menyetir. "Ga enak nonton, tiketnya lagi mahal dan pasti rame di sana, enakan ke taman soalnya lebih tenang aja." Arsel mengangguk setuju.
Tak berapa lama Arsel memutar lagu agar mengurangi rasa canggung diantara mereka, masih lagu yang kemarin 'Ramai Sepi Bersama' dari Hindia.
"Kamu ga bosen sama lagu ini?"
Arsel mendelik atas pertanyaan Soraya. "Engga, sih. Aku kalok muter lagu ini jadi keinget kamu terus," jawabnya sambil melirik lekat wajah Soraya.
Soraya menyeringai, lalu berlagak membenarkan anak rambutnya yang berjatuhan, ia mengikuti lirik lagu itu dan bernyanyi dengan pelan sampai Arsel sadar dan tersenyum, lalu Arsel ikut bernyanyi dengan pelan hingga akhirnya mereka bernyanyi bersama dengan suara yang agak kuat sambil melepaskan perasaan lega.
Saat semua tak jelas arahnya
Kita hanya punya bersama
Lewati curam terjalnya dunia
Ramai sepi ini milik bersama
Ramai sepi ini milik bersama
Kita sama-sama takkan ke mana
Selama kau ada aku tak apa
Apa pun yang terjadi tidak apaSampailah mereka pada tujuan. Mereka turun dari mobil, Arsel membuka bagasi belakang, ia mengambil bag pack besar dan sebuah tempat berisikan benda piknik yang sudah diminta Soraya persiapkan.
Mereka berjalan mencari spot terbaik di sana, yang rindang, sepi dan juga mengarah ke kolam ikan. Setelah mendapatkan tempat yang nyaman, mereka menggelar karpet dan juga menata jus dan pancake yang mereka beli di toko Karina saat menuju ke sana.
Setelah akhirnya selesai semua, mereka duduk bersama, terasa menenangkan.
Arsel membuka bag pack tadi. "Apaan itu, Sel?" tanya Soraya sebelum mengetahui bahwa itu adalah alat-alat untuk melukis, Soraya tersenyum penuh arti. "Kamu mau lukis pemandangan di sini?" tanyanya.
"Iya, cantik soalnya."
Soraya mengangguk setuju, pemandangan disini memang bagus apalagi mengarah ke kolam ikan yang terlihat indah sekali. Arsel menata alat lukisnya lalu mulai menghadap ke Soraya. "Ray, senyum, terus diem, ya," pintanya pada Soraya.

KAMU SEDANG MEMBACA
DEGRITLY (Tamat)
Teen FictionIni tentang sebuah keluarga, bagi sebagian orang keluarga adalah tempat bersandar paling nyaman, tempat penerimaan yang tulus, tempat belajar paling pertama, tempat untuk menuntun kita dalam mengambil keputusan, tempat cerminan diri, tempat yang pal...