11

852 97 8
                                        

Setelah acara sekolah selesai, Minho membawa mereka pergi untuk menikmati es krim di sebuah caffe langganan sang tuan Emerald.

" Jeongin pelan-pelan sayang! Ya ampun!" Tegur Seungmin saat ceceran es krim coklat itu menetes pada kaos putih Jeongin.

" Sudah biarkan saja. Percuma jika kau terus mengusapnya sekarang. Fokus saja pada es krimmu yang sudah mulai mencair." Minho menasehati.

" Tapi___"

" Jika kau terus memanjakannya, Jeongin tidak akan pernah belajar untuk dewasa. Biarkan saja --- Jeongin sayang, makanlah dengan hati-hati agar pakaianmu tidak kotor, supaya mama mu juga bisa menikmati es krimnya. Apa kau mengerti?" Ucap Minho lembut.

" Baik ayah! Mama --- In bisa sendiri! Mama makan saja es krim mama." Jeongin tersenyum.

" Nah itu baru anak pintar!" Puji Minho.

" Ayah! Apa aku boleh tambah lagi es krimnya?" Tanya Jeongin.

" Jika itu sudah habis, kau bisa pesan sebanyak apapun yang kau inginkan sayang." Jawab Minho hangat.

" HOOREE!!" Sorak Jeongin gembira.

" YEAY!!" Felix pun ikut bahagia bersama Jeongin.

" Aku tidak pernah melihat Jeongin sebahagia ini. Dia terlihat begitu manja pada tuan Lee. Seandainya Hyunjin bisa bersikap lebih hangat pada Jeongin, dia pasti tidak akan kesepian." Gumam Seungmin dalam hati seraya mengamati senyuman lebar sang buah hati.

" Cobalah!" Minho menyodorkan cone es krimnya. Seungmin yang melihat lelehan es krim menyentuh tangan sang tuan, refleks dia pun menjilat cairan es krim tersebut.

Ketika tersadar, wajah Seungmin seketika memerah seperti kepiting rebus. Dia pun mengalihkan pandangannya ketempat lain untuk menghindari tatapan lawan.

" Ma --- maaf tuan. Aku --- tidak bermaksud bertindak tidak sopan begitu!" Seungmin menggigit ujung bibirnya.

" Hm.. tidak masalah." Ucap Minho canggung. Minho terus mengamati lelehan es krim yang kini kembali membasahi area yang tak sengaja dijilat oleh Seungmin. Dengan senyum tipis, Minho juga menjilat bagian tersebut.

Ponsel Minho tiba-tiba berbunyi nyaring dan sang pemilik segera mengangkat panggilannya.

.
.
.

[ MH ] " Aku masih di luar, letakan saja laporannya di meja kerja! Hm! Terimakasih."

.
.
.

" Mama! Mama! Hooaam.." Felix menguap panjang tanda mata biru telah kehabisan tenaga.

" Mama... In mau pulang! Hoooamm! Aku mau tidur!" Jeongin mengusap matanya.

" Astaga sayang! Jangan mengusap matamu! Lihatlah tanganmu penuh dengan es krim coklat!" Seungmin membersihkan tangan Jeongin dan wajah sang anak dari sisa makanan manis itu.

" Mama... Mama..." Felix pun mengulurkan tangannya yang tak kalah kotor.

" Sepertinya dua jagoan kita butuh dicas ulang, baiklah ---- ayo kita pulang! Aku akan mengantarkan kau dan Jeongin lebih dulu."

" Ah! Tidak perlu tuan. Kelihatannya anda sedang sibuk. Aku bisa membawa Jeongin pulang dengan menaiki kendaraan umum atau taxi mungkin."

" Ayah... In mau pulang dengan ayah. Aku mau di gendong ayah." Jeongin merengek pada Minho.

" Jeongin, tidak boleh! Tidak baik seperti itu." Seungmin dengan cepat menurunkan tangan Jeongin yang sudah merentang kearah Minho.

" Tidak apa-apa, kemarilah sayang!" Minho dengan senang hati mengangkat tubuh kecil Jeongin.

[ BL ] BLUE EMERALDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang