HAAAAIIIIII! KAM BACK KAW!!!
Btw gimana 41 kemarin?? serius Zii kemarin sengaja banget ga nulis AN yang mengundang komen. Jadi di sini aja. Gimanaa Kaw?? sampe sini pahamkan kenapa Retta? kalau belum nangkep, coba Zi kasih kesimpulannya ya, Retta punya goals guys, bukan cuma ngerusuh hidup orang doang. Cukup jelas?
Kalian gamau bilang, "Kasian Retta."? sini sini, yang kasian sama Nenek Lamvir.
Oke, sebelum lanjut seperti biasa, ada baiknya tinggalin jejak dulu.
Happy Reading!!
***
42. Si Cowok Pasif
Pagi itu seluruh bagian Penjunjung dibuat heboh karena tersebarnya video pendek Retta yang sempat masuk ke setiap ponsel mereka sore kemarin kemudian hilang tanpa jejak di pagi harinya.
Beberapa dari mereka masih membicarakannya karena tidak percaya kalau Retta tega melakukan hal seperti itu, tapi, sebagian lainnya merasa muak dengan Retta yang ternyata bermuka dua. Kemudian, mereka yang pernah menjadi bagian dari perbuatan Retta memilih berdiam diri, membiarkan sang pelaku mendapatkan sanksi sosialnya.
Sedang seluruh sekolah membicarakan Retta, gadis itu malah menghilang, sama sekali tidak menunjukkan dirinya di Sekolah, membiarkan Gisel—sahabatnya, merasa khawatir, juga takut, terlebih ia menerima berbagai pertanyaan dari temannya.
Di depan ruang yayasan, empat orang siswa tengah menanti salah satu dari mereka keluar dari ruangan tersebut.
Valen yang sejak tadi memaksakan dirinya masuk, kini hanya mondar mandir di depan ruangan, sesekali mengintip dari sela-sela jendela yang tertutupi tirai. Sedangkan, di sisi lain, Kyla, Vanno dan Ben hanya mengarahkan pandangan mereka mengikuti langkah Valen.
"Len duduk sini, gue yang ngeliatin aja capek loh," ajak Ben yang tengah menyenderkan tubuhnya di tembok.
"Duhh! Kate di dalam diapain ya??" Valen menggigit sisi dalam bibirnya.
Cklek!
Saat pintu terbuka, Valen tadinya berhasil ditarik duduk di samping Ben, kini sudah pasang badan, tepat di muka pintu. Gadis itu segera membawa Kate menjauh. Ia benar-benar khawatir, karena ini bukan kali pertama Kate mendapatkan panggilan secara langsung ke ruang yayasan.
"Weh-weh! santai woi." Kate meraih lengan Valen yang masih membawa tubuhnya pergi, meninggalkan tiga orang lainnya.
"Lo diapain? maafin gue ya, lo jadi kepanggil lagi." Valen memutar tubuh sahabatnya, memeriksa satu persatu bagian tubuh gadis itu, masih lengkap atau tidak.
Perubahan raut wajah Kate yang mengundang rasa empati kemudian membuat Valen merasa gelisah, menunggu balasan dari temannya.
"Kate? lo di DO?!" belum mendapatkan jawaban, Valen mengulangi pertanyaannya,"Kate, jangan diem aja, lo di DO?"
Kate tersentak ketika mendengar kata DO, sahabatnya ini benar-benar tidak bisa mengerem mulutnya. Lihat saja, bahkan sekarang tiga orang lain yang tengah terduduk di lantai dengan tenang jadi lari terbirit menemuni mereka berdua karena mendengar kata DO.
"Apaan sih! mulut lo lemes banget, diem dulu!" potong Kate ketus.
"Gimana Kate jadinya?" tanya Kyla nimbrung.
"Aman," Kate menunjukkan jempolnya, "tapiiiiiiii," lanjut gadis itu sengaja membuat temannya menunggu.
"APAAN?!" seru Valen gemas.
"Gue disuruh milih hapus video Retta dari drive sama bin, atau gue di skors."
Jawaban itu kemudian membuat mereka semua yang mendengarnya membelakkan mata. Penonton kecewa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kyleon
Teen Fiction[ Update sesuai mood ] "Ada masa lalu yang belum selesai, juga hati dan logika yang tak sinkron." 27-12-20 🌻💛
