15. Paja

43 9 0
                                        

Happy reading💆

"Kok gak putus sih?!"

"Lo aja kali mainnya lembek. Elin kebal kalo lo tau. Mau teror pakek darah pun gak bakal mempan, karena apa? Karena dia udah dilatih sama cowok... ck gue gak tau cowok itu siapa, cowok itu gak pernah lepas masker dan Hoodie nya kalo ngajarin dia."

Cewek itu menunduk. "Terus aku harus apa?"

Cowok itu tersenyum tipis. "Cari tau masa lalu mereka. Insting gue bilang, kalo mau buat mereka kalah, harus ada sangkut pautnya sama masa lalu."

"Masa lalu?"

"Hm, masa lalu. Dan masa lalu mereka gak jauh-jauh dari Alex, Devan, dan Deran."

"Apa hubungannya?"

"Ya kalo gue tau, ngapain gue suruh lo cari tau tentang masa lalu mereka!"

Cewek itu berdecak.

"Terus gimana?"

"Punya otak kan? Pakek! Buat apa tu otak kalo gak lo pakek, pajangan?"

"Bantuin kek,"

"Itu kan masalah lo, gue cuma perancang disini, dan lo yang turun tangan."

"Kamu kan cowok!"

"Tapi kan gak ada hubungannya sama gue."

"Tapi kan kamu saudara aku!"

Cowok itu berdiri dari duduknya. "Kita cuma saudara tiri, inget?"

Cewek itu menghentakkan kakinya, lalu pergi dari sana.

"Kalo bukan karena papa maksa gue, ogah banget gue bantuin lo, sat!" teriak cowok itu, lalu menendang meja yang ada disana.

〜⁠(⁠꒪⁠꒳⁠꒪⁠)⁠〜

"Fokus satu," Cowok yang biasa disebut paduka raja oleh Elin itu memberi instruksi.

"Fokus dua," Keempat gadis itu menarik perlahan tali panah.

Jentikan tangan, membuat keempat gadis itu gesit melepaskan tarikan pada panah itu. Dan ya, tepat sasaran.

Ingin memberikan instruksi kedua, Elin memotongnya terlebih dahulu. "Udahan dulu lah, capek gue,"

"Lemah!" cerca nya

Imel yang kebetulan ada di sampingnya, langsung memberikan jitakan mautnya, membuat cowok itu meringis. "Sakit tau!" protes nya

"Lagian, songong bat lu, pengen gue cakar muka lo."

Tak menjawab lagi, cowok itu memilih duduk di sebuah sofa panjang di ruangan itu. Panggil saja dia Paja—singkatan dari paduka raja—sebutan yang sering Elin ucapkan.

"Lo diteror?" Pertanyaan itu ditunjukkan pada Elin.

Elin mengangguk. "Iya kemaren." Cewek itu menatap Paja dengan tatapan menyelidik. "Tau dari mana?"

"Gue tau semuanya,"

"Termasuk kapan lo mati?" tanya Asya kurang ajar

"Gak gitu juga soang!" Paja tidak bisa menahan sisi sengklek nya jika bersama Asya dan Imel.

Paja beralih pada Elin lagi. "Liat chat nya."

About Friends (Hiatus)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang