8. Hang Out

69 10 2
                                        

Happy reading💆

"Mau kemana sayang?" tanya Arkan—ayah Farid.

"Eh ayah. Farid mau keluar, kumpul sama temen-temen."

Arkan pun mengangguk

"Ayah kapan pulang?"

"Tadi malem,"

Farid ber-oh ria sambil manggut-manggut. "Nanti malem bisa dong nonton film bareng Farid lagi,"

"Gak bisa sayang, ayah harus kerja,"

"Ayah kerja terus. Gak capek apa?"

"Kalo ayah gak kerja, nanti gimana sama biaya sekolah kamu?"

"Tapi ya luangin waktu buat Farid dong yah. Ayah belakangan ini sibuk terus," ujarnya sambil cemberut.

"Terus gak kerja gitu? Kamu jangan egois, ayah kerja juga buat kamu sama bunda kamu!" sentak Arkan

Farid terkejut mendengar nada bicara ayahnya. Belum pernah dia mendengar ayahnya berbicara seperti itu kepadanya. "Farid salah. Maaf," Farid menunduk, menahan diri untuk tidak menangis.

"Udahlah. Daripada disini, mending ayah pergi ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus ayah kerjakan," Lantas, Arkan pun segera pergi, meninggalkan Farid yang terdiam, menatap kepergiannya.

Velix mendengar semuanya lalu tersenyum sinis. "Bodoh!" cerca nya.

〜⁠(⁠꒪⁠꒳⁠꒪⁠)⁠〜

"Huaaaa!"

"Bangke,"

"Anjing,"

"Aishibal,"

"Kok kalian pada ngumpat sih? Kan gue lagi nangis ini."

"Ya lo nya sih, baru datang langsung nangis. Kan kita kaget,"

"Gue pengen curhat," Mereka berujar kompak, membuat mereka tertawa. Receh sekali mereka ini.

"Ternyata kita satu hati beda tujuan," Farid berucap ngawur

"Yaudah, Asya dulu. Kan dia yang ngajak kita kumpul,"

"Masak nilai gue katanya masih kurang bagus kata nenek,"

"What the fuck?!"

"Itu nilai lo 94 anjir. Itu pun tertinggi di kelas. Nilai gue sama Imel aja 80. Apalagi ini ulangan fisika, pisika anjing pisika,"

"Lah gue, 76," balas Farid

"Gak tau deh, sebel banget pokoknya, mana bunda gue dipukul lagi sama nenek,"

Mereka menghela nafas. Sudah biasa mendengar curhatan semacam itu dari Asya. "Gue kadang ya, pengen banget gitu ngomong sama ayah lo tentang perilaku nenek lo selama ini," Farid bersuara, membuat Asya mengangguk cepat.

"Gue aja sebagai anaknya pengen banget. Tapi bunda selalu aja larang gue. Pasti alasannya itu takut ayah sama nenek berantem."

"Kita yakin, lo bisa buktiin sama nenek lo, kalo lo bisa. Buat bungkam nenek lo itu!" ujar Elin

Semenit terdiam, akhirnya Imel bersuara. "Kata ayah, gue pembunuh kakek. Terus gue pembawa sial. Emang iya gue pembawa sial?" Imel berujar lirih, membuat ketiga sahabatnya memandang lekat gadis itu.

"Pembawa sial, jawabannya it's no. Lo bukan pembawa sial. Inget! there are no jinxed children in this world. Lo jangan sedih, dan jangan masukin hati perkataan ayah lo itu." tegas Asya

"Terus kalo soal kakek lo, itu murni kecelakaan. Itu bukan salah lo, tandain ya, bukan salah lo. Itu udah takdir Mel," Farid mengelus bahu Imel.

Setelahnya, Farid menghela nafas. "Belakangan ini ayah gue berubah. Tau nggak sih, tadi gue dimarahin sama ayah. Gue cuma minta waktu sama ayah, pengen kayak dulu lagi. Tapi ayah malah bentak gue."

About Friends (Hiatus)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang