10. Ancaman

64 11 0
                                        

Happy reading💆

Suara pantulan bola memenuhi Indra pendengaran, tak lupa sorak-sorai penonton yang membludak. Bahkan Elin dan Farid ikut berteriak, tidak mau kalah dari para supporter dari kelas Kelvin dan Radit.

Asya menggelengkan kepalanya. Kedua sahabatnya ini benar-benar minus akhlak. Bukannya menjadi supporter tim kelas sendiri, malah jadi supporter kelas lain. Bahkan tadi mereka sempat ditegur oleh wali kelas, tapi mereka tidak menghiraukannya.

"Sya?"

Asya menoleh kearah Imel. "Gue ke kantin bentar ya, atau kalian mau nitip sesuatu?"

Kini, atensi mereka sepenuhnya kearah Imel. "Beli snack aja. Terus, minumannya yang dingin, gue gerah soalnya," Perkataan Elin diangguki kedua sahabatnya.

"Oke sip," Setelah mengatakan itu, Imel segera turun dari tribun, dan keluar dari ruangan itu.

Alex yang sebenarnya masih bertanding memilih berhenti sejenak, hanya untuk melihat kemana Imel pergi.

"Heh!" Radit menegurnya, membuat dia kembali tersadar. "Lo niat tanding gak sih? Kalo gak niat, mending lo ganti sama Aris," Cowok itu menatap sinis Alex, membuat Alex juga menatapnya sinis.

"Terserah!" Alex melempar kasar bola basket yang ada ditangannya, lalu berlari keluar. Tidak peduli dengan teriakan melengking wali kelasnya.

Cowok itu memilih mencari gadis yang belakangan ini mengusik pikirannya. "Kemana sih?!"

Saat sampai di area kantin kelas sebelas, dia menyapu pandangannya, dan kini matanya berhenti pada satu gadis yang kini sedang memilih beberapa snack di salah satu stand.

Buru-buru dia mendekati gadis itu. "Hey?" sapa Alex, dengan senyuman terukir di wajahnya.

Imel berbalik, dan menemukan Alex yang bermandikan keringat. Tapi itu malah membuat ketampanan Alex bertambah berkali-kali lipat.

"Lho? Lo bukannya tanding?"

Alex tidak menjawab melainkan menunjuk kresek yang dipegang oleh Imel. "Itu makanan doang?"

Imel menatap kresek nya itu, dan menggeleng. "Lo mau minum?" Gadis itu segera memberikan sebotol air kepada Alex, dia sengaja membelinya untuk dirinya minum setelah meminum susu nanti.

Alex menyambut air mineral itu dengan senang hati, dan segera meneguk nya setengah. Setelahnya, dia kembalikan lagi kepada Imel.

Belum sempat mengucapkan sepatah kata pun, Alex menarik Imel menjauh dari area kantin.

Setelah sedikit jauh dari kantin, langkah Alex berhenti di sekitar lapangan outdoor. "Siram wajah gue,"

"Hah?" Imel melongo mendengarnya.

Alex menumpu lututnya. "Ayo siram, wajah gue panas."

Imel yang sudah mengerti pun menyiram wajah Alex, dengan setengah air yang tadi cowok itu minum. Sedikit mengibaskan rambutnya, Alex menatap Imel lekat. "Lo... gak mau teriak?"

Alex melihat ke sekitarnya, dan ada beberapa gadis yang menatapnya tanpa berkedip, bahkan tak sedikit siswi yang memekik setelah dia melakukan hal itu. Tapi mengapa gadis dihadapannya ini malah biasa saja?

"Ngapain teriak? Lo pikir gue gila, teriak sembarangan?" Imel ingin melangkah pergi, tapi tangannya cepat dicekal oleh cowok itu.

"Tungguin," ujarnya

Terlihat dari arah berlawanan, Gio datang menghampiri mereka. "Lo kenapa keluar dari lapangan?" tanya Gio.

"Males," ujar Alex

About Friends (Hiatus)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang