16. Lie

51 9 0
                                        

Happy reading💆

"Imel," Sang empu menoleh, dan tersenyum ketika menemukan Lisa yang ternyata yang memanggilnya.

"Kenapa bun?"

"Bisa bantu bunda gak? Ini susah banget soalnya."

Lisa menunjuk sebuah berkas di atas lemari membuat Lisa maupun Imel tidak bisa menggapainya. "Devian lagi keluar, gak bisa bantuin bunda."

Imel tersenyum lalu mengangguk. "Boleh Bun," Cewek itu mengambil sebuah kursi dan meletakkannya tepat berhadapan dengan lemari tinggi milik Lisa.

"Gak usah, biar bunda aja yang ambil, bunda cuma mau minta tolong pegangin kursi nya, takut oleng," cetus Lisa.

"Gak usah Bun, biar Imel aja, bunda yang pegangin ya?" Lisa tersenyum lalu mengangguk.

Dengan hati-hati, Imel mulai menginjak kursi itu dan Lisa yang memegang kursi itu agar Imel tidak terjatuh. "Yang ini bukan Bun?"

"Bukan sayang, yang satunya, warna biru,"

Imel pun mencoba meraba bagian atas lemari itu lagi.

Bian yang ingin masuk kedalam kamar terkejut melihat hal itu. Lalu hal licik muncul di otaknya. Sedikit menarik tangan Lisa, kakinya pun menendang kaki kursi itu, membuat Imel oleng dan terjatuh.

"Argh," Kakinya terkilir

"Kamu apa-apaan?!" Lisa menatap Bian tajam, lalu beralih pada Imel yang terduduk di lantai sambil merintih.

"Ngapain kamu bawa anak sialan ini ke kamar? Mau buat kita sial, iya?!"

"Aku minta tolong Imel ambil berkas yang kamu minta tadi. Ck, kamu malah buat dia kesakitan!"

"Lebay, pasti cuma akting," Bian merebut berkas yang dia mau dari tangan Imel.

"Obatin sendiri, gak usah manja," Bian menendang kaki Imel, membuat cewek itu lagi-lagi meringis kesakitan.

Lisa menatap Imel iba. "Sini, bunda bantu," Lisa memapah Imel untuk duduk di kasur nya.

Imel menatap kosong ke arah depan. "Bun, kenapa ayah jadi gak sayang sama aku? Padahal dulu, ayah sayang banget sama aku."

"Ayah cuma salah paham. Maafin ayah ya? Bunda yakin, suatu hari nanti, ayah bisa kayak dulu lagi, doain aja."

"Imel kenapa?" Atensi keduanya beralih pada sosok jangkung yang kini menatap Imel khawatir.

Devian menghampiri keduanya. "Imel kenapa bun?"

"Tadi Imel–"

"Gue keseleo," Imel menyerobot perkataan Lisa.

Devian menatap Imel datar. "Bisa gak ceroboh sehari aja?"

Imel menampilkan cengiran nya. "Janji gak ceroboh lagi."

Lisa mengusap surai Imel, dan menatap cewek itu lekat. Tanpa suara, dia mengucapakan kata maaf, membuat Imel tersenyum dan mengangguk tipis.

"Tumben lo pulang awal, biasanya cosplay jadi kelelawar. Keluar malam pulang pagi."

Devian menghela nafas, lalu memberikan kresek hitam, yang sedari tadi dia sembunyikan. "Bacot, noh minum."

About Friends (Hiatus)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang