Happy reading💆
"Asya?" Sang empu menoleh, dan disana terdapat Fregas yang menghampirinya.
Asya menoleh ke kanan-kiri, siapa tau ada Asya lain disini, tapi ditempat itu hanya dirinya dan ketua OSIS tampan itu. "Gue kak?" Cewek itu masih ragu, pasalnya Fregas dan dia tidak pernah saling sapa sebelumnya.
Fregas mengangguk, almamater warna abu-abu melekat di tubuhnya. "Udah berapa bulan lo keluar OSIS?"
"Udah lama sih, emangnya kenapa kak?"
"Gapapa, tapi kalo boleh tau, kenapa lo keluar OSIS?"
Cewek itu terlihat mengetuk-ngetuk dagunya. "Pertama mager, kedua gue sibuk sama urusan gue, dan ketiga anggota OSIS lainnya gak suka sama kehadiran gue."
"Jadi lo keluar cuma gara-gara itu?"
"Iya cuma gara-gara itu," Asya menekan setiap katanya. "Udah kan kak?"
Asya ingin segera pergi, tapi tangannya dicekal oleh Fregas.
Bugh!
"Damn! Don't touch her, fuck!" Devan memukul telak Fregas, sehingga cowok itu limbung dan terjatuh.
"Van, lo apa-apaan?!"
Devan menatap tajam Asya, lalu tangannya menarik kasar gadis itu. Fregas ditinggalkan dengan lebam di wajahnya. "Ck, dasar bajingan," hina Fregas.
Asya menyentak tangannya, tapi tenaga Devan saat ini tidak main-main. "Van lepasin!"
"Gak!"
Setelah dirasa tempat yang mereka pijaki sudah tidak terlalu ramai alias sepi, Devan pun segera melepaskan cekalan tangannya. "Sorry girl," Suara seraknya terdengar, lalu mengelus tangan Asya yang memerah.
"Mau lo apa Van?" Suara Asya kian melemah.
"Gue gak suka lo deket sama cowok lain," Tatapannya masih fokus dengan pergelangan tangan Asya.
Asya ingin menjauhkan tangannya, tapi Devan menahannya. "Jangan salah paham, gue cuma gak mau lo kena masalah. Lo inget kata Deran kan? Dia pernah nyebut-nyebut nama lo waktu telfonan."
Asya tidak lagi bersuara, elusan tangan Devan begitu lembut. "Masih sakit?" tanya Devan
Cewek itu menggeleng, membuat Devan tersenyum tipis. "Maaf, udah sakitin lo berkali-kali, maaf untuk semuanya. I'm really sorry, for everything, and sorry for being such a jerk."
"Maksudnya?" Asya bertanya dengan raut bingung.
Devan terkekeh, lalu menyelipkan anak rambut yang menghalangi wajah gadis itu. "Suka liat lo bingung. Makin cute kalo bingung gini."
"Serius, bisa?!"
"Iya iya, nanti juga di seriusin," ucapnya enteng.
"Gak tau, gak paham," Setelah mengucapkan hal itu, Asya meninggalkan Devan yang menatap kepergiannya sambil tertawa kecil.
Cowok itu benar-benar tidak bisa ditebak.
Asya menggerutu tidak jelas sepanjang koridor, sampai dia berhenti ketika ada suara tawa yang terdengar mengejek, dan tentunya itu tertuju padanya. "Ternyata prediksi gue kagak salah, lo emang udah gila." Tawa nya semakin terdengar di koridor yang sepi, karena pembelajaran sedang berlangsung.
"Diem lu dugong!"
"Ck, berhenti ngatain gue dugong!" Cowok itu lalu merangkul Asya. "Lo... masih inget dendam kan?"
Asya menyentak tangan cowok itu kasar. "Gue gak bodoh," Asya menjawab sinis.
"Ya... sapa tau kan lo lupa sama yang dia lakuin ke lo, karena dia sikapnya manis banget sama lo. Dan–"
KAMU SEDANG MEMBACA
About Friends (Hiatus)
De TodoDendam? Keempat gadis yang masih menduduki bangku SMA ini akan melakukannya. Membalas orang-orang yang telah menanamkan penderitaan di masa lalu. Bagaimana jika orang itu balik menyukainya? Akankah mereka bisa membalaskan dendam mereka, setelah takd...
