3. Kenyataan Pahit

1.1K 119 85
                                        

Amarta tersenyum melihat sosok lelaki yang dikiranya seumuran dengan Shreya tersebut. Lelaki itu masuk dengan keranjang buah di tangannya.

"Sini, Nak!" sambut Amarta dengan senyum hangat.

Dia mencium punggung tangan Amarta, membuat Shreya bertanya-tanya akan siapakah lelaki itu.

"Tante baik-baik aja?" tanyanya ramah.

"Baik, makasih, ya, udah bantu bawa Tante ke rumah sakit."

"Ah, iya, Tante, sama-sama. Lagian saya juga senang bisa membantu Tante."

Amarta terkagum dengab remaja lelaki yang kini berada di hadapannya itu. Di jaman seperti sekarang ini, rupanya masih ada sosok baik hati yang bersedia menolong sesama tanpa mengharap imbalan sedikit pun.

"Ngomong-ngomong, saya minta maaf ya, Tan, tadi saya pergi gitu aja. Harus antar adik dulu soalnya," kata cowok itu yang memang saat melihat Amarta kecelakaan, dia baru pulang dari minimarket, menemani adiknya membeli es krim.

"Ah nggak masalah, lagian ada anak Tante juga yang jagain." Amarta melirik sekilas Shreya. "Oh iya, hampir lupa. Ini, kenalin, anak Tante." Amarta menunjuk Shreya yang ada di sampingnya.

Shreya membatin dalam hati. Saking asiknya Amarta mengobrol, dia yang sebesar itu pun tidak terlihat.

Lelaki itu menoleh ke arah Shreya, begitupun sebaliknya. Membuat pandangan mereka bertemu, dan seketika membuat Shreya seakan tenggelam dalam bola mata lelaki itu. Tanpa disadari, cowok itu sudah menjulurkan tangannya ke hadapan Shreya. Hendak mengajak berkenalan.

"Dareen," ucapnya. Namun, tidak langsung digubris oleh Shreya. Gadis itu malah menatap Dareen tanpa kedip sedikit pun. Hingga, dia memutuskan pandangannya karena Amarta tiba-tiba menyikut perutnya.

"Eh?" katanya, "Shreya." Membalas uluran tangan Dareen.

* * *

Shreya termenung di dalam kelas, tidak peduli dengan kehadiran guru yang sedang menjelaskan materi, pikiran gadis itu melayang-layang. Dia tidak mengerti harus kehilangan siapa lagi setelah ini.

"Nyonya Amarta mengidap penyakit kanker, dia harus segera menjalani pengobatan. Kalau tidak, sel-sel penyebab kanker dalam tubuhnya akan semakin menyebar." Dokter Andres memberi penjelasan saat Shreya berkunjung ke ruangannya.

Kanker. Satu kata yang membuat jantung Shreya berdebar hebat saat itu. Dia tahu pasti penyakit itu bukanlah penyakit biasa, banyak orang meregang nyawa karenanya.

"Dokter ...." Shreya melirih. "Tapi Mama gak pernah cerita apa pun sama aku, Dok." Shreya mengelak. Mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya tidak benar.

Dokter Andreas menghela napas panjang. "Kankernya sudah memasuki stadium 3. Jika dibiarkan, maka bisa-bisa sel kankernya akan menyebar ke organ tubuh yang lain."

Penjelasan Dokter Andreas semakin membuat hidup Shreya hancur. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca, dengan tangan gemetar dingin. Kenyataan pahit apalagi ini? Mengapa hidupnya terasa menyedihkan begini.

"Tapi Mama bisa sembuh, kan, Dok?" Suara Shreya bergetar. Air mata dalam pelupuknya sudah tidak bisa terbendung lagi, mereka luruh membasahi pipi.

Dokter Andreas menatap Shreya sendu. Sebagai seorang dokter, tentunya dia hanya bisa berusaha yang terbaik. Soal hasil, kembali diserahkan kepada Yang Mahakuasa.

"Dok, Mama bisa sembuh, kan? Dok, jawab!" Shreya menjerit dalam tangisnya. Dia tidak bisa menerima kenyataan pahit ini. Gadis itu tidak ingin satu-satunya orang berarti dalam hidupnya pergi. Shreya tidak ingin sendirian.

Dokter Andreas tersentak mendengar jeritan Shreya, pada akhirnya dia pun mengangguk sebagai jawaban.

"Saya akan berusaha yang terbaik. Salah satu alternatif pengobatannya adalah kemoterapi. Pastikan Nyonya Amarta mau menjalani kemo secara rutin, agar sel-sel penyebab kankernya tidak menyebar ke organ tubuh lain," jelasnya membuat Shreya mengangguk perlahan. Setidaknya masih ada harapan.

Namun tetap saja, air mata itu tidak bisa dikendalikan. Ia kembali luruh dengan lebih deras. Dadanya bahkan terasa sesak dipukul ribuan kenyataan.

Tuhan, jangan ambil mama secepat ini, kalaupun boleh ambil saja nyawaku dulu.

"Kita usahakan yang terbaik. Yang sabar, ya." Dokter Andreas menenangkan.

Shreya mengusap kasar kedua matanya yang basah oleh air mata. "Makasih, Dok."

"Saya hanya membantu, selebihnya serahkan kepada Tuhan. Segala keajaiban berasal dari-Nya," ucap Dokter Andreas sembari tersenyum.

"Shreya!" Shreya tersentak dari lamunannya ketika Bu Sharla memanggil.

Gadis itu mengerjap. Dia mengusap kedua pipinya yang basah, ternyata dia kembali menangis. Shreya meneguk ludah. Dia melirik sekeliling, dan mendapati teman-teman satu kelasnya juga tengah menatap ke arahnya.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Shreya yang sedang mengajar di kelas. Shreya berdeham, sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Maaf, Bu, Reya nggak fokus," ujarnya kemudian.

Bu Sharla menghela napasnya seraya mengangguk. Dia memperhatikan muridnya yang nampak murung semenjak pelajaran dimulai.

"Yasudah, kita lanjut materinya," kata Bu Sharla, membuat semua siswa kembali fokus pada papan tulis.

Shreya tidak benar-benar fokus dengan materi yang sedang dijelaskan. Sepanjang pelajaran, gadis itu lebih banyak melamun.

Berlin yang duduk disampingnya menyadari raut suram wajah Shreya. "Kenapa? Lagi ada masalah?" tanyanya.

Shreya menggelengkan kepala. "Enggak. Aku nggak apa-apa, kok."

Berlin tersenyum tipis. Dia tahu bagaimana tabiat seorang Shreya. Gadis itu sangat tertutup, dia tidak pernah bercerita tentang masalahnya, membuat Berlin terkadang merasa tidak berguna sebagai sahabatnya.

* * *

Sepulang sekolah, Shreya berdiri di depan halte untuk menunggu angkutan umum yang lewat. Biasanya, dia akan pulang pergi bersama Jav, namun hari ini lelaki itu sedang pertandingan futsal mewakili sekolahnya.

Shreya sendiri juga merasa bingung, karena Jav sudah duduk di bangku kelas 12, tapi masih saja ikut pertandingan ke sana ke mari mewakili SMA Starlight.

Helaan napas panjang terdengar keluar dari mulut Shreya. Gadis itu mengipaskan tangannya di hadapan wajahnya. Panas. Udara hari ini cukup terik, terlebih sejak tadi belum ada satu pun angkutan umum yang melintas, membuat Shreya berdiri lebih lama di halte.

Berulang kali ia melirik jam di pergelangan tangan. Shreya harus segera pulang ke rumah, karena setelahnya dia harus pergi ke rumah sakit untuk menemui mamanya.

Lalu dari kejauhan, Shreya melihat sebuah motor berwarna hitam melaju. Pengendaranya mengenakan jaket, celana jeans, dan juga helm yang senada dengan warna motor besarnya.

Kerutan di kening Shreya terlihat semakin jelas ketika motor itu mulai mendekat dan berhenti tepat di hadapannya. Mungkin seseorang yang akan menanyakan alamat, pikir Shreya saat itu. Namun, pengendara motor itu tak kunjung melepas helm full face nya, membuat pikiran negatif dalam kepala Shreya berkoar-koar. Siapa dia? Apa jangan-jangan penculik?

Shreya panik. Perlahan dia memundurkan langkah dan hendak pergi meninggalkan halte. Namun, sebuah suara mengintrupsinya terlebih dahulu, membuat gadis itu mengurungkan niatnya.

"Shreya." Pengemudi itu memanggil.

Shreya masih dengan posisinya, begitupun juga pengendara asing itu, ia masih setia mengenakan helm-nya. Hingga, ketika helm yang dipakai lelaki itu terlepas, mata Shreya membulat sempurna.

"Dareen?"

- Bersambung -

Terima kasih sudah berkenan membaca.
Jangan lupa beri vote dan komentar, karena itu sangat berarti untuk aku 🤗

More info, follow
Instagram & TikTok @deardess806

SHREYA [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang