30. She's Mine

1.4K 76 51
                                        

Singapura, dengan merlion, patung ikan dan singa yang menjadi ikonnya berhasil Javiar sambangi. Setelah menempuh perjalanan udara sekitar satu jam setengah, Jav akhirnya bisa menginjakkan kaki di negara itu.

Dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung, Jav menggeret koper hitamnya keluar dari bandara. Dia memberhentikan sebuah taksi, dan meminta sang sopir untuk mengantarnya ke alamat yang telah mamanya beri.

Sepanjang perjalanan, Jav hanya diam memandangi jalanan yang dilalui. Dalam hati ia merasakan perasaan cemas sekaligus takut. Dia cemas memikirkan keadaan Shreya, juga takut jika kehadirannya tidak akan diterima dengan baik oleh Shreya.

Jav menghembuskan napas panjang. Hingga tidak ia sadari bahwa taksi yang ditumpanginya sudah berhenti tepat di depan sebuah rumah sakit.

Sesaat, Jav memperhatikan bangunan rumah sakit itu dari dalam mobil. Setelahnya, dia memberikan uang kepada sang sopir taksi, sebelum akhirnya ia melenggang, memasuki rumah sakit.

Jav menyesuaikan pesan yang mamanya kirim dengan nama sebuah kamar yang berada di hadapannya saat ini. Setelah dirasa cocok, ia langsung mengetuk pintu itu pelan.

Satu kali, dua kali, tidak ada sahutan. Jav tampak mengintip lewat jendela sebelum akhirnya ia membuka pintu itu dati luar.

Hening. Jav menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, tidak ada siapa pun di sana. Membuat Jav sempat berfikir bahwa ruangan ini tidak ada yang mengisi, karena terlihat begitu rapi. Namun, saat matanya menangkap sebuah bingkai foto di atas nakas, pikiran Jav tentang ruangan kosong itu pun berubah. Jav mendekat, sebelah tangannya perlahan mengambil bingkai tersebut. Dadanya berdesir hebat, saat mengetahui bahwa foto itu merupakan foto Shreya dengan mendiang Amarta.

"Jav?" Tanpa Javiar sadari, seseorang baru saja datang dan tengah memperhatikannya dari ambang pintu.

Javiar mengalihkan atensi ketika indera pendengarannya menangkap suara yang begitu ia kenali. Jav berbalik, dan seketika tubuhnya mematung ketika sosok yang tadi dilihatnya dalam sebuah foto kini benar-benar nyata ada di hadapannya. Shreya tengah duduk di atas sebuah kursi roda dengan kepala yang tertutup jilbab.

"Shreya?" Jav bergumam tidak percaya. Keduanya hanya saling tatap dari kejauhan.

Tidak lama, Tama hadir, pria itu berdiri tepat di belakang Shreya. Menatap Jav dengan pandangan terkejut. "Kamu sudah datang, Javiar?"

Jav mengerjapkan mata. "Iya Om, baru aja. Maaf main masuk tanpa ijin."

"Nggak masalah."

Tama memperhatikan gerak-gerik antara Jav dan putrinya. Pria itu paham mungkin mereka butuh waktu untuk bicara berdua, maka dari itu, Tama memilih kembali pamit, meninggalkan Shreya dan Javiar. 

"Om tinggal dulu sebentar gapapa, kan? Kalian ngobrol dulu aja di sini." Tama hendak melenggang, namun Shreya lebih dulu menahan tangannya.

"Pah." Shreya menatap Tama penuh permohonan. Dia tidak ingin ditinggal berdua dengan Javiar.

"Papa keluar sebentar." Namun Tama tetap pada pendirian. Dia yakin Jav tidak akan sampai menyakiti putrinya.

Setelahnya, Tama berlalu, benar-benar meninggalkan Shreya dan Jav dalam satu ruangan yang sama.

Shreya menggerakan kursi rodanya menggunakan tangan. Namun, belum jauh gadis itu menggerakkan nya, Jav langsung sigap mendekat dan mengambil alih pekerjaannya.

Jav berdiri di belakang Shreya. Tangannya bersiap untuk mendorong kursi roda. "Biar gue aja," katanya.

Shreya tidak menolak. Dia membiarkan Jav melakukan pekerjaannya.

SHREYA [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang