13. Tama Peduli

636 79 36
                                        

Ketukan di pintu kamar membuat Shreya terbangun dari lamunannya. Gadis yang tengah merenung sembari menikmati semilir angin di balkon kamar itu menoleh, mendapati Mbak Rida yang baru saja membuka pintu kamarnya pelan.

"Non," panggilnya, "ada Bapak di bawah."

Shreya terdiam mendengar informasi yang diberikan Mbak Rida. Helaan napas panjang terdengar keluar dari mulut gadis itu, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.

Mbak Rida kembali menutup pintu kamar Shreya. Wanita itu melenggang, membiarkan Shreya menyiapkan hati untuk bertemu dengan sang papa.

Dengan langkah pelan, Shreya menuruni anak tangga. Di ujung ruangan itu, netranya melihat sosok Tama yang tengah menyesap teh dalam cangkirnya.

Tama yang melihat kehadiran putrinya mengulas senyum tipis. "Kamu baik-baik saja?" Pertanyaan itu terlontar keluar pertama kali dari mulut Tama.

Shreya menganggukkan kepala pelan sebagai jawaban. Meski berat, kini dia akan mencoba untuk menerima semuanya dengan hati lapang.

Mendapat respon cuek Shreya, Tama menghela napas panjang. "Papa minta maaf, Sayang. Papa berjanji akan menebus semua kesalahan Papa. Maafkan Papa," katanya lirih.

"Lalu kenapa Papa baru datang sekarang? Setelah kepergian Mama? Apa karena Papa baru sadar akan kesalahan Papa? atau Papa cuma kasian sama Reya yang kini sendirian?" Shreya mengutarakan segala tanya yang memenuhi benaknya belakangan ini. Gadis itu menatap Tama dengan sorot penuh lukanya.

"Kalau Papa datang kesini cuman karena kasian sama Reya, Papa nggak perlu lakuin itu semua. Reya nggak suka dikasihani, Pah," sambung Shreya. Tidak ingin hadirnya membebani hidup Tama.

"Sayang, bukannya Papa baru menyadari kesalahan Papa. Sudah dari dulu Papa ingin menemui kamu, tapi kamu tahu sendiri, semua hal yang selama ini terjadi itu keinginan mama kamu. Mama yang minta Papa buat nggak berhubungan lagi sama kalian. Mama kamu yang minta Papa buat nggak nemuin kamu."

Shreya terdiam. "Mama buat permintaan kayak gitu?" tanyanya seolah tidak yakin.

"Ya."

"Tapi kenapa? Itu semua nggak logis, Pah. Mama nggak mungkin sejahat itu."

Helaan napas panjang kembali terdengar dari mulut Shreya. "Papa juga nggak pernah tahu alasan di balik semua permintaan Mama kamu," ucap Tama lirih. Amarta benar-benar menyembunyikan semuanya dengan baik.

"Kemarin, satu hari sebelum hari kematian, Mama kamu nemuin Papa ke Bandung," kata Tama, membuat Shreya terkejut karenanya.

"Mama ke Bandung?" tanyanya, dibalas anggukan kepala Tama.

Tangan Shreya terasa dingin. Dia masih ingat saat dirinya khawatir setengah mati mencari keberadaan Amarta. Saat itu Amarta berkata ia habis dari rumah teman lamanya, namun rupanya,  wanita itu malah menemui sang mantan suami.

"Dia berkata kepada Papa, bahwa Mama kamu sudah tidak bisa menjaga kamu lagi. Dia meminta Papa untuk menjaga kamu kembali. Awalnya Papa kira Mama kamu hanya bercanda, tapi setelah itu, Papa sangat menyesal karena mendengar kabar kematian Mama kamu. Semuanya terasa terlalu tiba-tiba," ucap Tama. Dia mengingat dengan jelas wajah pucat Amarta saat datang dan mengutarakan segala niatnya.

"Mama kamu memang ahli dalam menyembunyikan banyak hal. Termasuk soal penyakitnya. Papa bahkan sampai kecolongan, meski Bram selalu mengawasi kalian."

"Papa selama ini tahu kabar aku dan mama?" tanya Shreya.

Tama mengangguk singkat. Kedua sudut bibirnya mengulas senyum getir.  "Papa nggak bisa menolak keinginan Mama kamu, Papa juga nggak bisa biarin kalian hidup berdua begitu saja. Papa sayang kalian, dan  bagaimana pun juga, kamu dan Mama kamu adalah orang-orang penting dalam hidup Papa."

SHREYA [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang