"Reya mana, Mbak?" Jav bertanya ketika dia tidak menemukan keberadaan Shreya di lantai bawah rumahnya.
"Ada di atas, Den, masuk aja."
Tanpa ragu, Javiar melangkahkan kakinya untuk menaiki satu persatu tangga rumah Shreya. Dari kejauhan, dia bisa mendengar suara petikan gitar. Suaranya terdengar dari arah balkon.
Javiar berjalan menuju pintu balkon yang terbuka. Dilihatnya Shreya yang sibuk dengan gitar di atas pangkuan. Tatapan gadis itu kosong menatap ke depan, tanpa pernah menyadari kehadiran Javiar di dekatnya.
"Rey." Jav memanggil, membuat petikan Shreya pada gitarnya terhenti.
Gadis itu menoleh, menatap Jav dengan pandangan datar. Wajahnya sangat minim ekspresi, membuat Javiar menipiskan bibir.
Lelaki itu berjalan mendekati Shreya. Tanpa permisi, tangannya lantas bergerak, merebut gitar dalam pangkuan Shreya, membuat gadis itu seketika mendelik tajam.
"Nada lo nggak enak," ucap Javiar, mendudukkan dirinya di kursi samping Shreya.
Jav mengatur posisi. Dia fokus pada gitar milik Shreya, lalu mulai memetiknya pelan, menciptakan nada-nada yang jauh lebih enak didengar.
Shreya menghembuskan napas panjang. Menikmati senandung Jav yang begitu sopan masuk dalam indera pendengaran Shreya.
Suara Jav terdengar lembut, membuat Shreya merasa jauh lebih tenang ketika mendengarnya.
Kemudian, dalam keadaan sadar, Shreya tiba-tiba menjatuhkan kepalanya di bahu Jav. Membuat Jav mematung dan petikan tangan di gitarnya terhenti.
Lelaki itu menggerakkan kepala. Melirik sekilas Shreya yang tampak begitu nyaman bersandar di bahunya.
"Lanjutin aja." Shreya bersuara. Matanya mulai terpejam dengan nyaman di pundak Jav.
Javiar berdeham pelan. Seperti apa yang Shreya perintahkan, dia lantas kembali melanjutkan petikannya di senar gitar.
"Jav?" Shreya memanggil.
"Hm?"
"Kemarin Papa ke rumah," ujar Shreya, "dia tiba-tiba minta maaf," sambungnya lagi.
"Aku emang kecewa sama Papa Jav. Ya bayangin aja, Papa ninggalin aku sama Mama sewaktu aku masih kecil. Bahkan, selama itu dia nggak pernah ada kabar, atau datang jengukin kita. Tapi kemarin dia tiba-tiba datang dan minta maaf gitu aja. Coba bayangin gimana rasanya," ucap Shreya. "Demi apa pun, aku benci, Jav," sambungnya dengan suara lirih.
Javiar yang terenyuh mengelus pelan surai hitam Shreya.
"Gue ngerti, kalau gue ada di posisi lo pasti gue juga ngerasain hal yang sama. Tapi Rey, lo boleh kesel, lo boleh kecewa. Tapi lo jangan pernah benci atau dendam, karena dia tetep Papa kandung lo. Gue yakin, bokap lo pasti ada rasa sayang sama lo. Makanya dia dateng dan minta maaf ke lo. Mungkin dia mencoba buat mengawali semuanya dari awal, kan?"
Shreya menoleh ke arah Javiar. Dia menggigit bibir bawahnya ragu.
"Terus aku harus apa?" tanyanya lirih.
"Lo coba perlahan maafin Papa lo. Buka hati lo, ikhlasin semua yang udah terjadi dan mulai semuanya dari awal lagi," kata Javiar, memberi sebuah saran.
"Tapi aku nggak bisa, Jav."
Javiar mengacak rambut Shreya gemas. "Belum juga dicoba, udah bilang nggak bisa. Gue yakin lo pasti bisa," katanya, meyakinkan.
Shreya menghela napas panjang. Gadis itu terdiam, mengukur kemampuan dirinya sendiri. Apakah ia bisa?
Kemudian, tanpa aba, tangan Jav tiba-tiba menarik kepala Shreya untuk kembali bersandar di bahunya. "Udah jangan terlalu dipikirin," katanya.
Perlahan, kedua mata Shreya terpejam. Menikmati sepoi angin dengan senandung Javiar yang kembali terdengar. Tanpa sadar, gadis itu mulai terlelap di bahu Jav.
* * *
Malam ini, Shreya diajak makan malam bersama di rumah Javiar. Keluarga Javiar terlihat begitu harmonis dengan kedua orang tua yang saling memberi kasih sayang.
Seulas senyum berhasil terbit di wajah Shreya ketika melihat interaksi Mama dan Papa Javiar yang penuh kehangatan. Meski tidak punya hubungan sedarah, nyatanya Shreya merasa bahagia bisa mengambil salah satu bagian kursi di ruang makan rumah Javiar.
Dia merasa kasih sayang diberikan kedua orang tua Javiar sampai kepada dirinya. Rasanya hangat, membuat Shreya bisa melupakan segala sendunya untuk beberapa saat.
Selepas acara makan malam, Shreya melipir ke halaman belakang. Termenung di pinggir kolam dengan kedua kaki mengayun bebas di dalam air.
Gadis itu menatap langit yang dipenuhi kerlip bintang dengan rembulan yang tampak bersinar terang. Kedua benda ciptaan Tuhan itu seolah ikut andil untuk membuat hari Shreya lebih berwarna.
Shreya mengulas senyum tipis. Gadis itu menundukkan kepala. Menatap air kolam yang bersinar karena pantulan cahaya bulan.
"Ngelamun." Javiar mengejutkan Shreya dengan kehadirannya. Lelaki itu menyodorkan secangkir cokelat panas sebelum mendudukkan diri di samping Shreya.
"Thanks." Javiar tersenyum tipis. Lelaki itu menyesap pelan cokelat panas miliknya sendiri.
Di sampingnya Shreya memeluk diri. Ia kembali menatap langit malam yang hari itu terlihat bercahaya. "Kamu bener, Jav, aku nggak sendirian. Mama pasti selalu perhatiin aku walau dari kejauhan. Kayak bintang itu." Shreya menunjuk salah satu bintang yang malam itu terlihat sangat terang.
"Meski bintang itu nggak bisa aku rengkuh, tapi sinarnya mampu ngasih cahaya yang paling terang. Seolah dia nggak mau aku larut tenggelam dalam kegelapan," katanya kemudian, menatap jauh ke atas langit.
Kedua netra mata Javiar menatap Shreya lekat. Ada sedikit perasaan lega dalam dirinya ketika mengetahui bahwa Shreya mulai bisa menerima semuanya dengan hati lapang.
Tangan lelaki itu tergerak untuk merangkul bahu Shreya. Mengikis jarak di antara keduanya. "Lo emang nggak pernah sendirian, Reya."
Shreya termenung. Ya, dia kini mencoba untuk meyakini bahwa dirinya memang tidak sendirian. Ada banyak orang di sekitarnya yang menyayangi Shreya.
Gadis itu tersenyum tipis. Ia lantas menyandarkan kepalanya dengan nyaman di pundak Javiar. Menikmati suasana malam yang sejuk dengan gemericik air kolam yang terdengar karena ulah kakinya sendiri.
"Reya, gue ada sesuatu buat lo." Javiar tiba-tiba bersuara, membuat Shreya kembali mengangkat kepalanya.
"Apa?" katanya penasaran.
Javiar tampak merogoh saku celana sebelum akhirnya ia menyodorkan selembar kertas ke hadapan Shreya.
"Kemarin Mbak Rida kasih ini ke gue, katanya dia nemuin ini di meja Mama lo."
Shreya terdiam. Sebelum akhirnya ia mengambil alih surat itu dari tangan Javiar.
"Saran gue baca aja, kalau lo nggak kuat, nangis juga nggak apa-apa, anggap sebagai tanda perpisahan, karena setelahnya, lo nggak boleh sedih-sedih lagi, lo harus bahagia, Reya."
- Bersambung -
Terima kasih sudah berkenan membaca.
Jangan lupa beri vote dan komentar, karena itu sangat berarti untuk aku 🤗
More info, follow
Instagram & TikTok @deardess806
KAMU SEDANG MEMBACA
SHREYA [SELESAI]
Roman pour AdolescentsShreya tidak menyangka akan disukai oleh Javiar, sahabatnya sejak kecil. Lantas, ketika pernyataan rasa itu terucap, haruskah Shreya menerimanya? Di saat Shreya tidak yakin waktu hidupnya di dunia akan bertahan lama. Copyright ©deardess 2020
![SHREYA [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/318434685-64-k791613.jpg)