19. Sebuah Penolakan

579 74 11
                                        

Dareen menatap lekat Shreya yang terbaring lemah di brangkar UKS. Dia tidak tahu mengapa gadis itu bisa pingsan di kamar mandi, yang jelas saat ini pikiran Darren tengah dipenuhi tanya, karena dia melihat Shreya mimisan untuk yang kedua kalinya. Kening Dareen mengkerut dalam. Sebenarnya apa yang terjadi pada gadis itu?

Cukup lama Shreya tidak sadarkan diri, hingga Dareen melihat pergerakan dari kedua kelopak mata itu. Shreya perlahan mulai membuka matanya.

Dareen membenarkan posisi duduknya. Lelaki itu menatap Shreya yang tampak mengernyit ketika cahaya berusaha menerobos memasuki netra matanya.

"Kamu sadar?" Dareen menangi Shreya dengan perasaan cemas.

Shreya tidak menjawab. Dia lebih fokus untuk berusaha duduk bersandar ke belakang. Darren yang melihat Shreya kesulitan membatunya. Dia meletakkan bantal di belakang punggung Shreya, agar gadis itu bisa duduk dengan nyaman.

"Minum dulu." Darren menyodorkan segelas teh hangat ke hadapan Shreya.

Shreya menyeruput teh itu sedikit demi sedikit. "Makasih."

"Ada yang sakit?" tanya Darren, meletakkan gelas berisi sisa teh ke meja.

Gelengan kepala Shreya beri sebagai jawaban. Dia hanya merasa lemas. Tenaganya seolah disedot hingga untuk berbicara pun rasanya sulit.

"Kok bisa pingsan di dalam toilet? Gimana ceritanya?"

Shreya terdiam. Apa Darren melihat kondisi dirinya?

"Untung tadi saya lewat ke toilet cewek, jadi tau ada kamu, coba kalau enggak?" ujar cowok itu.

Shreya menipiskan bibir. Gadis itu menundukkan kepala untuk menghindari tatapan Dareen.

"Jadi kamu yang bawa aku ke sini?" tanyanya lirih.

Darren mengangguk, "Ya."

"Makasih, dan maaf jadi ngerepotin kamu."

Mendengarnya, Dareen ingin menyangkal. Tidak, Shreya sama sekali tidak membuat dirinya repot. Dareen justru senang bisa membantu gadis itu.

Baru saja Dareen hendak membuka suara, ingin mengutarakan bahwa Shreya tidak perlu meminta maaf, sebelum akhirnya Berlin datang, membuat kalimat yang sudah Dareen susun dengan rapi itu kembali tertelan mentah-mentah.

"Shreya?" Berlin datang dengan raut wajah khawatirnya. "Kamu nggak kenapa-napa?" tanyanya, meneliti penampilan Shreya dari atas hingga bawah.

Shreya menggeleng. Bibirnya mengulas sebuah senyuman tipis. "Aku gapapa, Berlin."

"Kamu bikin khawatir tau, nggak? Mana main pergi gitu aja lagi waktu di kantin," kata gadis itu, mencak-mencak.

Shreya terkekeh pelan. "Maaf," katanya.

Berlin cemberut. "Jangan diulangi lagi."

"Siap, Ibu Bos." Shreya membuat gerakan hormat di hadapan Berlin. Membuat Berlin beringsut, memutar kedua bola matanya malas.

"Oh, iya, kamu belum makan, kan, Rey? Aku beliin bubur, ya, mau nggak?

Shreya nampak menimang. Entah mengapa selera makannya terasa menurun akhir-akhir ini. Dia bahkan belum memakan apa pun sejak pagi.

"Gue yang bayarin, deh," lanjut Berlin. Membuat mata Shreya sedikit berbinar.

"Beneran?" Berlin mengangguk mantap. "Ya udah, deh. Sana beli."

Dengan semangatnya, Berlin langsung beranjak, membeli semangkuk bubur Mas Bur yang biasanya mangkal di depan sekolah. Dia akan meminta ijin kepada satpam yang menjaga nanti. Sekalian mampir ke minimarket samping sekolah untuk membeli beberapa camilan.

SHREYA [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang