9. Pinta Amarta

645 89 58
                                        

Shreya harap-harap cemas menanti kehadiran mamanya di teras rumah. Gadis itu resah, karena sampai saat ini, Amarta masih belum juga dapat dihubungi.

Ia menatap langit sore yang dihiasi semburat jingga. Ada harap yang begitu besar dalam kedua tatap matanya.

Sebentar lagi malam akan menjemput, dan Shreya semakin dilanda rasa khawatir karena tak kunjung mendapat kabar tentang mamanya.

Suara mesin mobil yang berhenti di depan rumah mengalihkan atensi Shreya. Gadis itu berlari menuju gerbang untuk membuka pagarnya lebar. Dia akhirnya bisa bernapas dengan lega ketika melihat mobil mamanya berada tepat di depan mata.

"Astaga! Mama ke mana aja? Kok nggak bilang-bilang kalau mau pergi? Mana ponsel Mama nggak bisa dihubungi lagi. Mama tahu nggak, semua orang tuh khawatir nyariin Mama." Shreya berbicara dalam satu tarikan napas. Mengutarakan segala kekhawatiran yang seharian ini menyelimuti hatinya.

Amarta yang gemas melihat raut putrinya malah tertawa. Wanita itu keluar dari mobil dan berdiri tepat di hadapan Shreya.

"Mama ... jangan kayak gini lagi. Kalau mau pergi itu bilang dulu, terus hape Mama kenapa nggak aktif? Aku telfonin berkali-kali nggak dijawab, chat juga nggak dibalas. Mama pergi ke mana aja seharian ini? Reya cariin ke butik juga nggak ada, di sana cuman ada Tante Zara."

Amarta terkekeh, dia mengelus rambut Shreya kemudian membawanya ke dalam pelukan hangat.

"Mama cuman ketemu sama teman lama Mama, Sayang. Saking keasyikan ngobrol sampai jadi lupa waktu tadi," ucapnya diiringi sebuah senyuman.

Shreya cemberut. Merasa tak puas dengan jawaban yang diberikan mamanya. "Terus kenapa Mama nggak bilang dulu sama Reya kalau mau pergi? Reya, kan, jadi khawatir, Ma.

"Iya Mama minta maaf, Sayang. Mama lupa, hape Mama ketinggalan di rumah. Maaf udah buat putri Mama khawatir." Amarta mencubit gemas hidung Shreya. Wanita itu mengulas surai panjang Shreya dengan tatapan yang sulit diartikan.

* * *

Malamnya, Shreya tidak bisa tidur. Gadis itu bergerak gelisah dalam selimut tebalnya. Berbagai cara agar cepat tidur sudah ia lakukan, mulai dari mematikan lampu, mendengarkan lagu pengantar tidur, hingga berpindah posisi, yang asalnya posisi kepala di bantal jadi pindah di kaki dan sebaliknya.

Shreya mendesah. Gadis itu menyerah dan menyingkap selimutnya kasar. Ia lantas menyalakan lampu dan melirik sekilas jam di dinding. Pukul 12 malam. Astaga, ini sudah malam, tapi kenapa matanya tidak kunjung memberat?

Lama Shreya terduduk dalam hening. Semua orang sudah berisitirahat, dan hanya detik jarum jam dalam ruangan yang terdengar.

Lalu, tiba-tiba Shreya mendengar suara benda jatuh dari lantai bawah. Gadis itu mengerutkan kening. Suara apa itu? Mengapa terdengar seperti suara pecahan kaca?

Prang!

Lagi, suara itu terdengar. Bunyinya sangat jelas, membuat Shreya meringis karena dia membenci suara pecahan seperti itu.

Mencoba memberanikan diri, Shreya turun dari atas kasur. Ia hendak mencari sumber suara itu, untuk memastikan ada penjahat yang menyelinap ke rumahnya atau tidak.

Shreya berjalan mengelilingi rumah. Namun, ia sama sekali  tidak menemukan sesuatu yang pecah. Semua barang tertata rapi di tempatnya masing-masing.

SHREYA [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang