18. Kekecewaan Kinan

580 73 14
                                        

"Berlin, kamu duluan aja ke kantin, aku ke toilet dulu."

Berlin menoleh. "Nyusul nanti, ya?"

Shreya menganggukkan kepala. Setelahnya, gadis itu melenggang menuju toilet sekolah.

Shreya menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Gadis itu mengoleskan lip balm pada bibir pucat nya. Berharap warna kemerahan sedikit terbit di sana. Agar orang-orang tidak mengiranya seperti mayat hidup.

Helaan napas panjang terdengar keluar dari mulut Shreya. Sebelum akhirnya gadis itu berniat keluar kamar mandi. Namun, saat hendak membuka pintu toilet, seseorang lebih dulu menghentikan langkah kaki Shreya dengan perkataannya.

"Nggak nyangka, ya, Shreya ternyata bermuka dua." Celetukan itu berasal dari seseorang yang baru saja  keluar dari bilik kamar mandi.

Shreya terdiam. Dia lantas berbalik, menatap Kinan dengan pandangan terkejutnya.

Kinan melewati Shreya dengan santai. Gadis itu mematut dirinya di depan cermin. Mencuci tangan lalu mengeringkannya dengan ekspresi pongah.

"Maksud kamu?" tanya Shreya tidak mengerti.

Kinan terkekeh pelan. Gadis itu lantas menatap Shreya dengan pandangan mengejek.

"Kalau yang ini beneran polos atau pura-pura polos?" Kinan tersenyum sinis, membuat kening Shreya semakin mengkerut dalam.

"Bicara yang jelas, Kinan," pinta Shreya.

Kinan tentu dengan senang hati akan mengutarakan segala kekesalannya.

"Kinan yang kemarin aku temuin di taman sekolah itu, ternyata bermuka dua, wow!" Kinan berseru. Gadis itu melangkah hingga berdiri tepat di hadapan Shreya.

Shreya terdiam. Mulutnya membisu dengan tatap yang tak lepas dari sosok Kinan di hadapannya.

"Kemarin kamu cuman pura-pura, kan? Kamu sebenarnya lagi ngejek aku, karena aku habis di tolak Jav."

Shreya menggeleng. Dia sama sekali tidak ada niatan untuk mengejek Kinan. Untuk apa juga? Dia bukan tokoh antagonis yang sampai hati melakukan hal seperti itu.

"Aku sama sekali nggak berniat ngejek kamu. Toh, ada perkataan aku yang buat kamu merasa terejek? Enggak, kan."

Kinan berdecih. Gadis itu semakin menyudutkan posisi Shreya.

"Gimik, Shreya. Kamu pura-pura baik, pura-pura simpati, padahal aslinya kamu menusuk dari belakang," kata Kinan. Menatap Shreya tajam.

Kinan menggeleng keras. "Aku nggak merasa kayak gitu."

Kinan menyeringai. Gadis itu sedikit menjauhkan posisi tubuhnya dari Shreya. "Selain bermuka dua, kamu juga munafik, ya. Wow, paket komplit."

"Ada perbuatan aku yang buat kamu ngerasa nggak nyaman?" tanya Shreya berhati-hati. Barangkali dia melupakan sebuah kesalahan.

"Kali ini nambah sikap gatau diri," ketus Kinan. Bermaksud menyindir sikap Shreya.

Shreya menghela napas panjang. "Aku bener-bener nggak tahu di mana letak kesalahan aku, Kinan. Maka dari itu, kamu kasih tahu aku, biar bisa aku perbaiki."

Kinan terkekeh. Ia kembali menyudutkan Shreya di ujung tembok kamar mandi.

"Kamu ternyata emang bener-bener nggak sadar diri." Kinan menunjuk Shreya dengan jari telunjuknya. "Aku benci sama kamu, Shreya. Kamu itu munafik!"

"Bisa-bisanya aku nangis-nangis di depan orang yang disukai gebetan aku sendiri." Kalimat yang diucapkan Kinan membuat tubuh Shreya membeku. Gadis itu terpaku dengan jantung berdegup hebat.

"Kenapa diam?" tanya Kinan. Menatap Shreya tajam. "Bener, kan? Jav kemarin nembak kamu. Aku lihat dengan mata kepala aku sendiri, Reya."

"Bisa-bisanya dia malah suka sama kamu."

"Kinan, aku bener-bener nggak tahu." Shreya lirih. Sorot kecewa yang Kinan beri terlihat begitu menyakitkan.

"Nggak tahu kalau Jav suka sama kamu?" Kinan berdecih. Membuat Shreya kembali diam membisu.

"Munafik!" Kinan mendorong kepala Shreya dengan satu jari, setelahnya gadis itu melenggang, meninggalkan Shreya seorang diri dengan perasaan sesak di dalam dada.

Tubuh gadis itu terasa lemas. Shreya mencengkeram erat bibir wastafel saat pusing mendera kepalanya. Gadis itu meringis, sebelum penglihatannya terlihat buram dan kesadaran Shreya pun hilang sepenuhnya.

* * *

"Aaa!" jeritan seorang siswi terdengar menggema di lorong yang cukup sepi itu.

Tidak lama, dia berlari keluar menuju keramaian. Namun, baru saja langkahnya keluar dari lorong, dia tiba-tiba berpapasan dengan Dareen.

Dareen yang saat itu tengah melintas menatap siswi itu penuh kebingungan. Belum lagi saat melihat raut panik dari wajah siswi itu.

"Kenapa?" tanya Dareen, meski dia tahu dia siapa.

"Ada yang pingsan, di kamar mandi, tolongin." Deru napas siswi itu tidak beraturan.

Dareen mengerutkan kening. Namun, tidak urung ia berjalan menuju kamar mandi diikuti langkah gemetar siswi itu di belakangnya.

Dareen menyuruh siswi itu membuka pintu toilet perempuan. Tubuhnya seketika membeku ketika melihat Shreya terbaring lemah tidak sadarkan diri di lantai rumah sakit.

Dareen segera menghampiri Shreya. Mencoba membuatnya sadar.

"Shreya kenapa?" tanya Dareen, menatap lekat siswi itu.

Ia menggelengkan kepala. "Kakak kenal?"

"Dia temen sekelas saya." Dareen mencoba membuat posisi Shreya menjadi duduk bersandar ke tembok.

Gadis itu terdiam. "Aku nggak tahu, Kak, tadi aku baru mau masuk toilet, dan Kakak itu udah pingsan," jelasnya.

Dareen terdiam. Karena Shreya tidak kunjung bangun, akhirnya ia memutuskan untuk menggendong gadis itu. Membawanya menuju UKS untuk mendapat pengobatan.

"Tolong tahan pintunya."

- Bersambung -

Terima kasih sudah berkenan membaca.
Jangan lupa beri vote dan komentar, karena itu sangat berarti untuk aku 🤗

More info, follow
Instagram & TikTok @deardess806

SHREYA [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang