Reno mengemasi barang-barangnya dan segera menuju mobilnya, hari ini ada pertemuan penting dengan beberapa pembisnis ternama, jadi ia bergegas menuju kesana. Sesampainya disana sudah banyak yang berdatangan. Tiba-tiba ada yang menepuk pelan pundaknya, ia menolh dan mendapati juan sahabatnya.
"baru dateng ren ?" tanyanya.
"iya nih, tadi agak sibuk jadi agak terlambat"
"btw lo dateng sendiri ? istri gak diajak?" lanjut reno.
"dirumah lagi jagain sikembar, lo kapan nih nyusul ?" gurau juan.
Reno terkekeh, ada-ada saja sahabatnya ini. Juandra Adipati adalah teman sekelas saat kelas 10 tapi juan harus pindah saat kelas 11 dan mereka baru bertemu saat duduk dibangku kuliah. Juan memang dekat dengannya tapi kalau soal keluarga juan tidak tahu sama sekali, bahkan ia tidak mengenal orang tua reno.
"nanti pasti kok ju kalau jodohnya udah datang" jawabnya sekenanya.
Tanpa sepengetahuan mereka ada seorang laki-laki yang menatap meraka dengan pandangan nanar, lebih tepatnya kearah reno. Dengan perlahan ia melangkah mendekati mereka. Juan yang memang menghadap kearah reno tersadar duluan dan berniat untuk menyapa lebih dulu namun suara lelaki itu membuatnya membatalkan niatnya.
"reno" panggilnya pelan.
Dalam sekejap tubuh reno menegang, ia hafal betul suara ini, suara yang sangat ia benci namun juga suara yang sangat ia rindukan. Ia tetap mempertahankan posisinya enggan untuk menoleh barang sedikitpun meskipun nyatanya hatinya memberontak. Menyadari suasana yang tidak kondusif baginya juanpun undur diri.
"saya pamit dulu pak arga" ujarnya sopan lalu beralih pada reno " gue duluan ren" ucapnya.
Namun reno tetap bergeming membuat juan makin dilanda kebingungan melihat tingkah sahabatnya namun ia tetap pergi, ia yakin reno akan baik-baik saja karena sepertinya pak arga mengenal reno.
Setelah kepergian juan reno juga berniat pergi namun lagi-lagi suara arga mengintrupsinya "kamu tidak rindu papa reno?" tanya arga.
Entah mengapa ditelinganya suara pria tua itu terdengar bergetar, arga membalik tubuh reno agar menghadapnya dan mengusap lengan putranya "anak papa sudah besar, sudah jadi CEO papa rindu sekali nak" ucapnya lagi.
"buat apa saya merindukan anda ? bukankah saya bukan siapa-siapa anda" ucapnya sarkas.
Sungguh saat ini emosinya sedang memuncak, rasa sakit yang selama ini ia pendam kembali mencuat saat melihat wajah sang ayah,perlakuan papanya, bentakan itu semua seperti berputar dalam oataknya.
"kamu anak papa reno, selamanya akan seperti itu" ujar arga tegas
"setelah semua yang anda lakukan masih bisa anda mengatakan hal itu" ujarnya penuh penekanan.
"kamu nggak tahu ren, papa tidak bermaksud_"
"CUKUP!" ucapan arga terpotong oleh teriakan putranya.
Wajah reno merah padam, tanpa terasa air matanya juga menetes membuat dada arga merasakan sesak melihat betapa hancur putra sulungnya. Persetan dengan tatapan semua tamu ia hanya ingin ini berakhir. Saat arga ingin menyentuh lengannya ia segera menghindar.
"berhenti ! jangan sentuh saya, saya tegaskan saya bukan putra anda jadi jangan sekali-kali mengusik kehidupan saya" ucapnya tegas sebelum berlalu dari sana dan diikuti oleh juan yang sejak tadi mengawasi sahabatnya dari jauh. Meninggalkan arga yang masih menatap dengan pandangan nanar tubuh tegap putranya yang menjauh.
"maafkan papa kak" gumamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
REALLY LOVE YOU
General Fiction"remaja manis dan imut " itu adalah kata yang selalu diucapkan pada anak itu oleh semua orang yang melihatnya , semuanya menyayanginya dan akan langsung jatuh cinta padanya. "afa, namaku adalah afa salam kenal semua !!!! "
