DUA PULUH SEMBILAN

353 14 0
                                        

Reno terbangun dari pingsannyam ia menatap sahabatnya yang tertidur disofa single kamarnya. Kasihan sahabatnya pasti ia kelelahan menjaganya semalaman belum lagi ia merasa sungkan pada istri juan. Reno kekejamkan matanya menyelami hidupnya hampir kacau balau saat itu, ah harusnya ia bahagia karena sekarang hidupnya sudah damai, seperti kata pepata pasti ada badai setelah hujan.

Tak mau berlama-lama terbelenggu dalam masa lalunya ia segera beranjak dari kasurnya dan membangunkan juan.

"ju bangun " ujarnya menggoyangkan lengan juan.

Juan melenguh "eh udah bangun lo"

"hem"

"mandi sono bau banget lo" ujar reno 

"ck iya iya, lo juga mandi gih habis itu makan gue udah siapin" sahut juan sambil mengusap kepala reno.

Tubuh reno langsung menegang, hatinya menghangat "apansih emang dikira gue anak kecil apa" elaknya.

Juan terkekeh lalu melangkah pergi meninggalkan reno yang masih bergulat dengan pikirannya. Jujur reno rindu perlakuan seperti itu, dulu papanya selalu melakukan hal itu. Hatinya memang menolak untuk memaafka kesalahan papanya tapi hatinya juga tidak berbohong kalau dirinya begitu merindungan tangan hangat papanya.

"reno kangen papa" ucapnya lirih memandang nanar pintu kamar mandi yang masuki juan.

Sedangkan disisi lain seseorang sedang memandangi foto reno dan radit saat sang kakak baru masuk sekolah dasar, reno memakai seragan sedang radit memakai setelan yang berwarna sama. Ia ingat saat itu radit juga ingin sekolah tapi karena kondisinya tidak memungkinkan dirinya dan sang istri memutuskan untuk homeshcooling saja, dan berjanji kan membelikan baju yang sama dengan seragam kakaknya untuk dipakai mengantar reno.

Sungguh itu adalah momen terindah saat melihat senyum lebar kedua buah hatinya.

"papa rindu sekali sama kamu kak" gumamnya pedih

Hatinya sakit saat medapati putranya membencinya karena keslahannya sendiri, seperti ada sebilah pisau tajam yang menusuk jantungnya berkali-kali.

"putra kita sudah besar sayang dan dia membenciku" lirihnya memandang foto mediang istrinya yang tepasang apik diatas nakasnya.

Tanpa sadar air matanya menetes, ia menangis tanpa suara namun mampu membuat seseorang yang sedari tadi mengintip dibalik pintu yang sedikit terbuka itu ikut merasakan sesak. ya, seadari tadi radit menjadi penguntit ayahnya.

"maaf pa" lirih radit.

REALLY LOVE YOUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang