33. come back to life

189 21 8
                                        


Happy reading!!

Dua jam mereka menunggu namun dokter yang berada di dalam belum kunjung keluar, Taeyong sudah menggigiti kuku jarinya, gugup, takut menjadi satu.

Bahkan Taeyong dan Jongin tidak saling menguatkan, mereka hanya saling menatap satu sama lain tanpa pembicaraan.

Sedangkan di dalam ruangan, mereka sedang berusaha menyelamatkan Joon namun Tuhan berkehendak lain, Joon telah tiada tepat pada pukul 13:49.

Tubuh Joon telah di tutup dengan kain putih "selamat jalan anak pintar."

Cklek!

Pintu ruang operasi terbuka menampilkan sang dokter dengan wajah lesu. Jongin dan Taeyong segera menghampirinya, raut khawatir terlihat jelas.

"Maaf."

Tidak, bukan kata itu yang mereka semua ingin dengar, ini membuat Taeyong sedikit limbung namun tangan Jongin menahannya di belakang punggungnya.

"Tuan muda tidak bisa di selamatkan, racun yang berada di tubuhnya sangat cepat menyebar pada organnya, kami sudah mencoba semaksimal mungkin tapi kehendak Tuhan berkata lain."

Tangis Taeyong kembali pecah, tangisan yang menyayat hati, tangisan seorang ibu yang di tinggal oleh sang anak "JOON MASIH HIDUP!!" Teriaknya di sela-sela tangisnya, dia terjatuh ke lantai, menendang apapun di sekitarnya bahkan tak ayal Jongin juga terkena tendangannya, "JOON MASIH HIDUP YAA!! HAHAHA DOKTER TIDAK BOLEH BERCANDA!!" Teriaknya lagi, dia mencengkram kuat rambutnya dan menariknya hingga ada beberapa rambut yang terlepas.

Tatapan Jongin menyendu namun ia tidak bisa apa-apa, ini takdir Tuhan, bisa apa Jongin tentang sebuah nyawa. Jongin menekuk lututnya, memaksa Taeyong untuk menatapnya "dengarkan aku sayang, biarkan Joon pergi, relakan Joon pergi."

Plak!

Taeyong mendelik kesal setelah menampar pipi Jongin walaupun tak kuat "aku membenci orang yang mengatakan Joon ku telah pergi, dia tidak pergi, dia masih hidup, dokternya saja tidak becus." Cercanya.

"Ayo kita lihat Joon untuk terakhir kalinya." Ajak Jongin, tanpa rasa sakit, tamparan Taeyong tidak ada apa-apanya di banding dengan perasaan Taeyong yang terluka.

Jongin hendak mengangkat Taeyong namun dia menolak dengan menjauh "aku tidak mau, Joon sedang bermain di rumah, aku ingin pulang dan menidurkannya." Taeyong jika kau begini terus kau akan membuat seluruh orang menangis melihat kondisimu. Lihat saja bahkan nyonya Lee dan nyonya Kim sudah menangis tersedu-sedu menatap Taeyong yang seperti itu, ingin ikut menangkan namun Jongin melarangnya.

"Ayo sayang, Joon pulang, dia bahagia." Ajak Jongin sekali lagi.

"JOON BAHAGIA BERSAMA DIRIKU HYUNG!!" Teriaknya, "hiks, Joon tidak pergi, dia masih hidup, dia tadi masih minum susu, bahkan dia belum menyusu, bagaimana bisa dia tertidur, sebentar lagi dia akan menangis dan mencari diriku, iya dia akan menangis." Taeyong terlihat seperti orang yang frustasi, dia menabrak sang dokter yang berdiri untuk masuk ke dalam ruang operasi, "PERGI!! PERGI, JOON TIDAK BUTUH KALIAN!!" Teriaknya.

Jongin mengangguk "maaf, tapi beri dia waktu bersama Joon."

Taeyong membuka kain putih yang menutupi tubuh Joon, menatap wajah pucat sang anak menambah dirinya menangis kencang "kau tidak pergi kan nak? Kau masih ingin tinggal bersama mama kan? Joon mau susu sayang? Sebentar ya." Taeyong berbicara sendiri seolah Joon bisa menaggapinya, dia membuka seluruh kancing bajunya dan melepasnya, dia memeluk tubuh Joon yang sudah dingin, "hiks, Joon hangat sekali." Dustanya, dia tidak mau mengaku jika tubuh Joon sangat dingin, membeku layaknya mayat, putranya masih hidup.

Taeyong memberikan nipplenya pada mulut Joon tentu dia tidak merespon "ini kesukaan Joon, ayo sesap sayang, papa ingin merebutnya." Dengan tangan yang sedikit gemetar, Taeyong membuka mulut sang anak, memasukkan nipplenya pada mulut Joon bermaksud agar dia merespon dirinya, "kau senang? Joon senang bisa menyusu? Mama akan selalu memberikannya pada Joon, mama akan selalu menyanyikan lullaby indah tapi Joon harus bangun, ayo nak bangun, buka matamu hiks."

Jongin terdiam menatap kondisi Taeyong, sesayang itu dia pada Joon? Hingga Joon pergi Taeyong frustasi "maafkan aku." Salahnya yang tidak bisa menjaga Joon, racun itu, seharusnya dia tau dimana racun tersebut.

Taeyong mendekap tubuh Joon, menyanyikan lullaby dengan lirih di sela-sela isakannya. Menepuk pantat Joon dengan pelan "sebentar lagi Joon akan bangun kan?" Taeyong turun dari brankar, berjalan kecil dengan Joon yang berada di gendongannya, lullaby terus terdengar dari belah bibirnya, "Joon nanti mama dan papa akan mengajak Jook bermain ke taman bermain, membeli banyak mainan dan Joon bisa mrmakan es krim sepuasnya."

"Rambut Joon sudah panjang, bagaimana jika besok kita potong rambut? Joon juga mengatakan ingin permen kapas bukan? Setelah potong rambut kita akan membeli permen kapas."

"Joon, mama membeli pakaian bagus dari brand ternama, namun mama akan memberikannya jika ketika Joon bangun, bukankah Joon sangat suka dengan style? Ayo bangun, bajumu menunggu dirimu."

Sudah cukup, Jongin tidak tahan jika terus menatap pemandangan seperti ini, dia berjalan perlahan membuka pakaian atasnya, memeluk Taeyong dari belakang "Joon masih hidup sayang." Gumamnya, dia mengecup tengkuk Taeyong cukup lama, menyalurkan perasaan hangat pada dirinya.

Jongin berisik di depan Taeyong, mereka sama-sama bertelanjang dada, Jongin membika pakaian milik Joon, dia bertelanjang seluruhnya "jangan menangis." Jongin menghapus air mata milik Taeyong, menunjukkan senyuman tulus.

Jongin memposisikan Joon berada di tengah mereka, Taeyong yang menggendongnya sedangkan dirinya mendekap tubuh mereka berdua, menyalurkan kehangatan untuk tubuh Joon, walaupun sia-sia namun dia juga berharap Joon bangun untuk mereka.

Mereka berdua menatap Joon dalam diam, Taeyong terus mengecup wajah sabg anak dengan linangan air mata yang masih terlihat jelas, mereka lakukan ketika bayi baru lahir, berbagi kehangata yang biasanya anak kecil sukai. Jongin terus memeluk tubuh Taeyong menarik kepalanya untuk bersandar pada dadanya, menggoyangkan pelan tubuh Joon, nyanyian lullaby belum kunjung selesai, Taeyong terus bernyanyi walaupun isakannya lebih mendominasi.

Sedangkan di luar sana, semua orang terdiam, merasakan perasaan sedih bahkan terdapat beberapa orang yang telah menangis.

Jisung duduk di paling ujung, di sampingnya terdapat Jeno "hyung, di depan ku ada Joon."

"Hah?!" Pekik Jeno, "dimana? Kenapa aku tidak Melihatnya?"

"Dia di depanku, duduk di bangku kosong dengan, dengan kaki yang di silangkan dan di goyangkan." Jelas Jisung.

"Dia tidak mengatakan apa-apa"

"Dia hanya terdiam, wajahnya terlihat muram hyung."

"Coba kau tanyakan padanya."

"Sebentar ya hyung, aku coba." Jisung menatap lama ke arah arwah Joon di depannya, "tidak ingin kembali?"

Joon menggeleng "tidak tau, Joon bingung, kata paman tadi, jika Joon mau ikut bersamanya, Joon akan langsung ke surga, namun bagaimana dengan papa dan mama?"

"Jangan dengarkan dia, kau harus kembali."

"Sepertinya tidak, Joon akan pergi."

Wushh~

Joon hilang tiba-tiba dari hadapan Jisung, meninggalkan Jisung dengan wajah yang kembali muram.

"Bagaimana kata dia?" Tanya Jeno penasaran.

"Dia tidak akan kembali hyung."

Kembali ke Taeyong dan Jongin yang masih saling berpelukan, mengelus wajah Joon yang seputih susu dan sehalus kapas "tidaklah dia tampan hyung?"

"Sangat, dia mirip dirimu namun dia akan besar dengan tampan."

Mereka terus bergerak pelan hingga Taeyong terdiam membeku, dia rasa nipplenya ada yang menghisap, Taeyong menatap ke arah bawah secara perlahan hingga dua kembali terisak tiba-tiba "hiks, Joon kembali hyung." Harunya, Joon langsung menghisap nipplenya dengan keras, "pa-panggil dokter hyung." Perintahnya.

Bersambung...

Secret Love [Kaiyong](end) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang