Dita melongo memeperhatikan pemandangan yang terjadi di depannya yang entah bagaimana terasanberjalan dengan lambat, dalam mode slow motion.
Appa yang sedang memangku adit dan seon bersamaan, eomma yang sedang mengupas jeruk, seokjung yang sedang bermanja kepada istriya, dan terakhir seokjin yang memandangnya terus menerus dengan senyum merekah kaya orang gila.
Rasa rindu dan senang merambat perlahan menyergap hati dita setiap kali dita menatap seokjin.
"Ini benar benar rencana yang buruk. Kenapa aku pergi ke sini?" Ucap dita lirih.
Dita sekali lagi memperhatikan riuh rendah yang terjadi di ruang tengah.
"Kenapa jadi seperti ini? Apa yang terjadi? kenapa aku tertahan disini?" dita mendengus kesal dengan penuh pertanyaan.
Pikirannya kacau. Semua tak berjalan sesuai rencana. Entah harus senang atau sedih.
Dia tak habis pikir bahwa semua anggota kim telah berkumpul menjadi satu di rumah keluarga kim dan sedang duduk di ruang tengah.
Setelah berdebat dengan seokjin, dan mencoba pergi, dita malah tertahan karena seokjung, istri, dan anaknya tiba di rumah. Mereka bertemu di pintu depan, dan itu membuat seokjin berhasil menahan dita pergi. Ditambah dengan tuan kim yang hari ini pulang cepat. Lengkap sudah. Tidak mungkin juga dia langsung ngeloyor pergi. Dita sangat menghormati appa, jadi dia memutuskan untuk tinggal dan menyapa appa
Appa memegang tangan dita erat.
"Gomawoyo sudah melahirkan dan merawat cucuku." Ucap appa dengan senyum bijak
Dita hanya mampu tersenyum.
"Ternyata kabar tentangku dan adit tersebar secepat kilat bagai api. Jangan jangan member secret number juga sudah tau keberadaanku di korea." Dita menggeleng tak percaya.
Nyonya kim melirik wajah dita yang pias dengan senyum simpul
Sedangkan seokjin mulai mendekat ke arah dita.
"Dita-ya" seokjin meraih tangan dita dan menggegamnya erat.
Dita menoleh dan memandang seokjin dengan wajah tanpa ekspresi
"Malem ini tidur di sini ya." Seokjin merayu
"Sirro..."
"Tidur sini." Seokjin ngotot
"Sirro..." ucap dita penuh penekanan dan menatap tajam seokjin
Seokjin menatap dita sedih.
Dita mencoba melepaskan pegangan tangan seokjin. Namun semakin kuat dita berusaha, semakin kuat genggaman seokjin.
"Oppa...lepas...sakit..." dita memelas
"Aku lepas...tapi janji dulu mau menginap di sini." Ucap seokjin tegas.
Dita terdiam menimbang segala kemungkinan. Belum sempat memutuskan, ahreum sudah menarik dita.
"Dita...ayo kita siapkan makan malam"
Dita menurut saja ajakan ahreum dan mengekor menuju dapur. Bersyukur dia bisa terlepas dari kungkungan seokjin.
"Dita potong sayuran aja, aku siapkan bumbu dan dagingnya."
"Nnee...." jawab dita mengerti.
Sambil membersihkan sayur dan memotong serta menatanya rapi di piring, dita mengawasi adit yang sedang asyik bermain dengan seon.
Adit selalu mengekori seon kemanapun dia pergi. Mereka berbicara dengan bahasa masing masing dan ajaibnya mereka bisa berkomunikasi dengan lancar dan memahami apa yang dimaksud. Dita tersenyum melihat tingkah laku 2 balita itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unconditionaly Love [Complete]
FanfictionCinta atau bukan, semuanya sudah terjadi. Dan sebagai orang dewasa, aku harus mempertanggung jawabkan akibat daŕi perbùatan yang suďah aku lakukan
![Unconditionaly Love [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/323788193-64-k696060.jpg)