9. He is not Mine

518 74 56
                                        

Dita memencet bel pelan pintu apart seokjin. Walaupun dia hafal nomor pin apart seokjin, namun kali ini dia tak punya kekuatan untuk memasukkan nomor pin apart seokjin. Dirinya diliputi kegelisahan dan rasa gugup yang luar biasa.

Sebelumnya, dita meminta pendapat lea, apakah dia perlu memberitahu seokjin atau tidak tentang kehamilannya.

"Dia perlu tau, karena dia adalah ayah dari janin yang kamu kandung." Saran lea dengan serius

"Tapi unnie...aku tidak memiliki ikatan apapun dengan seokjin oppa."

"Ini bukan soal ikatan tapi soal tanggung jawab." Jawab lea bijak

"Unnie...nanti aku merusak hubungan orang."

"Pertama...kamu hanya perlu memberitahunya tentang kehamilanmu. Jelas???" Ucap lea sambil memegang kedua bahu dita dan menatap dita penuh kasih.

Dita mengangguk tanda mengerti.

Akhirnya dita memutuskan datang ke apart seokjin untuk memberitahu bahwa dia hamil, dari pagi dita berputar putar kota seoul sendirian dengan naik bus. Semua rute bus di seoul sudah dia naiki. Beberapa kali dia berhenti di suatu tempat sambil memandang orang yang lalu lalang. Sempat dia berhenti di sungai han, menatap panjang dan lebarnya sungai itu, dan dita merasa ingin menenggelamkan dirinya disana. Untungnya hati kecilnya dan ingatan akan mamanya membuat dia mengurungkan niat bodohnya itu.

Karena sudah capek berputar putar dan sakit kepala yang mulai mendera. Akhirnya dia menuju apart.

Dita sekali lagi memencet bel apart seokjin.

Lama tak ada yang membuka. Dita mencoba memencet lagi, namun belum sempat dia lakukan, pintu apart seokjin terbuka.

"Dita...." ucap seokjin

"Nuguya???" Suara perempuan dari dalam apart

Dan dita tahu kalau itu suara irene.

"Oppa...aku langsung pulang aja ya." Ucap dita

"Loch kok".jawab seokjin

Irene mendengar suara yang familiar.

"Dita..." irene melongok dari belakang seokjin. "Kebetulan kamu datang." Irene tersenyum sumringah."karena kamu sudah datang, aku rasa kamu bisa menjadi orang pertama yang mendengar kabar bahagia kami, kau tau...kami akan menikah karena aku sudah hamil 2 bulan." Ucap irene sambil memeluk seokjin mesra.

Dita kaget, dunianya serasa runtuh, hatinya terasa sakit, dia tertampar kenyataan, namun dia harus tetap memasang wajah bahagia.

"Oppa...irene sunbae...chukae" ucap dita dengan suara sedikit bergetar.

Dita melihat seokjin yang tersenyum tipis.

"Gomawo ditaya" jawab seokjin dengan sinar mata yang tidak dapat diartikam antara senang atau sedih.

Irene memperhatikan mimik muka dita dengan teliti. Irene tersenyum sinis dengan smirk kemenangan.

"Ahhh....ada pesan masuk...sepertinya lea unnie mencariku" dita pura pura menyibukkan diri mengecek pesan di hapenya.

"Sekali lagi...chukae...semoga acaranya lancar dan kalian hidup bahagia." Ucap dita yang mati matian menahan airmata.."aku pulang ya...bye.." dita sedikit menaggukkan kepala dan melambaikan tangan.

"Bye..." ucap seokjin dan irene berbarengan.

Seokjin melangkah dan ingin menggapai tangan dita, namun ditepis oleh irene. Seokjin terdiam dan hanya memandangi dita. Segera irene menarik seokjin dan menutup pintu apart.

Begitu pintu apart tertutup dan dita berbalik melangkah pergi, begitu juga airmata dita langsung berjatuhan satu persatu. Hatinya sakit, namun dia tidak bisa mendefinisikannya.

Unconditionaly Love [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang