Tawuran antar fakultas itu nyata; benar-benar terjadi di kehidupan nyata. Meski bernaung di satu kampus—almamater—yang sama, tidak menjadikan mereka memiliki satu visi dan misi yang sejalan. Konflik akan tetap ada. Perbedaan karena tidak sepaham hingga saling bergesekan, kemudian pecah menjadi permusuhan turun-temurun, bisa terjadi kapan saja. Sama-sama merasa paling benar. Batu ketemu batu. Hingga hanya membutuhkan suatu pemicu—yang mungkin sepele—untuk mengulang sejarah lama.
Tidak tahu bagaimana di tempat lain, tetapi di kampus ini, konflik yang selalu ada dari masa ke masa itu, terjadi di antara fakultas hukum dan teknik.
Beberapa bulan lalu, ketika fakultas teknik sedang heboh-hebohnya menjalankan tradisi arak-arakkan wisuda keliling kampus, kumpulan anggota pengurus BEM dari fakultas hukum, secara sadar menegur barisan paling belakang. Mars fakultas yang digemakan mahasiswa teknik itu terlalu berisik sehingga mengganggu ritual mengheningkan cipta yang sedang dilakukan untuk menghormati jasa para pahlawan yang menjadi bagian dari kegiatan pelepasan wisuda di fakultas hukum. Ya, sudah bisa menebak apa yang terjadi setelahnya, kan? Salah satu pihak merasa tersinggung, kemudian memutuskan untuk berdebat—kusir—dengan perwakilan masing-masing fakultas. Di saat para petinggi BEM sedang berusaha menyelesaikan masalah dengan jalur baik-baik, oknum yang sudah terlanjur tersulut emosinya, malah bergerak duluan dengan aksi anarkis.
Pos satpam yang terbakar entah karena ulah siapa, juga kaca jendela di beberapa gedung yang pecah karena lemparan batu, kini menjadi saksi bisu dari sulitnya kata damai diucapkan oleh kedua belah pihak. Harga diri fakultas sedang dipertahankan. Solidaritas sedang dijunjung tinggi. Tidak ada satu pun yang berniat untuk melunak apalagi mengalah. Justru, beberapa oknum terlihat menikmati perpecahan itu dengan memasukkan kepentingan-kepentingan terselebung ke dalamnya.
Halah. Ujung-ujungnya tetap saja: politik kampus. Memang benar kata orang-orang, kampus adalah miniatur—yang bersifat sedikit serius, banyak bercanda—dari suatu negara.
"Lo gila, ya? Turunin gue di sini!" Binar si anak fakultas hukum, dengan panik memukul lengan Aziel si anak fakultas teknik yang baru saja berniat untuk melanggar kesepakatan mereka di awal tadi. "Gue nggak mau dituduh pengkhianat karena kelihatan turun dari mobil lo!" omelnya sungguh-sungguh.
Aziel terkekeh lalu menginjak rem tepat beberapa meter dari pos satpam gosong—hasil mahakarya oknum fakultasnya—yang masih belum juga diperbaiki. Tentu saja, dia bercanda. Aziel masih ingin kembali kuliah di gedung jurusannya dalam keadaan hidup-hidup dengan tidak membuat masalah di markas musuh. Lagi pula, solidaritas itu harga mati! –dia juga tidak ingin dicap sebagai pengkhianat. Namun, membuat Binar panik, mengomel panjang-lebar seperti saat ini, jelas merupakan suatu hiburan mahal yang sulit sekali didapatkan sejak perselisihan yang terjadi di antara fakultas—dan mereka. Terutama setelah peringatan yang diberikan Darel beberapa hari lalu.
"Santai aja kali." Laki-laki itu memperhatikan Binar yang terlihat repot melepaskan seatbelt tanpa berniat untuk membantu. "Dikejar siapa, sih? Buru-buru amat."
"Gue telat, Anjing!" Click. Seatbelt itu berhasil juga terlepas. "Dan semua itu gara-gara elo!"
Aziel terkekeh. Ya, tidak salah, sih. Dia memang sengaja melewati jalan-jalan yang sudah dipastikan macet agar mereka terjebak di mobil ini lebih lama. Omelan sepanjang jalan yang diberikan Binar bagaikan musik kesukaan yang rasanya ingin ia putar ulang dalam keadaan loop. "Makasihnya mana woy?!" teriaknya setelah menurunkan kaca jendela tepat di saat Binar mulai berlari menjauhi mobil.
Aziel masih bisa melihat dengan jelas jari tengah itu ditujukan kepadanya meski Binar tidak ingin repot-repot untuk berbalik. Tersenyum miring, dia harus berterimakasih dengan Mama Jihan karena sudah memaksa Binar untuk masuk lagi ke mobilnya setelah sekian lama. Aziel tidak pernah menyangka mengamati punggung kecil yang berlari terburu-buru itu bisa membangkitkan mood-nya hari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Ruined by You
Fanfiction"Gue benci sama lo," yang diucapkan Binar tidak pernah berhasil membuat Aziel merasa gelisah. Mereka sudah terbiasa bersama. Eksistensi satu sama lain sudah terlampau mengikat. Sampai kemudian, keseriusan Binar di hari itu mulai membuat Aziel berpik...
![[END] Ruined by You](https://img.wattpad.com/cover/320971268-64-k546241.jpg)