21. Takut yang Ketakutan

564 67 15
                                        

TW // Mentions of Death , Heart Attack

***

Bersikap baik kepada Radi ternyata tidak menghasilkan hal apa pun yang terlihat signifikan.

Hari-hari Binar malah diajarkan untuk banyak bersabar; Radi itu usilnya sangat di luar nalar. Persis seperti bocil tetangga menyebalkan, yang orang tuanya nyaris tidak pernah di rumah, sementara tidak ada satu pun teman yang tahan berdekatan dalam waktu lama. Semua tingkah yang ia lakukan adalah demi mendapatkan perhatian siapa pun. Agar ada yang menyadari esksitensinya. Terutama Binar, yang sialnya malah terjebak di tempat magang yang sama dengan si Baby Nepo itu.

"Selama kuliah lo ngapain aja, sih? Masa bikin berita acara sesimpel ini aja nggak bisa? Ini bahkan udah ada template-nya, astagaa. Lo tinggal ganti poin-poin yang ini! Terus print!"

Sabar. Mencoba sabar. Tidak bisa sabar. Lalu mengomel. Begitu terus siklusnya.

Terima kasih kepada bapak dekan yang telah menyelipkan nama Radi sebelum memberikan surat izin persetuan magang kepada Binar. Ada kabar burung yang mengatakan bahwa Radi memang sengaja tantrum, menjadikan Binar sebagai persyaratan agar anak nakal kesayangan dekan itu mau melaksanakan magang dengan sungguh-sungguh. Nepotisme itu nyata. Dan laki-laki itu bahkan tidak pernah terlihat malu dalam menjalani hari-harinya.

"Kadang tidur. Kadang bolos. Kadang titip absen. Kadang keluar kalau udah lewat setengah jam pertama. Tergantung mood."

Lihat, kan? Binar sampai speechless.

Ikhlas tidak ikhlas, ia terpaksa mengambil alih pekerjaan itu demi menjaga nama baik almamater. Lagi pula, Binar tidak mau mencari masalah dengan dekan yang mungkin saja masih akan menjabat sampai tiba gilirannya untuk menyusun skripsi nanti. Orang yang punya kebiasaan power abuse seperti mereka itu bisa-bisa saja mempersulit usahanya lulus tepat waktu.

"Gue cuma butuh bantuan lo sampai tiga bulan ini. Nggak lebih." Omongan Radi yang kemarin itu akan selalu Binar pegang. "Gue juga tau kali. Lo ngeladenin gue karena mau manfaatin gue, kan?"

"Enggak, tuh."

"Nggak usah munafik." Tatapan nanar Radi pada layar ponselnya waktu itu cukup mengganggu Binar. Ekor matanya tidak sengaja menangkap nama Aan di bar notification. "Kalau magang gue nggak ada masalah, gue janji bakalan bantuin kalian."

"Gue nggak akan manfaatin lo."

"Lawak. Ya kali beneran mau temenan sama gue?"

"Memangnya nggak boleh?"

Hanya cukup sampai tiga bulan, kan?

"Nih, print sana." Wajah galak perempuan itu malah membuat Radi terkekeh, tersadar dari lamunan. "Masih tau caranya nge-print, kan?"

Radi mengangkat bahu. Dengan langkah gontai yang diseret, ia membawa flashdisk itu untuk dicolokkan pada komputer yang sudah terhubung dengan printer. Sambil menunggu, matanya terus mengamati setiap gerak-gerik Binar. Ia tersenyum miring. Sudah berlalu satu bulan, tinggal dua bulan lagi; semoga tidak berlalu dengan cepat.

"Hari ini giliran gue yang ikut ke pengadilan. Ngekorin Pak Lubis."

Perempuan yang baru merasa sedang diajak bicara setelah sekian detik itu, menaikkan alis. "Terus?"

"Info aja, sih." Radi berjalan mendekati meja Binar lagi. "Gue nggak akan kabur lagi."

"Ya? Oke." Binar menurunkan pandangan, ke layar laptop lagi. "Nice info."

[END] Ruined by YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang