Aziel tidak mengerti kenapa dirinya masih mengangkat telepon dari Lia setelah pertengkaran kesejuta kalinya dengan Binar. Baru tadi siang dia berkomitmen untuk tidak peduli dan membiarkan semuanya berantakan sesuai dengan keinginan Binar. Namun, yang dia lakukan sekarang malah berdiri menghadap jendela, mengamati perempuan yang baru saja masuk ke rumah itu.
Di seberang sana, suara Lia masih terdengar panik meski Aziel sudah menjawab pertanyaannya sejak beberapa detik yang lalu.
"Gue dari tadi mantau pergerakan ojolnya Binar. Jadi panik banget tiba-tiba hilang di tengah jalan. GPS-nya mati. Zenly-nya mati. Pas gue telepon, malah nggak diangkat sama sekali. Gue takut banget Binar kenapa-napa." Helaan napas Lia membuat Aziel tersadar dari lamunannya. "Tapi lo yakin, kan, Binar udah sampai rumah?"
"Iya."
Nada suara Aziel yang tidak terdengar malas, membuat Lia menelan kembali semua kalimat yang sebenarnya sangat ingin ia utarakan. Tadinya semoat hendak mengadukan Radi, tetapi tidak jadi. Mungkin Lia harus menunggu momen ketika kedua orang ini berbaikan. Atau setidaknya, ia harus mempertimbangkan adanya kemungkinan pertengkaran yang akan terjadi di antara Aziel dan Radi. "Kalau gitu ... makasih, ya, Ziel. Maaf ngerepotin."
"Bentar. Lia?"
"Iya?"
Hening. Sepertinya Aziel juga tidak tahu bagaimana caranya untuk meneruskan obrolan ini. "Nggak jadi," tutupnya kemudian.
Sudahi soal Binar.
Masih banyak yang harus Aziel pikirkan dalam hidupnya. Laporan pratikum yang tak kunjung usai, misalnya.
Besok-besoknya, semua sudah kembali normal. Dadanya terasa lebih ringan dengan Aziel yang tak mau lagi repot-repot mengejar Binar. Hidup Aziel memang tidak pernah tertata sebelum ini, tetapi setidaknya dia tidak harus memaksakan diri untuk menurunkan ego lagi. Keluar dari zona aman, melawan anger issue yang merepotkan itu, tidak perlu lagi Aziel lakukan. Let it flow. Let it flow. Masih ada laporan pertanggung jawaban BEM yang harus ia urus dalam beberapa minggu ke depan.
"Kantin nggak, El?"
"Nggak dulu. Gue mau rapat habis ini."
Natha menghela napas. Aziel terlalu sibuk menyibukkan diri akhir-akhir ini. Gyan yang jabatannya lebih tinggi saja tidak sampai sesering itu menghadiri rapat. Namun, meski sudah ingin protes sejak beberapa hari yang lalu, Natha masih tetap harus mengamalkan ucapan Kale, "Biarin aja." Aziel sedang dalam mode menahan diri yang kalau dipancing sedikit saja, akan sanggup meluluhlantakkan laboratorium dasar bagaikan angin topan.
Tidak ada pilihan lain selain menjaga jarak. Natha harus bersabar-sabar, melalui jam makan siangnya sendirian karena Gyan dan Kale yang memang sudah sibuk sejak dulu. Fase sok sibuk Aziel akan berlalu juga. Cepat atau lambat. Minimal sampai gejala tipesnya kambuh dululah.
Tugas. Rapat. Tugas. Rapat. Aziel bahkan hanya pulang ketika dirinya sudah merasa butuh untuk tidur. Dalam seminggu ini, hanya sekali dua kali ia mengobrol dengan Bunda dan nyaris belum ada bertegur sapa dengan Aya. Mahasiswa kedokteran itu kesibukannya berada satu tingkat di atas anak jurusan teknik yang aktif berorganisasi. Hal itu jelas membuat frekuensi pertemuan mereka semakin menipis di waktu-waktu tertentu. Bedanya, kalau Aya benar-benar sibuk, Aziel malah menambah-nambah kesibukan agar menjadi benaran sibuk.
"Abang udah ketemu Kayin minggu ini?"
Suara Bunda sebenarnya nyaris tidak terdengar, tetapi nama yang disebut-sebut, membuat atensinya langsung terkumpul. Berusaha abai, Aziel menggelengkan kepala. Ia berusaha mengingat-ingat pesan apa yang Bunda sampaikan sebelum ini. Rasanya cukup penting. Tapi apa, ya? Kenapa otaknya ini hanya terkoneksi begitu nama Binar muncul di tengah-tengah percapakan?
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Ruined by You
Fanfiction"Gue benci sama lo," yang diucapkan Binar tidak pernah berhasil membuat Aziel merasa gelisah. Mereka sudah terbiasa bersama. Eksistensi satu sama lain sudah terlampau mengikat. Sampai kemudian, keseriusan Binar di hari itu mulai membuat Aziel berpik...
![[END] Ruined by You](https://img.wattpad.com/cover/320971268-64-k546241.jpg)