Berkeliaran mencari keberadaan teman-temannya, merupakan hal yang sudah sangat biasa Natha lakukan tiap kali ia mulai merasa kesepian di tengah ramainya kampus. Terutama saat jam makan siang. Ketika perutnya sudah tidak bisa lagi diajak berkompromi. Ya, wajar, sih. Kan, memang Natha yang butuh. Yang aneh itu, jika temannya yang mempunyai inisiatif untuk menghampiri duluan. Terlebih jika orang itu adalah Aziel.
"Stop ngeliatin gue kayak gitu."
Seakan tersadar, Natha mengerjapkan mata. Dahinya masih mengernyit. Ingin sekali melemparkan pertanyaan yang mengganjal di kepala, tetapi sepertinya mood Aziel sedang tidak baik. Menyandarkan punggung ke sandaran kursi, Natha masih saja berusaha mengobservasi. Mencoba menarik garis merah seoalah-olah sedang memiliki otak seencer milik Kale.
Perasaan tadi pagi ini anak senyum-senyum mulu, dah. Kayak orgil. Alis mata Natha yang tebal, terlihat semakin menyatu seiring dengan bertambah kerasnya ia berpikir. Sekarang kenapa malah jadi kayak anak perawan lagi PMS?! Bipolar, kah?!
Tidak sampai semenit, Natha sudah memutuskan untuk menyerah. Hipotesis yang terakhir itu terlalu berlebihan. Dia saja tidak begitu yakin dengan definisi bipolar. Detik berikutnya, Natha mengibaskan tangan di depan wajahnya sendiri. Berusaha menghalau rasa frustrasi itu sebelum Aziel mulai menyadari—
"Apa? Mau nanyain apa?"
Terlambat.
Natha menyengir. Senyumnya selebar hingga Aziel bisa melihat gusi yang menjadi atap gigi-gigi besarnya. Dua di atas, yang ada di depan, terlihat seperti gigi kelinci yang semakin membuat kepolosannya mendominasi. Aziel tidak jadi marah. Dengan sabar berusaha mendengarkan ucapan dari temannya itu.
"Enggak. Gue cuma kaget aja ngelihat lo nyamperin gue duluan. Sebelum ini nggak pernah."
Duh. Perlahan, Aziel menurunkan ponsel, lalu menaikkan pandangannya; menatap Natha. Ada sedikit perasaan bersalah karena kalimat itu memang benar seratus persen. Aziel memang jarang mengandalkan Natha. Dia lebih sering mendatangi Kale karena merasa tidak perlu menjelaskan apa pun—Kale sudah mengenalnya sejak SMP. Lalu, jika merasa kesulitan perihal tugas kuliah atau program kerja BEM, Aziel akan menghampiri Gyan. Kalau ... Natha? Kapan, ya?
"Sorry ...."
"Ngapain minta maaf, njir. Dah biasa gue. No problem."
"Udah biasa bukan berarti bener, Nath. Gue minta maaf karena gue memang salah."
Natha kembali memamerkan cengirannya. Dia bingung. Belum ada manusia yang pernah meminta maaf dengan kesadaraan diri sendiri seperti yang dilakukan Aziel saat ini. Dari dulu, memang harus dialah yang berinisiatif untuk menghampiri orang-orang. Sebelum kembali dikucilkan. Terlupakan. Terabaikan. Natha sudah bisa beradaptasi dengan hawa keberadaannya yang tipis. Dan, jika tidak ingin hidup sendirian lagi, ia harus bergerak aktif untuk mendekati lebih dulu.
"Karena lo hobi makan, hmmm, kalau gue pengin makan dan bingung mau ngajakin siapa, nama lo harus ada di urutan pertama—"
"Nggak perlu janjiin sesuatu yang belum tentu bisa lo tepatin, lah. Gue nggak mau berharap."
Ini pertama kalinya Aziel dibuat mengatupkan bibir oleh Natha. Rasanya agak aneh. Ternyata memang sejarang ini Natha menyerukan protes. Natha cenderung pasrah dengan keadaan. Tidak pernah benar-benar memiliki ambisi selain lulus dengan waras dari kampus ini.
"Tapi boleh. Gue memang hobi makan."
Aziel tersenyum tipis. Kalau tidak bisa berjanji ke Natha, ia akan berjanji kepada dirinya sendiri. "Jadi mau nanya, nggak?"
"Oh!" Natha kembali menyatukan kedua alis. Ia mencondongkan badan, meletakkan kedua tangan di atas meja kantin. "Lo habis berantem sama anak jurusan, ya? Apa anak BEM?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Ruined by You
Fanfiction"Gue benci sama lo," yang diucapkan Binar tidak pernah berhasil membuat Aziel merasa gelisah. Mereka sudah terbiasa bersama. Eksistensi satu sama lain sudah terlampau mengikat. Sampai kemudian, keseriusan Binar di hari itu mulai membuat Aziel berpik...
![[END] Ruined by You](https://img.wattpad.com/cover/320971268-64-k546241.jpg)