11. Ganti Strategi

495 89 16
                                        

"Drama amat hidup lo."

Iya, emang, Aziel membenarkan dalam hati. Ia baru saja melemparkan ponsel ke sofa setelah menelepon Darel di depan teman-temannya. Kalimat Kale ia telan mentah-mentah tanpa niat untuk protes. Dengan kepala yang berdenyut—pening, Aziel ikut menjatuhkan diri pada sofa rumah Natha yang empuk. Begitu manik matanya bersitatap dengan langit-langit rumah, suara Gyan ikut-ikutan melesat masuk ke telinganya.

"Beasiswa dilepas. Binar dilepas. Udah nggak ada niat melanjutkan hidup apa gimana?"

"Main character syndrome nggak, sih?" Kale menyahuti, seolah-olah Aziel sedang tidak berada di ruangan yang sama dengan mereka. "Protagonis yang hidupnya dibuat menderita. Nggak berdaya. Sok-sokan pasrah sama takdir—"

"Gue bisa denger semuanya, Le, kalau lo lupa."

Kale tersenyum miring, membalas tatapan tajam Aziel dengan santai. "Sengaja."

Natha bergidik, mulai merasa ngeri. Terakhir kali mereka ada di situasi ini—saling melemparkan kalimat sarkas—Gyan dan Aziel berakhir babak belur lantaran tinju masing-masing. Hidung Gyan nyaris patah. Sudut bibir Aziel pecah. Dua orang yang emosinya selalu menggebu-gebu itu, terpaksa dilarikan ke IGD sebelum salah satu berubah status menjadi tersangka pembunuhan.

Duh, seorang NPC seperti Natha bisa berbuat apa, ya? Jangankan didengar suaranya. Natha yakin, sekarang saja, dirinya sudah menjelma menjadi sosok transparan yang tidak diperhitungkan keberadaannya. Tapi, kalau dibiarkan terus, rumahnya ini akan menjelma menjadi tempat kejadian perkara. Siaga satu.

"Situasinya nggak akan kayak gini kalau lo nggak nelpon Binar kemarin." Aziel menegakkan duduknya. Sudah tidak bisa lagi mengabaikan sikap Kale yang mulai melunjak. "Lo yang ngacau."

"Lah? Binar harus tau kali. Lo itu memang manusia temperamental yang udah nggak bisa dinasehatin."

"Terus kalau lo jadi gue, lo bakalan gimana? Diem aja gitu?"

Kale mengangkat bahu. "Yang jelas gue nggak akan mukulin anak orang, sih."

"Anjing!"

"Le."

"El."

Suara Gyan dan Natha saling tumpang tindih begitu Aziel berdiri. Sedang Kale malah maju selangkah, balas menantang.

"Apa? Mau mukulin gue juga?"

Helaan nafas frustrasi terdengar dari Aziel. Ia menggeram, membelakangi Kale untuk menendang sudut sofa—melampiaskan kekesalannya. Meski sering mengandalkan tinjunya, tetap saja ada orang-orang tertentu yang tidak akan berani ia sentuh. Salah satunya Kale Mahindra. Aziel menghormati semua kenangan baik yang mereka miliki sejak zaman sekolah. Kale berperan penting dalam kelangsungan hidup Aziel di masa-masa terkelamnya. Sebagai balasan, jika Kale menginginkan bulan, maka Aziel akan mewujudkannya.

Berlebihan memang. Tapi Aziel memang seroyal itu kepada orang-orang yang tidak pernah meninggalkannya. Maka, tidak aneh jika Aziel sangat patuh pada Darel yang sering sekali ikut campur. Darel dan Kale sama pentingnya. Seperti kehadiran Binar dalam hari-hari bernyawa bagaikan zombienya; raga yang hidup tanpa jiwa.

"Guys, minum dulu mau, nggak? Air mineral dingin?" Natha bersuara takut-takut. Melirik Kale dan Aziel bergantian dalam posisi berdiri canggung. Tidak mendengar sahutan, ia akhirnya menjatuhkan pandangan ke Gyan. Mencoba mendapatkan validasi dari anggukan satu-satunya orang paling waras di ruangan ini agar ia bisa melancarkan aksi sosialnya; mengambilkan air minum dari kulkas.

"Gue udah janji nggak akan ikut campur lagi. Tapi gue rasa, gue tetap harus ngomongin ini." Gyan berusaha terlihat setenang mungkin. Mengabaikan decakan tidak suka dari Aziel karena sadar harus ada yang mengalah. Sebagai seseorang yang sudah terbiasa memimpin forum di lingkungan paling chaos sekali pun (baca: fakultas teknik), Gyan sudah tidak canggung berpura-pura menjadi yang paling kalem meski semua jenis kalimat umpatan sudah menggema di kepalanya.

[END] Ruined by YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang