13. Jeda di antara Hening

522 81 17
                                        

"Gue jemput."

"Gue bisa pulang sendiri—"

"Udah tau. Nice info." Aziel tersenyum. Menepuk-nepuk pelan puncak kepala Binar sebelum melanjutkan kalimat final—tidak mau disanggah darinya. "Tapi mending bareng gue, sih. Playlist di mobil gue bagus, ada banyak lagu Hindia. Kalau udah jamnya makan, kita bisa sekalian mampir di tempat enak tapi murah andalan gue. Terus apalagi, ya? Oh! Gue bisa jadi orang pertama yang nanyain 'Ada cerita apa hari ini Binar Karina? Ada yang nyebelin, nggak?' Terus lo bebas milih; mau ngomel sepanjang jalan, atau tidur ngediemin gue sampai di depan rumah. Oke, nggak?"

Binar speechless. Penjelasan panjang itu secara signifikan memangkas habis semua kalimat protes yang sudah terbiasa Binar layangkan jika harus berdebat dengan Aziel. Perempuan itu membuka mulut, menutupnya lagi ketika Aziel mendekat untuk melepaskan seat belt.

"Gue mau bilang, 'Nggak ada penolakan.' Tapi kalimatnya jelek banget. Kayak cowok red flag tukang maksa," katanya tepat setelah bunyi klik, lalu menjauh dari personal space Binar.

"Lah? Emang lo bukan?" Manik mata mereka bertemu.

"Apanya?"

"Cowok red flag tukang maksa?"

"Enggak gue, mah. Gue cowok baik. Apa sih itu sebutannya? Cowok green flag? Iya! Itu!" Aziel panik sendiri, sementara Binar malah tersenyum dengan mata yang masih memperhatikan setiap perubahan ekspresi laki-laki itu. ".... Intinya gue udah taubat. Asli. Gue udah bukan Aziel brengsek yang lo kenal waktu SMA. Lo boleh tanya Kale kalau nggak percaya." Detik berikutnya malah dibuat gugup sendiri begitu sadar Binar masih mencurahkan atensi kepadanya. "Per-caya, nggak?"

"Let's see." Binar yang akhirnya memutuskan tatap. Perempuan itu meraih tali totebag yang sempat melorot, memperbaiki posisinya di bahu kanan, lalu meraih ganggang pintu. Perasaan asing yang beberapa hari ini berusaha untuk ia abaikan, mulai muncul lagi ke permukaan. Akan sangat berbahaya jika eksistensi Aziel dibiarkan lebih lama berada dalam radarnya. Masalahnya, perasaan-asing-itu juga membangkitkan rasa takut yang akan sangat sulit untuk dijelaskan.

"Telepon gue kalau panitia udah dibolehin pulang. Samalem apa pun."

"Iya."

"Nggak perlu khawatirin Radi atau Darel—"

"Kak Darel."

Aziel merotasikan matanya, sedang malas menghormati Darel yang belakangan semakin rajin melewati batas. "Kalau jam 8 lo masih belum ada kabar, gue samperin. Gue tunggu di parkiran. Di spot yang ini persis."

Bawel banget kayak Papa. Yang sampai setelah Binar menutup pintu, tidak berani ia suarakan. Aziel tengah dalam mode melunjak hanya karena Binar membiarkan semua sikapnya. Salahkan pelukan yang ia terima di sore hari itu. Binar yang PMS, tidak bisa mencegah sisi sensitifnya hingga terlena dengan rasa aman—sementara—yang Aziel tawarkan.

Sialnya, perasaan kurang ajar itu malah bisa bertahan sampai berhari-hari. Sampai-sampai Binar sudah mulai malas untuk menghitung.

Salahkan Aziel. Salahkan Aziel.

Bahkan, efek obrolan tidak penting yang berlangsung di parkiran tadi, membuat Binar sempat lupa bahwa pagi masih belum menyentuh jam 7. Fokusnya baru kembali ke raga setelah mendapati sejumlah panitia mulai berkumpul di depan sekre; terlihat masih mengantuk lengkap dengan muka bantal karena tidak ikhlas harus bangun pagi-pagi sekali.

"Morning," sapa Lia malas.

Binar tersenyum tipis. Membalas dengan elusan hangat yang ia berikan pada punggung Lia. Sebuah apresiasi karena paham betapa bencinya Lia memaksakan diri untuk bangun sebelum matahari beranjak tinggi. "Udah sarapan?"

[END] Ruined by YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang