CW // slightly mature
***
"Lo pacaran, ya, sama Kak Kayin?"
Sempat terinterupsi kerjaannya, Aziel menggeleng. Pandangannya masih belum teralihkan dari tumpukan berkas selagi Aya menjatuhkan badan ke atas sofa. Perempuan itu menghela napas, kentara habis babak belur dihantam kehidupan kampus. Merasa tidak akan mendapatkan penjelasan apa pun, ia melemparkan satu pertanyaan lagi; memancing.
"Terus?"
"Bukannya mandi. Nyariin Bunda. Makan dulu, kek. Ganti baju dulu, kek."
"Ssssttt." Aya menegakkan badannya. "Rasa kepo gue ini udah nggak bisa dibendung lagi. Kayaknya, tuh, gue nggak akan bisa melanjutkan aktivitas hidup sebelum dapat klarifikasi dari lo-"
"Lebay." Aziel mengusapkan tangan kanannya ke wajah Aya agar adiknya itu berhenti mengoceh. "Cuci kaki dulu sana. Dih. Pulang dari kampus bukannya bersih-bersih. Badan lo tuh, kuman semua. Debu. Bakteri. Jorok."
"Is! Abang Iel! Gue seriuus." Dia sudah bersiap merengek ketika Aziel akhirnya menyela.
"Memang belum pacaran, Aya."
Yang ternyata masih belum juga memuaskan rasa penasaran Aya.
Semakin bertaut kedua alis Aya, semakin terkekeh Aziel. Ia sedang membayangkan bagaimana adiknya itu mengulang pertanyaan yang sama di kepala setelah penemuan-yang entah apa-hingga berakhir pada hipotesis berupa pertanyaan konyol itu. Aya bahkan rela menghentikan langkah di ruang tamu (yang berada tepat di hadapan pintu masuk)-untuk menguras habis sisa-sisa energi kehidupannya hanya demi mengobrol-begitu mendapati keberadaan Aziel alih-alih bergerak terus menuju kamar. Menginterogasi Aziel jauh lebih penting dibandingkan merebahkan diri di atas kasur!
"Itu jawaban serius padahal." Aziel memasukkan map-map itu ke ransel. Bersiap untuk pergi. Ia tersenyum miring sebelum akhirnya melanjutkan, "Tapi kalau ada yang nanya Kayin siapanya gue, gue bakalan jawab, 'cewek gue'."
"Dih?!" Aya ikut-ikutan berdiri. Berusaha mewujudkan bentuk protesnya. "Pede banget lo jelek???"
"Ssstttt. Dilarang protes." Jitakan pelan pada kepala Aya membuatnya meringis. "Lanjut ntar lagi. Mau pergi dulu. Bukan lo doang yang bisa sibuk. Gue juga."
Kalimat dan gelagat Aziel yang hendak berjalan menuju pintu, membuat otak Aya bekerja cepat; mengganti strategi. sudah ingin membuka bersuara lagi, tetapi gelagat Aziel yang hendak berjalan menuju pintu rumah membuatnya ikutan berdiri, mengubah strategi. Obrolan ini harus dipersingkat, langsung menuju inti.
"Bentar, Abang," cegahnya.
Aziel menoleh, menghentikan langkah.
"Lo lagi berantem sama temen lo, ya? Kok udah nggak pernah keliatan main bareng lagi?"
Laki-laki itu mengangkat alis. Dia tahu maksud dari pertanyaan itu. Yang lebih membuatnya bingung adalah, dari mana Aya tau? Dan sejak kapan Aya peduli?
"Maksud gue ... sama Kak Kale, Kak Gyan ... Kak Natha?"
Aziel berdecih, lalu menyandang ransel. "Temen temen tai kucing. Nggak butuh gue."
Nada bicara Aziel membuat Aya surut. Ia tidak punya pilihan lain selain mengatupkan bibir, menahan diri. Marahnya Aziel bukanlah sesuatu yang sedang ingin ia hadapi saat ini. Sesaat Aya mulai merasa bersalah; harusnya dia tidak merusak mood Aziel yang sepertinya sedang baik-baik saja setelah hampir dua mingguan ini terlihat tidak memiliki semangat hidup.
Satu langkah Aya bergerak maju, selangkah juga Aziel bergerak mundur. Laki-laki itu bersiap menepis tangan Aya yang terulur, di saat sebuah suara menginterupsi mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Ruined by You
Fanfiction"Gue benci sama lo," yang diucapkan Binar tidak pernah berhasil membuat Aziel merasa gelisah. Mereka sudah terbiasa bersama. Eksistensi satu sama lain sudah terlampau mengikat. Sampai kemudian, keseriusan Binar di hari itu mulai membuat Aziel berpik...
![[END] Ruined by You](https://img.wattpad.com/cover/320971268-64-k546241.jpg)