Berada di tengah-tengah orang yang sedang perang dingin itu bukanlah hal yang mudah. Bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi, bertingkah netral, dan berusaha untuk tidak ikut campur, sungguh menguras energi sosial Binar yang memang selalu sedikit itu. Binar sudah cukup hafal dengan tabiat marah dari kakak-beradik ini. Aya yang cenderung memberikan silent treatment, sangat bertolak belakang dengan Aziel yang cuek; tidak memiliki inisiatif untuk membujuk.
Sulit. Setidaknya, perang dingin ini akan berlangsung paling sebentar tiga hari. Dan Binar akan terjebak di antaranya.
Duh. Apa gue pingsan aja, ya?
Menggigit bibir, Binar melanjutkan sarapannya dengan gerakan kikuk. Roti bakar ini mendadak hambar tiap kali manik matanya terarah ke Aya yang menekukkan wajah sepanjang pagi. Sementara itu, ia mulai merasa waswas kalau-kalau Aziel yang pemarah, mendadak bersuara hanya demi memperparah suasana.
Sreet.
Punggung Binar ikut menegang begitu Aziel menggeser kursi untuk berdiri. Spontan ia mendongak, bertemu pandang dengan Aziel yang ikut menoleh karena merasa sedang ditatap. Mulut Binar yang terbuka—lantaran kaget—membuat Aziel menaikkan alis. Menunggu Binar yang ia pikir akan mengucapkan sesuatu.
"Apa?" tanya laki-laki itu nyaris tanpa suara.
Tersadar, Binar menggelengkan kepala. Buru-buru memutus kontak mata dengan memfokuskan perhatian pada garpu yang sedang ia pegang. Bisa-bisanya ia berharap Aziel akan menawarkan tumpangan hanya karena sedang menginap di rumah ini. Nyaris saja dia melupakan perang dingin yang juga berlangsung di antara mereka.
"Duluan." Aziel pamit setelah melirik Aya sekilas. Berjalan menuju pintu dengan menenteng laptop kesayangannya.
Tepat di saat suara mesin mobil mulai menjauh, helaan napas terdengar dari sisi Aya. Yang kalau Binar tebak, pasti disebabkan oleh rasa kecewa lantaran tidak adanya itikad untuk meminta maaf dari Aziel. Dengan bibir yang tertekuk ke bawah, Aya menusuk-nusuk roti bakarnya yang masih bersisa setengah.
"Pasti selalu gue yang harus reach out dia duluan. Capek juga lama-lama," katanya, entah bermaksud mengajak Binar terlibat dalam obrolan atau tidak. Yang jelas, Binar mulai serius menyimak saat kalimat kedua diucapkan oleh Aya. "Bang Iel tuh, kalau gue marah, dia malah ikut-ikutan ngediemin. Bukannya usaha ngebujuk."
"Beneran nggak pernah inisiatif nyamperin lo duluan?"
Aya menggeleng. "Tapi nanti pasti langsung baikan, sih, kalau gue udah bersuara. Cuma, ya, kayak ... nggak adil, weh? Capek gue."
"I know right? Aziel selalu gitu. Susaaah banget nurunin ego. Walaupun ujung-ujungnya tetep minta maaf, tapi, kan, kayak udah basi banget."
Kali ini Aya mengangguk dengan semangat. "Iya, kan, Kak?! Telat banget! Tiap berantem harus gue yang duluan nurunin ego."
Binar tersenyum tipis, merelakan telinganya untuk mendengarkan rentetan omelan dari Aya. Dia mengerti. Binar juga sudah paham dengan kebiasaan Aziel yang itu.
Dulu, sewaktu mereka masih sekolah, Aziel juga memperlakukan Binar dengan cara yang sama. Kalau Binar marah, Aziel akan menghindar. Kalau Aziel marah, Aziel juga akan menghindar. Aneh! Alibinya, sih, takut tidak bisa menahan diri, lalu keceplosan kata-kata kasar yang tidak seharusnya didengar oleh siapa pun. Salahkan tempramennya yang buruk. Aziel tipe yang sanggup memecahkan kaca dengan tinju jika sudah tidak bisa mengontrol emosinya. Dia tidak ingin hal-hal seperti itu terjadi di depan perempuan-perempuan yang ia hormati.
"Biarin aja dulu. Mungkin dia butuh waktu. Tunggu kepala kalian sama-sama dingin dulu," kata Binar. Akhirnya memutuskan untuk terlibat juga. "Atau, kalau lo udah mau ngobrol sama dia, sih, terserah. Udah siap buat nurunin ego?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Ruined by You
Fanfiction"Gue benci sama lo," yang diucapkan Binar tidak pernah berhasil membuat Aziel merasa gelisah. Mereka sudah terbiasa bersama. Eksistensi satu sama lain sudah terlampau mengikat. Sampai kemudian, keseriusan Binar di hari itu mulai membuat Aziel berpik...
![[END] Ruined by You](https://img.wattpad.com/cover/320971268-64-k546241.jpg)